Minyak Dunia Terjun Bebas Ini Biang Keroknya

Agus Riyadi

30 Juli 2026

2
Min Read

Ekonesia – Pasar minyak global kembali bergejolak hari ini Kamis setelah sempat meroket tajam kemarin. Harga minyak mentah dunia anjlok di bawah level 90 dolar AS per barel, memicu pertanyaan besar di kalangan pelaku pasar. Data terbaru menunjukkan minyak Brent kini diperdagangkan di angka 89.60 dolar AS per barel, merosot 1.26% dari penutupan sebelumnya. Senada, minyak West Texas Intermediate WTI juga terkoreksi 0.97% menjadi 83.64 dolar AS per barel.

Penurunan ini terjadi hanya sehari setelah harga minyak melambung tinggi, dengan Brent melonjak hampir 8% dan WTI lebih dari 6%. Kenaikan fantastis tersebut dipicu oleh memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang sempat memicu kekhawatiran serius akan pasokan global. Namun, harapan meredanya tensi geopolitik seolah menguap, digantikan oleh dinamika baru yang menekan harga.

Minyak Dunia Terjun Bebas Ini Biang Keroknya
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Meski demikian, perlu dicatat bahwa posisi harga minyak saat ini masih jauh lebih tinggi dibanding awal pekan. Dibandingkan dengan level pada 20 Juli, Brent masih menguat sekitar 0.43%, sementara WTI naik 0.49%. Bahkan, jika dibandingkan dengan harga 28 Juli, kenaikannya mencapai 6.6% untuk Brent dan 5.5% untuk WTI.

Pergerakan harga yang fluktuatif ini tak lepas dari perkembangan di koridor pengiriman minyak internasional. Laporan navigasi awal menunjukkan adanya 39 kapal komoditas yang berhasil melintasi Selat Bab el-Mandeb menuju Laut Merah pada Selasa lalu, menjadi angka tertinggi sejak 19 Juli. Kondisi ini mengindikasikan bahwa distribusi minyak masih dapat berjalan melalui rute alternatif, meskipun pergerakan kapal di Selat Hormuz tetap minim. Analis pasar, Tony Sycamore, berpendapat bahwa semakin lama situasi ini berlangsung, semakin besar peluang bagi pelaku pasar untuk mengembangkan jalur distribusi lain, sehingga mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz.

Namun, ancaman geopolitik di kawasan tersebut belum sepenuhnya mereda. Iran secara tegas menolak proposal Oman terkait manajemen bersama Selat Hormuz. Pada saat yang sama, gempuran udara gabungan AS dan Arab Saudi menghantam milisi pro-Iran di Irak, sebagai respons atas serangan drone terhadap fasilitas minyak Saudi. Iran kemudian mengklaim bertanggung jawab atas serangan di pangkalan AS di Yordania serta tiga kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz melalui jalur yang mereka sebut tidak sah.

Di Laut Merah, Arab Saudi dikabarkan tengah menggalang kekuatan untuk melindungi rute maritim dari agresi kelompok Houthi. Sebelumnya, Houthi telah mendeklarasikan blokade di perairan Saudi dan memperlebar jangkauan gempuran mereka terhadap kapal tanker di sekitar Bab el-Mandeb. Kompleksitas situasi ini terus menjadi perhatian utama pasar energi dunia.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post