Ekonesia – PT Telkom Indonesia Persero Tbk TLKM berhasil menutup paruh pertama tahun 2026 dengan kinerja keuangan yang sangat impresif. Raksasa telekomunikasi nasional ini membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp759 triliun melonjak 39% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja cemerlang ini turut mendorong EBITDA perusahaan naik 38% mencapai Rp375 triliun dengan margin yang kokoh di angka 494%.
Baca juga: Tangerang Raya: Magnet Baru Rumah Mewah?
Lonjakan pendapatan tersebut berimbas positif pada laba bersih TLKM yang terdongkrak 14% menjadi Rp106 triliun dengan margin 140%. Bahkan jika dinormalisasi laba bersih mencapai Rp113 triliun atau tumbuh 62% menunjukkan ketahanan operasional yang luar biasa didukung oleh pemulihan bisnis seluler. Tak hanya itu arus kas operasional perusahaan juga menguat signifikan sebesar Rp349 triliun meningkat 70% berkat implementasi program efisiensi berkelanjutan dan disiplin dalam pengelolaan biaya.

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menegaskan bahwa pencapaian ini adalah bukti nyata dari komitmen dan dedikasi perusahaan dalam mengakselerasi transformasi digital melalui strategi TLKM 30. "Pencapaian ini semakin memperkuat optimisme kami untuk terus mempercepat transformasi sekaligus memperkuat peran Telkom sebagai pemimpin ekosistem digital Indonesia" ujarnya pada Sabtu 1 Agustus 2026.
Baca juga: Pelatih Top Ini Jadi Incaran Utama Setan Merah
Profitabilitas Segmen B2C Melesat Laba Bersih Meningkat Tajam
Pada segmen B2C yang meliputi layanan seluler dan fixed broadband Telkomsel menunjukkan performa yang sangat kuat. Telkomsel berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp556 triliun tumbuh 33% didorong oleh pertumbuhan pendapatan Digital Business Data yang melesat 110% di semester pertama 2026. Kinerja ini mencerminkan berlanjutnya pemulihan industri seluler berkat strategi komersial yang disiplin optimalisasi portofolio produk dan pengelolaan nilai pelanggan yang efektif.
Average Revenue Per User ARPU mobile Telkomsel juga meningkat menjadi Rp45600 atau naik 90%. Peningkatan konsumsi digital masyarakat selama momen liburan sekolah dan penyelenggaraan Piala Dunia turut mendorong tingginya kebutuhan pelanggan terhadap layanan data berkualitas.
Di sisi layanan fixed broadband IndiHome Telkomsel terus memperkuat kualitas layanan melalui kalibrasi strategis basis pelanggan. Meskipun jumlah pelanggan tercatat 95 juta turun dari 101 juta pada semester pertama 2025 dampaknya terhadap pendapatan kuartalan sangat terbatas. ARPU IndiHome secara kuartalan justru meningkat 34% menjadi Rp211000. Sementara ARPU semesteran tercatat Rp207000 di tengah persaingan harga yang ketat. Rasio konvergensi terus meningkat mencapai 65% sebagai bagian dari strategi Telkom untuk membangun basis pelanggan yang lebih berkualitas meningkatkan efektivitas monetisasi layanan serta memperkuat pertumbuhan yang berkelanjutan.
Dengan fondasi bisnis B2C yang semakin solid Telkomsel akan terus mengakselerasi strategi pertumbuhan berkualitas dengan menempatkan pengalaman pelanggan sebagai prioritas utama. Pengembangan kapabilitas digital melalui pemanfaatan teknologi AI dan 5G serta solusi digital yang disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan individu maupun pelaku usaha akan menjadi fokus utama.
Infrastruktur Digital Dorong Pertumbuhan Segmen B2B Signifikan
Segmen B2B Infrastructure mencatat pertumbuhan pendapatan yang luar biasa 190% YoY mencapai Rp331 triliun pada semester pertama 2026. Pendapatan eksternal juga meningkat 49% menjadi Rp47 triliun didorong oleh peningkatan pendapatan Data Internet dan IT Service.
Pada bisnis menara telekomunikasi dan Fiber-to-the-Tower FTTT Mitratel membukukan pendapatan sebesar Rp47 triliun naik 21%. Bisnis terkait menara tetap menjadi penopang utama pendapatan. Total tenant meningkat menjadi 63866 tumbuh 49% mendorong rasio penyewaan menara menjadi 157x.
Di bisnis data center Telkom melalui NeutraDC terus memperkuat posisinya sebagai penyedia infrastruktur digital regional. Meningkatnya permintaan terhadap infrastruktur digital mendorong perusahaan untuk memperkuat bisnis ini melalui inisiatif konsolidasi yang akan menjadikan NeutraDC sebagai pengelola terpusat seluruh aset data center TelkomGroup. Langkah ini diharapkan mampu memperluas layanan mengoptimalkan monetisasi aset serta mendorong pertumbuhan melalui kolaborasi dengan mitra strategis.
Sementara itu Segmen B2B ICT membukukan pendapatan sebesar Rp73 triliun tumbuh 357% QoQ meskipun masih terdampak oleh proses restrukturisasi portofolio dan streamlining yang tengah berlangsung. Pada Segmen International Business pendapatan tercatat sebesar Rp57 triliun. Pergeseran portofolio bisnis menuju layanan konektivitas dan solusi digital dengan margin yang lebih tinggi serta berkurangnya ketergantungan pada traditional voice hubbing diharapkan mampu mendorong peningkatan margin EBITDA dalam beberapa tahun ke depan. Permintaan terhadap kapasitas baru kabel bawah laut internasional juga terus meningkat didorong oleh dinamika geopolitik global serta kebutuhan berbagai perusahaan teknologi besar dunia dalam mendukung adopsi teknologi AI.
Transformasi Konsisten Ciptakan Nilai Jangka Panjang
Eksekusi strategi TLKM 30 pada semester pertama 2026 menunjukkan kemajuan signifikan pada keempat pilar transformasi. Dari sisi Operational & Service Excellence perusahaan melaporkan pertumbuhan arus kas operasional sebesar 95% YoY serta terus meningkatkan efisiensi biaya operasional OPEX dan menerapkan pengelolaan belanja modal CAPEX secara prudent. Implementasi Early Retirement Program ERP yang disertai mobilitas karyawan sebagai bagian dari upaya perampingan bisnis turut meningkatkan efektivitas pengelolaan biaya pegawai.
Telkom juga menuntaskan Streamlining terhadap 10 entitas melalui skema divestasi merger dan likuidasi sebagai upaya menyederhanakan struktur grup dan penataan portofolio bisnis. Langkah ini semakin memperkuat fokus Telkom pada bisnis inti serta membangun organisasi yang lebih tangkas. Sejalan dengan upaya tersebut perusahaan merealisasikan belanja modal sebesar Rp108 triliun di mana lebih dari 96% difokuskan pada pengembangan area bisnis prioritas di segmen B2C B2B Infrastructure dan International Business.
Implementasi pilar Unlock Value juga terus mencatatkan kemajuan. Sepanjang semester pertama 2026 Telkom telah menyelesaikan sejumlah tahapan persiapan strategis dalam pelaksanaan pengalihan aset InfraNexia Tahap 2 yang hingga kini tetap berjalan sesuai rencana dan ditargetkan rampung pada semester kedua 2026. Pada pilar Modus-operandi Shift Telkom terus memperkuat implementasi model Strategic Hold-Co melalui pengelolaan portofolio dan operasional bisnis yang terintegrasi pada empat segmen bisnis utama.
Dian Siswarini menutup dengan menegaskan bahwa kekuatan infrastruktur digital yang dibangun hari ini akan sangat menentukan pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan. "Telkom sebagai bagian dari Danantara Indonesia akan terus mengakselerasi transformasi dan memperkuat investasi pada kapabilitas digital guna menciptakan nilai yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan sekaligus menjadi katalis pertumbuhan lintas sektor dan memperkuat ketahanan ekonomi digital nasional" pungkasnya.










Tinggalkan komentar