AI Ganti Manusia Ribuan Karyawan Bank Terancam

Agus Riyadi

9 Agustus 2026

3
Min Read

Ekonesia – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran kini melanda sektor perbankan global. Fenomena ini bukan sekadar efisiensi biasa, melainkan dampak masif dari adopsi kecerdasan buatan (AI) yang siap menggantikan peran ribuan karyawan.

Standard Chartered, salah satu raksasa perbankan asal London, telah menggariskan rencana ambisius untuk merumahkan lebih dari 7.000 karyawannya dalam empat tahun ke depan. Karyawan yang tergolong "sumber daya manusia bernilai rendah" ini akan digantikan oleh teknologi AI yang semakin canggih. Bank tersebut meyakini bahwa AI adalah kunci utama untuk meningkatkan efisiensi operasional, mendongkrak profitabilitas, dan menghadapi sengitnya persaingan di industri keuangan modern.

AI Ganti Manusia Ribuan Karyawan Bank Terancam
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Menurut laporan yang beredar, Standard Chartered menargetkan pemangkasan sekitar 15% posisi di fungsi korporasi hingga tahun 2030. Angka ini setara dengan lebih dari 7.000 pekerja dari total sekitar 52.000 karyawan di divisi tersebut. CEO Standard Chartered, Bill Winters, menegaskan bahwa langkah ini bukan semata-mata upaya penghematan biaya. Ia menyebutnya sebagai strategi penggantian "modal manusia bernilai rendah" dengan investasi teknologi dan modal finansial yang lebih strategis.

Winters menjelaskan bahwa pengurangan tenaga kerja akan dilakukan melalui otomatisasi dan implementasi AI. Meskipun demikian, bank yang memiliki hampir 82.000 pegawai secara global ini tetap memberikan kesempatan bagi sebagian karyawan untuk meningkatkan keterampilan atau melakukan pelatihan ulang agar dapat menempati posisi baru yang relevan dengan perkembangan teknologi.

Posisi yang paling rentan terkena dampak adalah mereka yang berada di pusat operasional back-office bank, termasuk di kota-kota seperti Chennai, Bengaluru, Kuala Lumpur, dan Warsawa. AI dipandang sebagai fasilitator utama dalam mentransformasi sistem inti perbankan perusahaan.

Fenomena efisiensi melalui AI ini bukan hanya terjadi di Standard Chartered. Bank raksasa Jepang, Mizuho Financial Group, sebelumnya juga mengumumkan rencana serupa untuk mengurangi hingga 5.000 pekerjaan dalam satu dekade mendatang. Di tengah tren ini, bank-bank global kini berlomba mengintegrasikan model AI terbaru, sekaligus memperkuat pertahanan mereka dari ancaman siber yang terus meningkat.

Meskipun melakukan restrukturisasi besar-besaran, Standard Chartered tetap memasang target pertumbuhan yang agresif. Bank ini menargetkan return on tangible equity (ROTE) di atas 15% pada tahun 2028 dan meningkat menjadi sekitar 18% pada tahun 2030. Perusahaan juga mempercepat target penghimpunan dana baru bersih sebesar 200 miliar dolar AS menjadi tahun 2028, lebih cepat dari target sebelumnya. Fokus bisnis akan diarahkan pada segmen dengan margin keuntungan lebih tinggi, termasuk nasabah ritel kaya dan institusi keuangan.

Namun, tantangan geopolitik masih membayangi prospek industri perbankan global. Standard Chartered, yang memiliki fokus kuat di kawasan Asia Pasifik dan Afrika, mengakui bahwa konflik di Timur Tengah menjadi salah satu risiko utama. Pada kuartal pertama tahun ini, bank tersebut bahkan telah menyisihkan provisi kehati-hatian sebesar 190 juta dolar AS terkait dengan konflik di wilayah tersebut. Meski demikian, Winters menyatakan keyakinannya bahwa banknya sangat tangguh dalam menghadapi berbagai risiko pasar dan geopolitik demi mencapai target bisnisnya.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post