Ekonesia – Gelombang transformasi energi hijau kian meresap ke berbagai sektor, tak terkecuali industri logistik nasional. Komitmen pemerintah Indonesia yang serius menggalakkan percepatan transisi energi mendorong para pelaku bisnis logistik untuk berinovasi, beralih menuju konsep ‘green logistics’ dengan mengadopsi moda transportasi berbasis kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV).
Baca juga: Beras Gratis! Bulog Sasar Warga Sleman, Ada Apa?
Di tengah geliat perubahan ini, Dash Electric hadir sebagai startup logistik yang visioner. Mereka mengambil peran penting dengan menyediakan infrastruktur hijau berupa armada kendaraan listrik, siap mendukung kebutuhan pengiriman barang hingga menjangkau wilayah rural atau pedesaan yang selama ini kerap terabaikan.

Aditya Brahmana, CEO Dash Electric, mengungkapkan potensi luar biasa penggunaan EV di daerah pedesaan. Menurutnya, sistem logistik di wilayah tersebut umumnya bersifat repetitif atau berulang, dengan titik pengiriman yang relatif sama. Karakteristik ini sangat ideal untuk pemanfaatan EV dalam bisnis logistik, yang memang menuntut utilisasi tinggi dan jangkauan pengiriman yang dapat diprediksi secara akurat, mengingat kapasitas baterai dan keterbatasan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang masih menjadi tantangan.
Baca juga: Songket Lokal Go Internasional: UMKM Raih Sukses Gegara BRI!
Namun, ekspansi logistik EV ke pelosok negeri tentu tidak lepas dari sejumlah kendala krusial. Ketersediaan SPKLU yang masih minim, waktu pengisian daya yang relatif lama, hingga pasokan suku cadang serta keterbatasan infrastruktur penunjang ekosistem EV secara keseluruhan, menjadi pekerjaan rumah yang harus dipecahkan. Lantas, strategi jitu apa yang disiapkan untuk mengembangkan bisnis logistik berbasis EV di wilayah pedesaan ini?
Seluk-beluk dan strategi inovatif Dash Electric dalam menghadapi tantangan tersebut dibahas tuntas oleh Aditya Brahmana dalam sebuah dialog eksklusif di AutoBizz, CNBC Indonesia, belum lama ini.









Tinggalkan komentar