Ekonesia – Pasar modal Indonesia menunjukkan dinamika menarik saat Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato kenegaraan di Gedung DPR pada Jumat 14 Agustus 2026. Sempat dibuka dalam tekanan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit dan menguat 0,13%, menutup perdagangan di level 6.307,19.
Baca juga: Harga Beras Aman? Bulog Yogyakarta Bergerak!
Awalnya, sentimen pasar pagi itu cenderung lesu. IHSG dibuka melemah tipis 0,08% atau 5,17 poin ke posisi 6.296,59. Para investor menanti dengan cermat kabar terbaru dari Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo yang memuat Nota Keuangan, serta masih mencermati hasil Morgan Stanley Capital International (MSCI) August 2026 Index Review yang telah diumumkan sehari sebelumnya.

Namun, seiring berjalannya pidato Presiden, kepercayaan pasar kembali tumbuh. Data perdagangan mencatat 254 saham berhasil menguat, sementara 358 saham terkoreksi, dan 351 saham lainnya stagnan. Volume transaksi mencapai 12,93 miliar lembar saham, dengan frekuensi mencapai 932,2 ribu kali, membukukan nilai transaksi sebesar Rp5,60 triliun. Ini menunjukkan adanya pergerakan signifikan di tengah pasar yang bergejolak.
Baca juga: Emiten Lo Kheng Hong Ini Diam-Diam Dapat Kredit Rp4,2 Triliun
Hari tersebut memang menjadi momen krusial bagi pasar keuangan Tanah Air. Sidang Tahunan MPR RI, yang dilanjutkan dengan Sidang Bersama DPR, MPR, dan DPD RI, menjadi panggung bagi Presiden Prabowo untuk menyampaikan Pidato Kenegaraan sekaligus memaparkan arah kebijakan fiskal pemerintah untuk tahun anggaran 2027. Peristiwa penting ini dimajukan dua hari dari jadwal biasanya pada 16 Agustus, mengingat tanggal tersebut jatuh pada hari Minggu.
Agenda Presiden Prabowo dibagi menjadi dua sesi utama. Pagi hari, beliau menyampaikan Pidato Kenegaraan yang menjadi sorotan publik. Kemudian pada siang harinya, Presiden melanjutkan dengan Pidato Pengantar/Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-Undang (RUU) APBN 2027, yang dibarengi dengan penyampaian Nota Keuangan. Kedua agenda ini memiliki peranan vital dalam menentukan arah ekonomi dan investasi di Indonesia ke depan.










Tinggalkan komentar