Ekonesia – Pasar keuangan domestik dilanda gejolak hebat menyusul eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas. Ketegangan geopolitik ini sontak memicu aksi jual di bursa saham dan menekan nilai tukar rupiah, mendorong Bank Indonesia untuk mempertimbangkan langkah drastis demi menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Baca juga: PLN Sulap Kantor Jadi Surga UMKM!
Pada perdagangan Jumat 8 Mei 2026 pagi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau merosot tajam. Pukul 10:03 WIB, indeks kebanggaan bursa Tanah Air itu terdepresiasi 0,25 persen, bertengger di level 7.156. Tak hanya saham, mata uang Garuda juga tak luput dari tekanan. Rupiah anjlok hingga menyentuh Rp 17.370 per dolar Amerika Serikat, sebuah level yang mengkhawatirkan bagi para pelaku pasar.

Ancaman pelemahan lebih lanjut terhadap rupiah menjadi perhatian serius otoritas moneter. Untuk meredam laju depresiasi dan membentengi nilai tukar rupiah, Bank Indonesia dikabarkan tengah menyiapkan kebijakan pembatasan pembelian dolar. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi permintaan mata uang asing di pasar domestik, sehingga tekanan terhadap rupiah bisa diredakan.
Baca juga: IHSG Meroket Hijau! Cuan Mengalir?
Para investor dan analis pasar kini mencermati berbagai sentimen yang berpotensi mempengaruhi pergerakan pasar ke depan. Selain konflik geopolitik, kebijakan moneter global dan data ekonomi domestik juga akan menjadi penentu arah. Analisis mendalam mengenai dinamika pasar terkini dan prospek kebijakan Bank Indonesia ini telah diulas oleh Mercy Widjaja dalam program Profit di CNBC Indonesia.



Tinggalkan komentar