Premi Asuransi Meroket Klaim Menghantui

Agus Riyadi

3 September 2026

2
Min Read

Ekonesia – Industri asuransi kredit di Indonesia tengah menghadapi dilema menarik. Di satu sisi, geliat pertumbuhan kredit perbankan membuka peluang bisnis yang menggiurkan. Namun di sisi lain, bayangan klaim macet yang membengkak berpotensi menggerogoti keuntungan dan stabilitas sektor ini.

Data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan OJK per Juni 2026 menunjukkan lini usaha asuransi kredit dan reasuransi berhasil membukukan pendapatan premi fantastis mencapai Rp1187 triliun. Angka ini melonjak 710 persen secara tahunan sebuah indikasi kuat akan potensi pasar yang besar. Dorongan utama datang dari pertumbuhan kredit perbankan yang dicatat Bank Indonesia BI pada Juni 2026 mencapai 1267 persen year-on-year melampaui bulan sebelumnya. Kenaikan ini didukung oleh semua segmen mulai dari kredit investasi modal kerja hingga konsumsi.

Premi Asuransi Meroket Klaim Menghantui
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Namun di balik gemerlap angka premi tersebut tersimpan ancaman serius. OJK juga mencatat nilai klaim yang harus dibayarkan industri asuransi kredit mencapai Rp1085 triliun. Ini berarti rasio klaim melambung tinggi hingga 9144 persen sebuah angka yang patut diwaspadai. Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian Penjaminan dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono menegaskan bahwa meskipun peluang pertumbuhan terbuka lebar industri harus mengimbanginya dengan penguatan fundamental.

Ogi menekankan pentingnya peningkatan kualitas underwriting pengelolaan portofolio yang lebih baik penetapan harga berbasis risiko kecukupan reasuransi serta strategi pemulihan dan subrogasi yang efektif. OJK secara konsisten mendorong agar perusahaan asuransi tidak hanya fokus pada pengejaran pertumbuhan premi semata. Lebih dari itu menjaga kualitas risiko profitabilitas dan keberlanjutan usaha adalah kunci utama demi masa depan industri yang sehat.

Meskipun rasio kredit bermasalah NPL gross perbankan tercatat masih terkendali di level 209 persen dan NPL net 082 persen serta rasio loan at risk LAR stabil di 847 persen risiko klaim tinggi tetap menjadi pekerjaan rumah bagi penyedia asuransi kredit. Tantangan ini menuntut para pelaku industri untuk lebih cermat dan adaptif dalam mengelola risiko di tengah dinamika ekonomi yang terus berkembang.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post