Ekonesia – Sorotan tajam kini mengarah pada Jose Mourinho dan Real Madrid. Performa tim yang inkonsisten memicu desakan agar sang pelatih segera melakukan perubahan taktik fundamental. Dua bulan ke depan, khususnya sepanjang Oktober, diprediksi akan menjadi penentu krusial dalam ambisi Los Blancos mengejar ketertinggalan dari Barcelona di perebutan gelar juara.
Baca juga: Merauke Jadi Lumbung Pangan? Infrastruktur Dikebut!
Sebelumnya, Mourinho sempat mencoba mengalihkan fokus publik dari penampilan buruk timnya pada babak kedua Derbi Madrid. Ia menyoroti keputusan wasit yang menurutnya mengabaikan dua pelanggaran keras, tekel Cuti Romero dan Kang-in Lee terhadap Jude Bellingham serta Fede Valverde, yang seharusnya berbuah kartu merah langsung. "Kami sebenarnya bisa melewatkan konferensi pers karena cerita pertandingan ini sudah terlihat di sini. Itu dua kartu merah yang jelas," ujarnya, membela para pemainnya dan memuji performa babak pertama.
Namun, di balik polemik keputusan wasit, Real Madrid memiliki pekerjaan rumah yang jauh lebih mendasar: penyelesaian akhir. Masalah ini terus menghantui mereka. Contoh paling nyata terlihat saat menghadapi Real Betis, di mana Los Blancos gagal mengonversi tujuh peluang emas, sementara lawan hanya butuh satu kesempatan untuk meraih kemenangan. Seandainya mampu memaksimalkan peluang tersebut, Real Madrid bisa saja mencatatkan delapan kemenangan beruntun dan menyamai poin Barcelona, hanya kalah selisih gol. Kontras dengan rival abadi mereka, Barcelona, yang tampil begitu produktif dengan 27 gol dari nilai expected goals (xG) sebesar 25, menunjukkan ketajaman lini serang yang luar biasa.
Baca juga: Klopp Tolak Madrid? Ada Apa?
Mourinho kini dihadapkan pada dilema besar. Delapan pertandingan awal telah membeberkan kekuatan dan kelemahan tim. Ia harus memutuskan aspek mana yang patut dipertahankan dan bagian mana yang membutuhkan rombakan total. Jika terus berpegang pada susunan pemain dan pendekatan yang sama, bukan tidak mungkin masalah serupa seperti permainan buruk di babak kedua, performa pemain yang tidak konsisten, dan peluang terbuang akan terus terulang.
Tekanan yang dihadapi Mourinho tidak hanya datang dari lapangan hijau. Bayang-bayang presiden klub, Florentino Perez, serta hierarki pemain bintang, berpotensi membatasi kebebasannya dalam menentukan komposisi tim. Pelatih berusia 63 tahun itu harus memilih antara mempertahankan pendekatan yang ada atau mengambil keputusan berani demi perbaikan performa. Mourinho yang dikenal tegas di masa lalu mungkin akan memilih opsi kedua, namun situasi saat ini bisa jadi berbeda. Persoalan Real Madrid juga tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pelatih. Jika masalah serupa tetap muncul setelah empat pergantian pelatih, manajemen klub perlu mengevaluasi struktur dan kebijakan internalnya. Sejarah mencatat, keputusan taktik di Real Madrid bisa membawa konsekuensi besar, seperti yang dialami Vanderlei Luxemburgo dan Xabi Alonso di masa lalu.
Real Madrid sebenarnya memiliki modal berharga untuk bangkit. Kedalaman skuad mereka dinilai lebih baik dari musim sebelumnya, dengan beberapa pemain menunjukkan performa menjanjikan. Ibrahima Konate dan Dean Huijsen tampil solid di lini belakang, Arda Guler disebut sebagai kreator serangan menonjol, sementara Jude Bellingham dan Kylian Mbappe tetap menjadi andalan. Thibaut Courtois masih menjadi pilar utama di bawah mistar. Di lini depan, Carlos Espi menawarkan profil penyerang yang unik, dan Yan Diomande dianggap peningkatan dari Franco Mastantuono.
Namun, sejumlah persoalan taktik masih terlihat jelas. Para bek sayap belum menunjukkan performa terbaik, Espi jarang mendapat kesempatan, dan formasi 4-2-3-1 ala Mourinho belum sepenuhnya cocok dengan karakter gelandang yang tersedia. Vinicius juga belum tampil maksimal di sisi kiri. Ironisnya, beberapa pemain justru bersinar bersama tim nasional karena mendapatkan peran yang sesuai. Brahim Diaz menjadi motor serangan Maroko, Vinicius memegang peran kunci di Brasil, Bellingham dirancang untuk memaksimalkan kemampuannya bersama Inggris, Guler menjadi figur sentral Turki, dan Eduardo Camavinga pernah tampil apik sebagai gelandang bertahan tunggal di bawah Zinedine Zidane.
Situasi ini menunjukkan bahwa Real Madrid memiliki banyak pemain berkualitas, namun terjadi tumpang tindih peran di beberapa posisi. Mourinho perlu menemukan keseimbangan agar kemampuan individu bisa mendukung permainan kolektif. Dalam konferensi pers pertamanya musim ini, Mourinho mengakui tantangan tersebut. "Mereka pemain luar biasa, tetapi struktur taktiknya bisa menjadi lebih sulit," katanya, mencontohkan bagaimana Carlo Ancelotti, Didier Deschamps, dan Thomas Tuchel berhasil menemukan peran ideal bagi Vinicius, Mbappe, dan Bellingham di tim masing-masing. Mourinho tetap yakin ketiganya bisa bermain bersama, menegaskan tidak ada ketidakcocokan mutlak di lapangan.
Real Madrid memang belum berada dalam kondisi terpuruk, namun performa mereka jauh dari kata stabil. Hasil pertandingan, efektivitas penyelesaian akhir, dan keseimbangan taktik masih memerlukan perbaikan signifikan. Dua bulan berikutnya akan menjadi ujian sesungguhnya bagi Mourinho. Barcelona akan menghadapi periode pertandingan yang lebih berat, memberikan Real Madrid peluang emas untuk memangkas jarak jika mampu memaksimalkan setiap laga. Saat ini, Los Blancos tertinggal enam poin dari rival utama mereka. Perubahan hasil sepanjang Oktober bisa memperkecil selisih menjadi tiga poin, atau justru memperlebar jarak hingga sembilan poin. Oleh karena itu, Mourinho harus memanfaatkan evaluasi dari delapan pertandingan awal untuk menentukan arah permainan timnya. Keberaniannya mengubah susunan pemain dan menerapkan pendekatan yang lebih sesuai akan menjadi salah satu faktor penentu kebangkitan Real Madrid.



Tinggalkan komentar