Pasar Saham Bergejolak IHSG Terjun Bebas

Agus Riyadi

24 September 2026

3
Min Read

Ekonesia – Pasar modal Indonesia kembali dilanda gejolak. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat, merosot lebih dari satu persen pada perdagangan sesi siang Kamis ini, setelah sempat mencatat kenaikan signifikan pada hari sebelumnya. Penurunan drastis ini sontak memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar.

Pada pukul 11.24 WIB, IHSG tercatat melemah 63,84 poin atau 0,16% ke level 6.311,07, bergerak di rentang 6.314,02 hingga 6.368,57. Kondisi pasar menunjukkan dominasi sentimen negatif, di mana hanya 181 saham yang menguat, berbanding jauh dengan 469 saham yang melemah, dan 313 saham stagnan. Total nilai transaksi mencapai sekitar Rp 5,631 triliun, melibatkan 16,48 miliar saham yang berpindah tangan sebanyak 863.100 kali.

Pasar Saham Bergejolak IHSG Terjun Bebas
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Pelemahan IHSG ini terjadi di tengah berbagai sentimen, baik dari dalam maupun luar negeri. Dari domestik, perhatian tertuju pada keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuannya. Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 22-23 September 2026 memutuskan untuk menjaga BI Rate di angka 5,75%. Suku bunga Deposit Facility tetap 4,75% dan Lending Facility 6,50%. Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan keputusan ini sesuai dengan ekspektasi mayoritas analis, di mana delapan dari sebelas responden survei memperkirakan suku bunga tidak berubah. Ini menandai penahanan suku bunga untuk ketiga kalinya berturut-turut sejak Juli 2026, setelah sebelumnya BI melakukan kenaikan kumulatif 100 basis poin pada Mei-Juni 2026.

Namun, badai sesungguhnya datang dari kancah global. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) atau US Treasury melonjak tajam pada Rabu 23 September 2026, mencapai level tertinggi dalam hampir dua dekade. Kenaikan ini dipicu oleh data ekonomi AS yang menunjukkan aktivitas bisnis yang kuat, sekaligus memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi.

Yield Treasury 10 tahun, yang menjadi patokan biaya pinjaman global, meroket 15 basis poin menjadi 5,11%, level yang tak terlihat sejak 2007. Bahkan sempat menyentuh 5,14% dalam perdagangan intraday. Lonjakan ini mengindikasikan bahwa biaya kredit untuk perumahan, kendaraan, hingga pembiayaan bisnis di seluruh dunia berpotensi meningkat.

Data S&P Global yang menunjukkan pertumbuhan aktivitas bisnis AS tercepat sejak Juli 2021, ditambah kenaikan biaya input akibat harga energi, memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga demi meredam inflasi.

Tak hanya itu, yield Treasury 30 tahun juga melonjak 11 basis poin menjadi 5,4%, tertinggi tahun ini dan level penutupan tertinggi sejak 2004. Sementara yield Treasury 2 tahun, yang sangat sensitif terhadap kebijakan The Fed, naik sekitar 16 basis poin hingga mencapai 4,9%, tertinggi sejak 2024. Yield Treasury 5 tahun bahkan menembus 5% untuk pertama kalinya sejak 2007.

Kenaikan drastis imbal hasil obligasi AS ini menjadi sinyal bahaya bagi Indonesia. Hal ini dapat memicu kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) domestik, yang pada akhirnya akan menambah beban utang pemerintah dan berpotensi menarik modal keluar dari pasar keuangan Tanah Air. Selain itu, pasar juga masih memantau kunjungan Presiden China Xi Jinping ke AS dan aturan baru perdagangan saham.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post