Ekonesia – Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan OJK Friderica Widyasari Dewi atau akrab disapa Kiki menyatakan keyakinannya bahwa arus modal asing yang sempat keluar dari pasar keuangan Indonesia akan segera kembali. Optimisme ini disampaikan usai ia bersama sejumlah menteri ekonomi bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara Jakarta. Kiki menekankan bahwa fundamental ekonomi yang kokoh adalah penentu utama kembalinya investasi asing di tengah ketidakpastian global.
Baca juga: K3 Holistik: Jurus Ampuh Tekan Angka Kecelakaan Kerja?
Menurut Kiki fenomena keluarnya dana asing belakangan ini tak lepas dari gejolak geopolitik dan geoekonomi dunia. Kebijakan suku bunga tinggi yang dipertahankan oleh The Federal Reserve Amerika Serikat atau The Fed menjadi pemicu utama investor mengalihkan dananya dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Namun, Kiki percaya, selama fondasi ekonomi domestik tetap kuat, modal asing akan kembali mengalir deras.

OJK sendiri telah mengambil serangkaian langkah strategis untuk meningkatkan transparansi dan daya tarik pasar modal Indonesia. Sejak Januari lalu, merespons tuntutan investor global, OJK telah membuka data kepemilikan saham di atas 1%. Selain itu, kerincian data yang sebelumnya hanya 9 klasifikasi kini diperluas menjadi 39 klasifikasi yang jauh lebih detail. Informasi mengenai pemilik manfaat akhir atau Ultimate Beneficial Owner UBO juga telah diungkapkan. Tak ketinggalan, OJK juga mengatur peningkatan likuiditas melalui aturan free float di atas 15% secara bertahap.
Baca juga: Anak Konglomerat Hilang di Papua: Terungkap Fakta Sebenarnya?
Kiki menjelaskan, perbaikan-perbaikan ini mulai menunjukkan dampak positif. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan IHSG kini semakin sejalan dengan indeks-indeks utama lainnya seperti LQ45 dan IDX30, menandakan bahwa pergerakan saham lebih didorong oleh fundamental perusahaan. Menjelang pengumuman MSCI pada Mei dan Juni mendatang, serta rebalancing indeks MSCI di Maret, Kiki memprediksi akan ada penyesuaian sementara. Namun, ia berharap penyesuaian ini hanya bersifat temporer dan pasar akan semakin membaik secara fundamental.
Upaya pendalaman pasar juga terus digencarkan OJK. Jumlah investor di pasar modal Indonesia meningkat signifikan, sekitar 5 juta dalam setahun terakhir. Peningkatan partisipasi investor domestik ini diharapkan dapat menjadi bantalan yang kuat, menjaga stabilitas pasar di tengah guncangan eksternal.
Dalam pertemuan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto menyoroti serius fenomena capital outflow. Presiden ingin memahami lebih dalam penyebab keluarnya modal asing ini. Analisis menunjukkan bahwa outflow berasal dari pasar modal dan Surat Berharga Negara SBN, namun sebagian berhasil dinetralisir oleh instrumen Sertifikat Rupiah Bank Indonesia SRBI.
Airlangga menambahkan bahwa telah tercapai kesepakatan kerja sama antara Bank Indonesia BI dan Kementerian Keuangan untuk menjaga stabilitas arus modal ke depan. Kolaborasi ini diharapkan dapat memastikan bahwa capital outflow dapat dikelola dengan baik.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengkonfirmasi bahwa arus masuk modal asing ke pasar keuangan Indonesia sudah mulai terlihat, meskipun secara year to date masih tercatat outflow. Perry menjelaskan bahwa meskipun saham mengalami outflow, SRBI dirancang untuk menarik inflow. Dengan demikian, inflow dari SRBI dapat mengimbangi outflow dari SBN dan saham. Koordinasi erat antara BI dan Kementerian Keuangan ini bertujuan untuk menjaga agar portofolio asing tetap mencatat inflow secara year to date dan pada akhirnya memperkuat nilai tukar Rupiah.


Tinggalkan komentar