Ekonesia – Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti baru-baru ini melontarkan peringatan serius. Mata uang rupiah masih sangat rentan terhadap dinamika ekonomi global, terutama akibat fenomena pelarian modal atau capital flight investor asing. Kondisi ini membuat dana-dana besar berbondong-bondong meninggalkan pasar domestik.
Baca juga: Pelita Air Terbang ke Singapura! Kapan?
Capital flight merupakan situasi di mana sejumlah besar dana atau aset keuangan secara tiba-tiba ditarik dari suatu negara dan dialihkan ke negara lain. Umumnya, investor mencari tempat yang dianggap lebih aman dan stabil, seringkali dalam bentuk dolar Amerika Serikat. Destry menjelaskan, tren global ini mendorong para investor untuk memindahkan aset mereka ke instrumen yang menawarkan keamanan relatif.

"Kami melihat adanya potensi capital flight global. Investor cenderung mencari aset yang mereka anggap aman, dan dolar AS seringkali menjadi pilihan utama," terang Destry dalam sebuah kesempatan. Imbasnya, banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, mengalami arus keluar modal yang signifikan. Situasi inilah yang secara langsung memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah.
Baca juga: Keajaiban Gol Wilson Bikin West Ham Putar Otak
Dampak capital flight tidak hanya terasa pada rupiah. Investor asing juga terpantau melepas kepemilikan mereka di Surat Berharga Negara (SBN) dan Surat Berharga Bank Indonesia (SRBI). Pelepasan aset ini mengakibatkan arus modal keluar yang cukup besar dari pasar obligasi pemerintah.
Lebih lanjut, keluarnya investor asing dari SBN memicu kenaikan imbal hasilnya (yield). Destry menyoroti perbandingan antara yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) yang mencapai 5,3% dengan yield SBN 10 tahun Indonesia yang berada di kisaran 7,2%. Selisih (spread) antara kedua yield ini semakin menipis, mengurangi daya tarik investasi di pasar negara berkembang dan memperparah gelombang outflow modal.









Tinggalkan komentar