Ekonom Bocorkan Rahasia Dolar AS Rp17 Ribu

Agus Riyadi

30 Juli 2026

3
Min Read

Ekonesia – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus menjadi sorotan utama di tengah gejolak ekonomi global. Banyak pihak bertanya-tanya kapan mata uang garuda bisa kembali perkasa di level Rp17.000. Seorang ekonom senior dari bank asing terkemuka kini memberikan pandangannya yang gamblang mengenai proyeksi dan syarat mutlak untuk mencapai titik tersebut.

Radhika Rao, Ekonom Senior DBS Bank, memprediksi bahwa pada akhir tahun ini, kurs rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.800 hingga Rp18.000 per dolar AS. Meskipun demikian, Rao menegaskan bahwa perkiraan ini dapat dievaluasi kembali, bergantung pada arah kebijakan suku bunga yang akan diambil oleh bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed.

Ekonom Bocorkan Rahasia Dolar AS Rp17 Ribu
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Namun, Rao meyakini bahwa tren pergerakan rupiah cenderung akan bertahan di atas level Rp18.000. Menurutnya, tidak ada alasan kuat untuk terjadinya depresiasi drastis rupiah terhadap mata uang Paman Sam dalam waktu dekat. Ini karena sebagian besar ketidakpastian, baik dari sisi pertumbuhan ekonomi global maupun faktor domestik, diyakini sudah terakomodasi dalam valuasi pasar saat ini. "Kita telah menyaksikan sedikit koreksi terjadi," ujar Rao dalam sebuah forum di Jakarta.

Untuk memicu pelemahan rupiah yang signifikan, setidaknya dibutuhkan dua hingga tiga pemicu negatif yang kuat. Saat ini, Rao mengidentifikasi satu-satunya potensi pemicu buruk berasal dari faktor global, yakni keputusan kebijakan moneter The Fed.

Terkait peluang penguatan rupiah, Rao menyoroti bahwa iklim investasi global masih dibayangi sentimen risiko yang tinggi. Investor asing saat ini cenderung bersikap hati-hati dan menunda keputusan investasi mereka. "Jika mereka memutuskan untuk menanam modal di Indonesia, atau mungkin di Korea, perbandingannya bukan lagi antara negara-negara Asia dan negara-negara berkembang. Perbandingannya adalah antarnegara secara individual, negara berkembang, dan global," jelasnya.

Rao juga mempertanyakan daya tarik imbal hasil aset Indonesia. Dengan imbal hasil bebas risiko AS yang berada di kisaran 4,5%-4,6%, ada selisih sekitar 2%-2,5% dengan imbal hasil aset di Indonesia. Ia meragukan apakah perbedaan ini cukup untuk menutupi potensi kerugian atau risiko berinvestasi di pasar Indonesia.

Kembalinya rupiah ke level Rp17.000 per dolar AS, menurut Rao, sangat ditentukan oleh pergerakan mata uang greenback itu sendiri. Fenomena dolar AS yang kini perkasa di hadapan hampir semua mata uang dunia menjadi indikator utamanya. "Anda benar-benar membutuhkan reaksi yang sangat, sangat tajam pada dolar itu sendiri untuk membawa dolar-rupiah menuju Rp17.000," tegas Rao.

Lebih lanjut, Rao menilai langkah-langkah stabilisasi rupiah dan pasar keuangan yang diambil Bank Indonesia (BI) sudah tepat. Keputusan BI untuk menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebanyak 100 basis poin sepanjang tahun ini, ditambah dengan intervensi non-moneter, dinilai telah berkontribusi penting dalam menstabilkan pasar keuangan dan obligasi. "Saya rasa pendekatan tersebut sudah benar," pungkas Rao.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post