Kisah Raja Ritel RI Berakhir Tragis

Agus Riyadi

18 Mei 2026

3
Min Read

Ekonesia – Siapa tak kenal Matahari? Nama ini telah melekat sebagai ikon belanja di hati jutaan warga Indonesia, dengan ratusan gerai megah yang tersebar luas di berbagai penjuru negeri. Namun, di balik gemerlap kesuksesan yang tampak kokoh itu, tersembunyi sebuah kisah perjalanan panjang yang penuh liku, ambisi besar, dan sebuah akhir tak terduga yang mengubah segalanya.

Jejak langkah raksasa ritel ini bermula dari sebuah toko pakaian sederhana bernama Micky Mouse, yang didirikan oleh Hari Darmawan di jantung Pasar Baru pada tahun 1960. Awalnya, Micky Mouse menawarkan paduan busana impor dan kreasi lokal MM Fashion buatan istri Hari. Meski bisnisnya cukup menjanjikan di lima tahun pertama, Hari tak bisa menahan kekagumannya pada De Zion, toko tetangga yang selalu ramai dikunjungi kalangan berduit.

Kisah Raja Ritel RI Berakhir Tragis
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Obsesi Hari untuk meniru kesuksesan De Zion tak pernah padam. Kesempatan emas itu datang pada tahun 1968, ketika ia mendengar kabar pemilik De Zion berniat menjual usahanya. Tanpa ragu, Hari segera bergerak. Dengan suntikan modal pinjaman fantastis senilai 200 juta dolar AS dari Citibank, ia berhasil mengambil alih dua gerai De Zion di Jakarta dan Bogor. Nama De Zion pun segera berganti menjadi "Matahari", sebuah nama yang menurut Hari Darmawan, sang pendiri, merupakan terjemahan dari "De Zion" dalam bahasa Belanda.

Demi memajukan "Matahari" yang baru, Hari Darmawan terinspirasi dari model bisnis department store Jepang, Sogo. Ia bermimpi menciptakan Matahari sebagai surga belanja yang menawarkan ragam produk terlengkap, memungkinkan pelanggan menemukan barang berkualitas dengan harga bersaing. Strategi ini terbukti jitu, menarik ribuan pengunjung. Sepanjang dekade 1970-an hingga 1980-an, Matahari tumbuh pesat, memperluas jangkauan produknya dari sekadar pakaian menjadi perhiasan, tas, sepatu, kosmetik, elektronik, mainan, alat tulis, buku, dan banyak lagi.

Memasuki era 1990-an, dominasi Matahari semakin tak terbendung. Gerainya menjamur di berbagai kota besar di seluruh Indonesia, menjadikannya nama yang dikenal luas. Puncaknya, pada tahun 1989, PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) resmi melantai di bursa saham, menegaskan posisinya sebagai raja ritel nasional. Namun, kejayaan ini tak membuat Hari Darmawan berpuas diri. Ia masih menyimpan ambisi besar: menjadikan Matahari sebagai poros utama ritel Tanah Air dengan target fantastis 1.000 gerai.

Di tengah gelora ambisi Hari, muncul sosok James Riady, bankir muda sekaligus putra konglomerat Mochtar Riady, pendiri Lippo Group. James menawarkan pinjaman menggiurkan sebesar Rp 1,6 triliun dengan bunga rendah, yang segera disepakati Hari. Namun, kesepakatan ini menyimpan benih masalah tak terduga. Tak lama setelah dana cair, James Riady melancarkan strategi mengejutkan: membawa raksasa ritel Amerika Serikat, WalMart, ke Indonesia. Yang lebih mencengangkan, gerai WalMart didirikan persis berhadapan dengan Matahari, menciptakan persaingan langsung yang intens, mirip fenomena Indomaret dan Alfamart saat ini.

Kehadiran WalMart jelas menjadi ancaman serius bagi Matahari. Namun, Hari Darmawan tak gentar. Ia tetap fokus pada pengembangan bisnisnya, dan hasilnya, WalMart gagal bersaing, sementara Matahari kokoh mempertahankan mahkotanya sebagai raja ritel. Namun, pada tahun 1996, sebuah kabar mengejutkan mengguncang. Di puncak kejayaannya dengan omset mencapai Rp 2 triliun, Hari Darmawan tiba-tiba menerima tawaran tak terduga dari James Riady untuk membeli seluruh saham Matahari. Sejak momen itulah, Matahari resmi berpindah tangan ke Lippo Group.

Penjualan Matahari di tengah masa keemasan ini sontak memicu beragam spekulasi. Banyak pihak bertanya-tanya, mengapa Hari Darmawan melepas permata bisnisnya saat sedang di puncak? Dengan Matahari yang begitu perkasa, kebangkrutan seolah mustahil. Namun, keputusan telah bulat. Sejak akuisisi itu, Matahari sepenuhnya berada di bawah kendali Lippo Group, dan nama Hari Darmawan, sang visioner, perlahan mulai tenggelam dari panggung utama ritel Indonesia, meninggalkan sebuah warisan yang tak terlupakan namun dengan akhir yang penuh misteri.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post