Perlakuan Tak Adil Mac Allister Terkuak

El-Shinta

9 Agustus 2026

3
Min Read

Ekonesia – Gelombang kritik yang menerpa Alexis Mac Allister di Liverpool musim lalu memicu perdebatan sengit. Sang gelandang Argentina, yang kerap menjadi sasaran utama, kini mendapat pembelaan dari legenda The Reds, Dietmar Hamann. Menurut Hamann, masalah di Anfield jauh lebih kompleks daripada sekadar performa satu pemain, dan Mac Allister justru menjadi korban ekspektasi berlebihan.

Musim buruk Liverpool yang berujung pada kegagalan mempertahankan gelar Premier League memang menyeret nama Mac Allister. Banyak yang menilai kontribusinya di bawah standar, bahkan sempat muncul spekulasi tentang masa depannya di klub. Namun, Hamann menegaskan bahwa pandangan tersebut tidak adil. Ia berpendapat, status Mac Allister sebagai juara Piala Dunia bersama Argentina telah menciptakan beban ekspektasi yang terlalu tinggi, membuatnya rentan terhadap kritik yang tidak proporsional.

Perlakuan Tak Adil Mac Allister Terkuak
Gambar Istimewa : gilabola.com

"Dia sering disorot secara tidak adil karena, sebagai juara Piala Dunia, orang-orang berharap lebih darinya," ungkap Hamann. Mantan gelandang Liverpool itu menambahkan, "Persoalan tim ini jauh lebih besar dan mendalam daripada hanya menyalahkan Alexis Mac Allister." Ini mengindikasikan bahwa akar permasalahan Liverpool bukan terletak pada individu, melainkan pada struktur dan strategi tim secara keseluruhan.

Menjelang kembalinya Mac Allister ke pusat latihan AXA pekan depan, setelah membela Argentina di final Piala Dunia, ia diprediksi tidak akan langsung menjadi starter di awal Premier League. Situasi ini membuka peluang bagi pelatih kepala baru, Andoni Iraola, untuk melakukan eksperimen. Hamann secara spesifik mengusulkan Ryan Gravenberch sebagai solusi vital di lini tengah, menempatkannya pada peran gelandang bertahan yang lebih krusial.

"Jika Anda menginginkan pemain yang berpikiran defensif di lini tengah, ada Ryan Gravenberch," tegas Hamann. Meskipun awalnya dikenal sebagai pemain yang lebih menyerang, Gravenberch dinilai memiliki kemampuan fisik dan kecerdasan membaca permainan yang mumpuni untuk menjalankan tugas tersebut. Dengan banyaknya talenta menyerang di skuad, Hamann percaya Gravenberch tidak perlu terlalu banyak mengambil risiko ke depan, melainkan fokus menjaga keseimbangan dan memberikan kebebasan bagi rekan-rekannya untuk berkreasi.

Dominik Szoboszlai juga mendapat pujian dari Hamann sebagai salah satu pemain yang tetap menunjukkan kualitasnya musim lalu. Pemain Hungaria ini dikenal serbaguna, bahkan pernah bermain sebagai bek kanan dan tidak keberatan dengan tugas defensif. Namun, untuk peran gelandang bertahan tunggal, Hamann tetap menjagokan Gravenberch. "Dia punya kehadiran fisik yang lebih kuat dan membaca permainan dengan sangat baik," ujarnya, menegaskan bahwa kualitas menyerang Szoboszlai lebih baik dimanfaatkan di posisi yang lebih maju.

Lebih lanjut, Hamann mengingatkan bahwa pekerjaan Iraola tidak hanya sebatas mendatangkan amunisi baru. Pelatih asal Spanyol itu dituntut untuk memaksimalkan potensi dari para pemain yang sudah ada. Hamann bahkan mencontohkan bagaimana beberapa pemain, jika dimaksimalkan, bisa memberikan dampak layaknya rekrutan anyar, termasuk talenta seperti Alexander Isak, Florian Wirtz, dan Milos Kerkez, yang disebutnya memiliki potensi belum tergali.

Dengan bursa transfer yang masih terbuka sekitar tiga setengah pekan, Hamann meyakini aktivitas transfer The Reds belum usai. Meski demikian, ia merasa Liverpool sudah berada dalam kondisi cukup baik, meskipun dua atau tiga tambahan pemain masih diperlukan. Musim lalu memang menyisakan banyak pekerjaan rumah, namun bagi Hamann, solusi Liverpool bukan dengan menunjuk satu pemain sebagai biang keladi. Perubahan struktural di lini tengah, seperti yang diusulkannya, bisa menjadi kunci untuk mengeluarkan kemampuan terbaik dari seluruh pemain dan mengembalikan kejayaan tim.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post