Rupiah Kritis Dolar AS Makin Perkasa

Agus Riyadi

26 Oktober 2026

2
Min Read

Ekonesia – Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tren pelemahan signifikan di hadapan dolar Amerika Serikat. Mata uang Garuda kini semakin tertekan, dengan kurs dolar AS yang telah menembus level psikologis Rp18.100 dan bahkan mencapai Rp18.120. Situasi ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar.

Pada pembukaan perdagangan pagi ini, rupiah langsung dibuka di posisi Rp18.050 per dolar AS. Angka ini sudah menunjukkan pelemahan tipis sebesar 0,06% atau sekitar 10 poin dibandingkan penutupan perdagangan Jumat pekan lalu yang berada di level Rp18.040 per dolar AS. Namun, tekanan terhadap rupiah terus berlanjut sepanjang sesi, hingga akhirnya dolar AS bertengger di angka Rp18.120 pada pukul 11.00 WIB.

Rupiah Kritis Dolar AS Makin Perkasa
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY), yang menjadi barometer kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, justru terpantau melemah tipis 0,17% ke level 101,636 pada pukul 09.00 WIB. Fenomena ini menunjukkan bahwa pelemahan rupiah mungkin lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen internal atau faktor spesifik lainnya.

Pergerakan rupiah yang lesu ini tidak lepas dari berbagai sentimen, baik dari dalam negeri maupun global. Dari ranah domestik, perhatian investor tertuju pada respons Bank Indonesia terkait tekanan yang muncul akibat sentimen Morgan Stanley Capital International (MSCI). Pernyataan resmi dari bank sentral sangat dinantikan untuk memberikan arah dan kepastian.

Sementara itu, dari kancah global, harga minyak dunia mulai menunjukkan koreksi setelah sempat melambung tinggi pekan lalu. Kenaikan drastis harga minyak kala itu dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Selain itu, pasar juga menantikan serangkaian agenda ekonomi krusial dari Amerika Serikat sepanjang pekan ini. Ini termasuk pengumuman keputusan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed), serta rilis data penting mengenai pertumbuhan ekonomi dan tingkat inflasi AS yang akan sangat mempengaruhi arah kebijakan moneter global.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post