Perang Hormuz Memanas Harga Minyak Meroket

Agus Riyadi

16 Juli 2026

3
Min Read

Ekonesia – Harga minyak dunia kembali melonjak tajam, mencapai puncak dalam sekitar sebulan terakhir pada perdagangan Rabu. Pemicu utamanya tak lain adalah ketegangan yang memuncak antara Amerika Serikat dan Iran, setelah Washington mengintensifkan aksi militernya di sekitar Selat Hormuz. Situasi ini memicu kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan energi global.

Data Refinitiv menunjukkan, hingga Kamis (16/7/2026) pukul 09.20 WIB, harga minyak Brent untuk kontrak September ditutup di level US$85,72 per barel, naik 1,17% dari hari sebelumnya. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,98% menjadi US$80,12 per barel. Kenaikan ini menandai reli empat hari beruntun, dengan Brent melonjak sekitar 12,8% dan WTI hampir 12,2% sejak penutupan 10 Juli, mengindikasikan bahwa faktor risiko geopolitik kini menjadi penentu utama pergerakan harga komoditas energi.

Perang Hormuz Memanas Harga Minyak Meroket
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Sentimen pasar didominasi oleh laporan Reuters mengenai operasi militer AS terhadap Iran. Militer AS melancarkan serangan dua gelombang ke instalasi pertahanan pesisir serta lokasi penyimpanan dan peluncuran rudal jelajah Iran di Pulau Greater Tunb. Aksi ini merupakan bagian dari upaya Washington untuk memulihkan navigasi di Selat Hormuz yang sebelumnya ditutup oleh Iran. Washington menyatakan operasi tersebut bertujuan menghancurkan kemampuan militer Iran yang dinilai membahayakan pelayaran komersial di selat vital itu. Bersamaan dengan itu, Angkatan Laut AS juga melaporkan telah mengintersep sebuah kapal tanker yang menuju Pulau Kharg setelah mengabaikan peringatan.

Iran bereaksi keras atas serangan tersebut. Negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menyebut negaranya sedang menghadapi "perang eksistensial dengan Amerika". Tak lama kemudian, Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang target-target militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania menggunakan rudal dan drone. Kuwait mengonfirmasi berhasil mencegat empat rudal dan 21 drone Iran. Meski tanpa korban jiwa, perkembangan ini mengindikasikan perluasan cakupan konflik ke sejumlah negara di kawasan Teluk.

Fokus pasar tetap tertuju pada Selat Hormuz. Selat sempit ini merupakan arteri vital bagi seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Iran telah menyatakan penutupan selat sejak akhir pekan lalu, dan aktivitas militer yang intens membuat banyak kapal belum dapat melintas secara normal. Gangguan pada jalur energi terpenting ini menimbulkan kekhawatiran serius akan kelangkaan pasokan global jika konflik terus memanas. Risiko inilah yang membuat investor rela membayar lebih mahal untuk kontrak minyak dalam beberapa hari terakhir.

Di tengah memanasnya situasi, Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan keinginan Iran untuk mencapai resolusi dan kembali ke meja perundingan. Trump mengaku kedua pihak telah berkomunikasi, namun pada saat yang sama, ia menekankan kesiapan AS untuk melanjutkan operasi militer apabila negosiasi gagal. Untuk sementara, pasar masih menempatkan perkembangan militer sebagai penentu utama. Selama Selat Hormuz belum kembali beroperasi normal dan ancaman terhadap arus ekspor energi Timur Tengah masih tinggi, fluktuasi harga minyak diprediksi akan terus berlanjut dalam jangka pendek.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post