Laba TINS Meroket Drastis Berkat Ini

Agus Riyadi

11 Agustus 2026

3
Min Read

Ekonesia – PT Timah Tbk (TINS) mencatatkan lonjakan laba bersih yang fantastis, menandai babak baru dalam perjalanan bisnisnya. Kinerja gemilang ini tak lepas dari langkah serius pemerintah dalam memberantas aktivitas penambangan timah ilegal. Penertiban tersebut menjadi pendorong utama bagi perusahaan pelat merah ini untuk mengoptimalkan operasional dan mendongkrak keuntungan secara signifikan.

Selama bertahun-tahun, praktik penambangan timah tanpa izin telah menjadi duri dalam daging bagi industri resmi, khususnya TINS. Aktivitas ilegal ini menciptakan pasar gelap yang masif, dengan perkiraan Presiden Prabowo Subianto bahwa sekitar 80% produksi timah di Bangka Belitung berasal dari sektor bayangan. Bahkan, Asosiasi Eksportir Timah Indonesia memperkirakan hingga 12.000 ton timah bisa keluar negeri secara ilegal setiap tahunnya. Kondisi ini menekan TINS, terlihat dari penurunan produksi bijih timah sebesar 32% pada semester pertama 2025.

Laba TINS Meroket Drastis Berkat Ini
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Namun, angin segar berhembus setelah pemerintah mengambil tindakan tegas. Target penutupan sekitar 1.000 tambang timah ilegal di Bangka Belitung, sesuai instruksi Presiden Prabowo, mulai menunjukkan hasil. Ketika jalur ilegal dipersempit, pasokan bijih timah yang sebelumnya beredar di luar sistem resmi kini berpeluang besar kembali masuk ke rantai pasok yang sah.

Situasi ini membuka keran bagi TINS untuk menggenjot perolehan bijih, meningkatkan volume produksi, dan memperluas jangkauan penjualan. Komitmen pemerintah untuk mengamankan cadangan strategis nasional ini terbukti menjadi katalis positif yang sangat dinanti.

Momentum pemulihan produksi TINS terlihat jelas pada paruh pertama 2026. Produksi bijih timah melonjak drastis hingga 75% menjadi 12.232 ton Sn, dari sebelumnya 6.997 ton Sn di periode yang sama tahun 2025. Produksi logam timah juga ikut meroket menjadi 10.865 metrik ton, diikuti kenaikan penjualan logam timah yang mencapai 10.984 metrik ton, atau melesat sekitar 85% dari 5.933 metrik ton.

Peningkatan volume ini secara langsung mendongkrak kinerja keuangan TINS. Pendapatan perseroan pada semester I-2026 mencapai Rp10,42 triliun, melesat 147% dibandingkan Rp4,22 triliun pada tahun sebelumnya. Yang paling mencengangkan, laba bersih perusahaan membengkak hingga 805%, mencapai Rp2,71 triliun dari Rp300 miliar.

Angka laba ini bahkan telah melampaui sekitar 169% dari target laba bersih TINS untuk sepanjang tahun 2026 yang sebesar Rp1,61 triliun. Kinerja cemerlang ini juga ditopang oleh harga timah global yang perkasa. Rata-rata harga timah di London Metal Exchange (LME) pada semester I-2026 mencapai US$50.319 per metrik ton, naik signifikan 56,7% dari US$32.116 per metrik ton pada semester I-2025.

Perbaikan fundamental ini tercermin pula pada nilai kapitalisasi pasar TINS. Jika pada Agustus 2025 kapitalisasi pasar perseroan berada di kisaran Rp7,6 triliun, setahun kemudian di Agustus 2026, nilainya telah melonjak tajam mencapai sekitar Rp28,75 triliun.

Pengamat Pasar Modal, Hans Kwee, melihat prospek TINS sangat cerah. Dengan mempertimbangkan pertumbuhan kinerja, tren harga timah global, dan komitmen pemerintah terhadap penertiban tambang ilegal, Hans merekomendasikan "Buy" untuk saham TINS dengan target harga antara Rp4.700 hingga Rp5.000 per saham. "Prospek TINS saat ini ditopang oleh pemulihan produksi, dan potensi normalisasi pasokan melalui penertiban tambang ilegal," ujarnya pada Senin (10/8/2026).

Lebih lanjut, Hans menilai valuasi TINS masih sangat menarik. Dengan rasio harga terhadap laba (PER) sekitar 4,49 kali, valuasi TINS tergolong murah jika dibandingkan dengan pertumbuhan penjualan dan laba bersih perseroan yang impresif. Margin laba bersih TINS mencapai sekitar 26% dan pengembalian ekuitas (ROE) sekitar 51%. Dari sisi industri, prospek harga timah dunia diperkirakan tetap positif, didorong oleh potensi kekurangan pasokan akibat meningkatnya kebutuhan di sektor semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI).

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post