Ekonesia – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto belum lama ini mengajak hadirin menyelami lorong waktu, menyingkap lembaran sejarah pasar modal Indonesia yang kaya makna. Momen peringatan hari jadi ke-49 Pasar Modal Indonesia sekaligus peluncuran produk ETF Emas menjadi panggung bagi Airlangga untuk mengingatkan pentingnya menjaga kepercayaan investor, baik di kancah nasional maupun internasional. Pasar modal, tegasnya, adalah cerminan vital bagi kesehatan ekonomi, terutama di tengah situasi strategis yang penuh tantangan.
Baca juga: Transformasi Pesisir: Kampung Nelayan Naik Kelas!
Airlangga menyoroti bahwa jejak bursa saham di Tanah Air bermula dari era kolonial Belanda, sebelum kemudian dihidupkan kembali oleh Presiden Soeharto pada tahun 1977. Namun, ada satu nama yang jauh lebih tua dan mendunia dalam sejarah ini: Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC. "Jika kita menilik kembali, VOC adalah entitas publik perdana di jagat raya," ungkap Airlangga, memancing rasa ingin tahu.

Perusahaan dagang raksasa asal Belanda itu memang tercatat sebagai pelopor dalam memperkenalkan saham sebagai instrumen investasi. Data sejarah menunjukkan, VOC adalah perusahaan pertama yang membuka kesempatan bagi masyarakat umum untuk berinvestasi, bukan hanya kalangan elite. Dengan membeli saham, para pemodal kala itu berhak atas sebagian keuntungan perusahaan yang dibagikan dalam bentuk dividen. Sebuah inovasi yang mengubah lanskap keuangan global.
Baca juga: Ben White Cetak Gol Perdana Inggris Malah Dihujat
Lini bisnis VOC membentang luas, meliputi perdagangan komoditas berharga dari wilayah Asia dan dominasi jalur pelayaran. Airlangga bahkan membeberkan angka yang mencengangkan: kapitalisasi pasar VOC kala itu, jika dikonversi ke nilai hari ini, diperkirakan mencapai US$ 7 hingga 8 triliun. "Bahkan dengan valuasi saat ini pun, angkanya tetap sangat tinggi," imbuhnya.
Lebih lanjut, Airlangga menegaskan bahwa kekuatan dan keberlangsungan VOC selama kurang lebih tiga abad, dari abad ke-16 hingga ke-19, tak lepas dari kekayaan komoditas Nusantara. Rempah-rempah dan hasil bumi Indonesia menjadi tulang punggung utama yang menggerakkan roda ekonomi VOC. Tak heran, pada periode tersebut, Belanda mencatatkan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita tertinggi di dunia, sebuah fakta yang tak bisa dilepaskan dari eksploitasi kekayaan alam di Asia, khususnya Indonesia. Memahami sejarah ini, kata Airlangga, menjadi fondasi penting bagi kemajuan pasar modal Indonesia di masa kini dan mendatang.










Tinggalkan komentar