Ekonesia – Pernyataan Presiden terpilih Prabowo Subianto mengenai penggunaan dolar Amerika Serikat di kalangan warga desa sempat menuai beragam tafsir. Menanggapi hal tersebut Ketua Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat RI M Misbakhun tampil ke depan untuk meluruskan pemahaman publik. Menurutnya ucapan Presiden Prabowo memiliki pesan tersirat yang sangat penting di tengah gejolak nilai tukar rupiah.
Baca juga: Wall Street Runtuh Emas Terjun Bebas Panik?
Misbakhun menjelaskan bahwa inti dari pernyataan Presiden adalah upaya meredakan kekhawatiran masyarakat. Di tengah fluktuasi tajam kurs rupiah terhadap dolar AS yang memicu keresahan Presiden ingin menyampaikan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kokoh. Penegasan ini bahkan telah disampaikan pula oleh Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo sebelumnya. "Yang dimaksud Bapak Presiden itu orang desa tidak menggunakan dolar. Tapi itu adalah pesan yang tersirat. Tujuannya adalah menenangkan" tegas Misbakhun.

Lebih lanjut Misbakhun menekankan pentingnya menjaga stabilitas psikologis masyarakat. Ia berharap isu dolar AS yang menekan nilai tukar rupiah tidak sampai membanjiri percakapan publik di setiap sudut mulai dari warung kopi hingga warung Indomie yang berpotensi menimbulkan kepanikan. "Orang tujuannya menenangkan untuk menjaga stabilitas ketenangan psikologis masyarakat. Jangan sampai di warung kopi ngomongin dolar di warung Indomie ngomongin dolar terus di mana-mana ngomongin dolar. Terus apakah mereka benar bahwa beli Indomie beli kopi pakai dolar Enggak" tambahnya.
Baca juga: Panas! 3 Negara Ganti Pelatih Demi Piala Dunia!
Meski demikian Misbakhun mengakui bahwa depresiasi nilai tukar rupiah tentu memiliki dampak bagi masyarakat luas. Oleh karena itu ia menegaskan bahwa parlemen telah mendesak Bank Indonesia untuk menjalankan tugasnya secara serius dalam menjaga stabilitas mata uang nasional. DPR bahkan meminta Bank Sentral untuk melakukan operasi moneter yang terukur guna memperkuat rupiah. Target yang disepakati secara politik dalam asumsi makro APBN yaitu Rp16.500 menjadi acuan yang didorong.
Pernyataan Presiden Prabowo yang menjadi sorotan itu disampaikan saat peresmian operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Kabupaten Nganjuk Jawa Timur pada Sabtu 16 Mei 2026 silam. Kala itu Prabowo menyatakan bahwa efek pelemahan nilai tukar rupiah lebih terasa bagi kelompok yang sering bertransaksi internasional atau bepergian ke luar negeri bukan warga desa. "Nggak usah kalian khawatir itu. Mau dolar berapa ribu kek kan kalian di desa-desa nggak pakai dolar" ucap Prabowo.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa turut memberikan klarifikasi serupa. Purbaya menegaskan bahwa Presiden Prabowo sangat memahami kondisi rupiah terkini. Namun konteks pembicaraan saat itu adalah mengenai penggunaan langsung dolar AS oleh koperasi desa merah putih. "Itu konsumsi orang desa pada waktu kemarin. Jadi jangan anggap Pak Presiden gak ngerti Pak Presiden mengerti betul tentang rupiah. Cuma kan konteksnya di sana waktu kemarin (acara peresmian Koperasi Desa Merah Putih)" jelas Purbaya.
Di Istana Kenegaraan Purbaya kembali meyakinkan bahwa Presiden tidak asal bicara mengenai rupiah. Ia memastikan Presiden memahami sepenuhnya konteks pelemahan mata uang ini. "Bukan berarti pak presiden nggak ngerti rupiah dia kan juga beneran. Jadi konteksnya seperti itu" imbuhnya. Purbaya juga menambahkan bahwa pernyataan Presiden tersebut dimaksudkan untuk memberi rasa nyaman atau menenangkan rakyat. "Untuk menghibur rakyat saja waktu itu di sana. Saya sih lihat konteksnya pedesaan waktu kemarin itu. Gak apa-apa ngomong begitu" pungkas Purbaya.


Tinggalkan komentar