Telkom Menggebrak Raup Rp37 T di Tengah Tantangan

Agus Riyadi

29 Mei 2026

5
Min Read

Ekonesia – PT Telkom Indonesia Persero Tbk TLKM kembali menunjukkan performa gemilang di kuartal pertama tahun 2026. Di tengah gejolak ekonomi global perusahaan telekomunikasi raksasa ini berhasil mencatatkan total pendapatan konsolidasi sebesar Rp372 triliun sebuah lonjakan 15 persen secara tahunan. Pencapaian ini menegaskan konsistensi Telkom dalam menjalankan disiplin operasional dan mempercepat implementasi strategi transformasi TLKM 30.

Laporan keuangan Telkom juga menunjukkan EBITDA yang mencapai Rp180 triliun dengan margin EBITDA sebesar 483 persen. Meskipun laba bersih tercatat Rp43 triliun dengan margin 117 persen yang sedikit tertekan akibat dampak lanjutan dari percepatan depresiasi dan normalisasi bisnis selama fase transformasi namun secara fundamental kinerja operasional perusahaan tetap kokoh. Laba bersih yang dinormalisasi bahkan menyentuh angka Rp51 triliun dengan margin 138 persen. Arus kas operasional Telkom pun tumbuh 31 persen menjadi Rp173 triliun berkat program efisiensi TOTEX dan penagihan yang semakin baik.

Telkom Menggebrak Raup Rp37 T di Tengah Tantangan
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menegaskan tahun ini Telkom akan semakin agresif dalam menggenjot eksekusi strategi TLKM 30. Tujuannya adalah menciptakan nilai optimal dan menjamin kelangsungan perusahaan yang lebih solid di masa depan. "Kinerja awal tahun 2026 ini menjadi pemicu semangat bagi TelkomGroup untuk terus berbenah demi memberikan kontribusi terbaik bagi perusahaan pelanggan masyarakat dan negara" ujarnya.

Telkomsel Memimpin Pertumbuhan B2C

Pada segmen B2C yang meliputi Mobile dan Fixed Broadband Telkom melalui Telkomsel berhasil membukukan pendapatan gabungan Rp276 triliun naik 13 persen secara tahunan. Peningkatan ini didorong oleh bisnis digital yang terus berkembang. Volume data juga melonjak 23 persen berkat investasi disiplin dalam kualitas dan perluasan jaringan.

Strategi penetapan harga yang cermat penyederhanaan produk dan peningkatan pengalaman pelanggan sukses mendorong kenaikan ARPU menjadi Rp45100 atau naik 64 persen. Ini mencerminkan kondisi industri yang semakin sehat dan stabil. Telkomsel akan terus fokus menjaga ARPU melalui optimalisasi produktivitas pelanggan dan inovasi layanan gaya hidup digital. Dian menambahkan industri telekomunikasi masih sangat menjanjikan mengingat konektivitas dan internet kini menjadi kebutuhan pokok masyarakat. "Kami optimistis memantapkan ekosistem mobile dan fixed broadband secara berkelanjutan dengan tetap mengutamakan pengalaman pelanggan yang prima" tambahnya.

Infrastruktur B2B Jadi Mesin Pertumbuhan Baru

Segmen B2B Infrastructure Telkom juga menunjukkan performa cemerlang dengan pendapatan Rp24 triliun tumbuh 68 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didukung oleh perluasan bisnis Fiber-to-the-Tower FTTT yang berkelanjutan.

Mitratel yang mengelola bisnis menara telekomunikasi dan FTTT mencatatkan pendapatan Rp23 triliun naik 14 persen. Bisnis penyewaan menara dan layanan terkait tetap menjadi pilar utama penopang pendapatan. Mitratel berhasil menjaga margin EBITDA tetap stabil di 827 persen berkat manajemen biaya yang efektif. Sebagai upaya merajai pasar menara telekomunikasi di Asia Tenggara Mitratel memperkuat strategi portofolio serat optik dengan menambah 1080 km sehingga total kepemilikan mencapai 58279 km. Langkah ini memperkuat Mitratel sebagai Next-Gen Tower Company yang terintegrasi.

Di sisi bisnis data center pendapatan diperoleh dari fasilitas data center dan colocation NeutraDC Group serta NeuCentrIX. Permintaan data center yang terus meroket seiring perkembangan industri digital mendorong Telkom untuk melakukan konsolidasi. Inisiatif penyatuan ini akan menjadikan NeutraDC pengelola seluruh aset data center secara lebih fokus membuka peluang perluasan layanan monetisasi aset dan pertumbuhan bisnis melalui kolaborasi strategis.

Sementara itu unit Wholesale & International Service mencatat pendapatan Rp28 triliun dengan pertumbuhan layanan interkoneksi 189 persen secara kuartalan berkat ramainya aktivitas bisnis suara grosir internasional.

Pada segmen B2B ICT Telkom berhasil membukukan pendapatan Rp31 triliun. Meskipun kegiatan bisnis sedikit melambat akibat proses restrukturisasi yang sedang berjalan dan pendekatan yang lebih selektif dalam penjajakan kerja sama baru langkah ini merupakan bagian dari upaya perseroan untuk mendorong margin yang lebih sehat menghilangkan duplikasi penawaran produk dan memperkokoh daya saing di pasar dalam jangka panjang.

Transformasi TLKM 30 Berjalan Mulus

Pencapaian positif segmen B2C dan B2B Infrastructure Telkom tak lepas dari suksesnya transformasi dan akselerasi strategi TLKM 30. Penyerapan anggaran investasi mencapai Rp49 triliun atau 132 persen dari pendapatan. Sebanyak 99 persen dialokasikan untuk pengembangan infrastruktur di segmen inti B2C B2B Infrastructure dan International sisanya untuk pengembangan platform digital secara disiplin.

Efisiensi operasional terus diupayakan melalui inisiatif penyederhanaan dan penataan portofolio bisnis berbasis HoldCo-OpCo termasuk divestasi merger maupun likuidasi entitas non-inti. Salah satu progres penting adalah divestasi AdMedika Group kepada investor strategis yang ditargetkan rampung pada akhir semester pertama 2026. Divestasi ini diharapkan membuka gerbang pertumbuhan dan inovasi bagi AdMedika Group serta menghadirkan kualitas layanan yang lebih baik.

Dari sisi unlock value Telkom juga tengah mempersiapkan pemisahan bisnis dan aset konektivitas serat optik grosir tahap kedua kepada InfraNexia yang ditargetkan selesai pada kuartal ketiga tahun ini. Proses ini menjadi bagian dari strategi Telkom dalam mendorong manajemen aset fiber yang lebih gesit dan efisien serta memperluas cakupan peluang bisnis ke depan.

Melalui penguatan di segmen B2B khususnya InfraNexia yang diproyeksikan sebagai mesin pertumbuhan baru TelkomGroup dapat membuka peluang penambahan pemasukan dari luar sekaligus memperkokoh dasar-dasar bisnis perusahaan. Saat ini kontribusi bisnis fiber masih sekitar 15 persen dan ditargetkan meningkat menjadi sekitar 25 persen seiring optimalisasi pemanfaatan infrastruktur dan rampungnya pengalihan aset.

Telkom juga memantapkan bisnis B2B ICT dan International guna menangkap potensi kebutuhan industri yang terus berkembang di tengah pesatnya penerapan teknologi kecerdasan buatan. Langkah ini diharapkan menciptakan struktur pendapatan segmen B2C dan B2B TelkomGroup yang lebih proporsional.

Dian Siswarini menyimpulkan tahun 2026 adalah masa yang kaya akan kesempatan sekaligus rintangan bagi TelkomGroup. "Karena itu kami akan terus mempercepat eksekusi strategi transformasi TLKM 30 dengan tetap mengutamakan prinsip disiplin operasi untuk memperkuat kelangsungan bisnis yang lebih kuat menyediakan layanan yang semakin merata serta membangun ekosistem digital yang berdaya guna lebih besar" pungkas Dian.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post