Ekonesia – Kekalahan mengejutkan 2-3 dari AS Monaco di Anfield, markas kebanggaan mereka, menjadi pukulan telak bagi Liverpool dalam laga pramusim perdana. Hasil ini bukan sekadar kekalahan biasa, melainkan sebuah cerminan jelas akan tumpukan pekerjaan rumah mendesak yang harus segera diselesaikan Andoni Iraola sebelum tirai musim 2026-27 dibuka.
Baca juga: 3 Juta Rumah: Prabowo Kejar Keadilan Ekonomi!
Sempat memimpin dua gol lewat aksi Alexander Isak dan Florian Wirtz, performa The Reds justru menurun drastis. Monaco tak menyia-nyiakan celah, membalikkan keadaan melalui gol-gol Aleksandr Golovin, Mika Biereth, serta Paris Brunner. Kekalahan ini semakin menyoroti sejumlah persoalan krusial dalam skuad. Meskipun Ronald Araujo dari Barcelona dikabarkan merapat dengan status pinjaman semusim, kedatangannya belum menjadi solusi tunggal bagi Iraola.

Pertahanan Liverpool Bak Kertas Tipis
Baca juga: Man City vs Juventus: Tiket Final atau Neraka Miami?
Liverpool memulai pertandingan dengan intensitas tinggi, persis seperti yang diinginkan Iraola. Mereka bahkan berhasil mencetak dua gol dalam 30 menit pertama. Isak membuka keunggulan pada menit ke-15, menunjukkan ketenangan luar biasa saat menuntaskan peluang. Wirtz kemudian menggandakan skor sebelum laga berjalan setengah jam, mengisyaratkan mulai terbentuknya koneksi apik antara dirinya dan Isak di lini serang.
Namun, masalah mulai muncul jelang turun minum. Pertahanan Liverpool tiba-tiba terbuka lebar saat Monaco mendapat kesempatan di kotak penalti. Virgil van Dijk, dalam penampilan perdananya di pramusim, melakukan blunder fatal berujung penalti. Gol Aleksandr Golovin dari titik putih memperkecil ketertinggalan Monaco.
Setelah itu, lini belakang Liverpool kian kacau balau. Mika Biereth memanfaatkan sentuhan buruk Ryan Gravenberch dan situasi yang tak terkendali setelah penyelamatan jarak dekat oleh Giorgi Mamardashvili. Skor pun berubah menjadi 2-2.
Liverpool kemudian kehilangan arah, sulit menguasai kembali permainan. Iraola melakukan enam pergantian pemain sekitar menit ke-60, termasuk memasukkan Rio Ngumoha, Trey Nyoni, dan rekrutan anyar Victor Munoz. Namun, perubahan ini tak membuahkan hasil signifikan.
Dua menit sebelum waktu normal berakhir, Paris Brunner memastikan kemenangan Monaco. Milos Kerkez dan Federico Chiesa gagal mengantisipasi bola sepak pojok, membuat Brunner dengan mudah menyundul bola di tiang dekat. Kehadiran Ronald Araujo memang dapat meringankan krisis cedera di lini belakang, tetapi kekalahan ini membuktikan bahwa persoalan Liverpool jauh lebih kompleks dari sekadar satu posisi.
Lini Serang Merana Pasca-Salah
Kepergian Mohamed Salah pada akhir musim 2025-26 meninggalkan lubang menganga di lini depan Liverpool. Mencari pengganti langsung untuk pemain yang selama sembilan tahun memecahkan begitu banyak rekor di Anfield jelas bukan perkara mudah. Oleh karena itu, Liverpool tampaknya perlu memikirkan perombakan lini serang secara lebih luas.
Nama Bradley Barcola mencuat sebagai target utama. Winger Paris Saint-Germain ini diperkirakan berbanderol lebih dari £110 juta. Barcola diharapkan mampu menambah daya gedor dari sisi sayap sekaligus membantu Liverpool mengatasi dampak kehilangan Salah. Kondisi ini kian mendesak setelah Hugo Ekitike mengalami cedera Achilles.
Liverpool juga dikaitkan dengan rekan Barcola di PSG, Ibrahim Mbaye. Rencana mendatangkan keduanya mengindikasikan bahwa Iraola tidak hanya mencari satu pemain untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Salah. Kedalaman di posisi sayap memang terlihat terbatas selama pramusim. Saat ini, opsi utama yang tersedia di area tersebut adalah Ngumoha yang baru berusia 17 tahun, pendatang baru Victor Munoz, serta Cody Gakpo, yang juga dikaitkan dengan Tottenham Hotspur.
Masalah kedalaman ini terasa nyata ketika Iraola mulai melakukan pergantian pemain. Liverpool mampu tampil agresif saat pemain utama di lapangan, tetapi mutu permainan mereka anjlok signifikan setelah sejumlah pergantian dilakukan. Laga melawan Monaco menjadi contoh terbaru.
Posisi Nomor Enam Masih Jadi Misteri
Lini tengah menjadi persoalan lain yang tak kalah penting. Sejak Fabinho hengkang pada musim panas 2023, Liverpool tak kunjung menemukan gelandang bertahan murni. Ryan Gravenberch, yang sempat dicoba di posisi gelandang bertahan di bawah Arne Slot, masih menuai kritik tajam soal kemampuan defensifnya.
Masalah Gravenberch bukan hanya soal bertahan. Liverpool juga dinilai kekurangan distribusi bola ke depan dari lini tengah ketika Curtis Jones tidak bermain. Situasi ini terlihat jelas saat menghadapi Monaco. Ironisnya, Jones sendiri sedang dikaitkan dengan kepindahan ke Inter Milan musim panas ini.
Jika Jones benar-benar pergi, urgensi Liverpool di lini tengah akan semakin nyata. Mereka membutuhkan gelandang bertahan yang bukan hanya kuat dalam tugas defensif, tetapi juga mampu mengalirkan bola ke depan dengan baik. Ini menjadi salah satu tantangan terbesar Iraola di bursa transfer.



Tinggalkan komentar