Harta Karun Rp 720 Miliar Gegerkan Laut Cirebon

Agus Riyadi

26 Juli 2026

3
Min Read

Ekonesia – Kisah luar biasa datang dari perairan Laut Jawa, tepatnya di lepas pantai Cirebon. Apa yang dialami seorang nelayan pada tahun 2003 ini jauh melampaui ekspektasi tangkapan ikan biasa. Bukan hanya jaringnya penuh hasil laut, namun ia juga mengangkat sebuah penemuan yang nilainya ditaksir mencapai ratusan miliar rupiah, mengubah pandangan dunia terhadap kekayaan bawah laut Indonesia.

Pada suatu pagi yang cerah di tahun 2003, seorang nelayan Cirebon yang namanya tak tercatat sejarah, tengah sibuk menebar jaring di Laut Jawa. Titik favoritnya berada sekitar 70 kilometer dari garis pantai, di kedalaman sekitar 50 meter, lokasi yang dikenal sebagai jalur lalu-lalang ikan. Dengan keyakinan akan hasil tangkapan yang melimpah, ia menunggu.

Harta Karun Rp 720 Miliar Gegerkan Laut Cirebon
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Setelah beberapa waktu, saat dirasa cukup, nelayan itu mulai menarik jaringnya. Namun, ada yang berbeda kali ini. Jaring terasa jauh lebih berat dari biasanya, memaksa ia mengerahkan seluruh tenaganya. Begitu jaring berhasil diangkat ke lambung kapal, dugaan sang nelayan terbukti. Di antara ikan-ikan yang terperangkap, tersangkut pula benda-benda asing berupa keramik. Penemuan tak terduga ini segera menyebar luas setibanya ia di daratan.

Singkat cerita, benda-benda yang ditemukan nelayan itu bukanlah keramik biasa, melainkan bagian dari harta karun bawah laut yang luar biasa. Pemerintah segera memberikan izin kepada perusahaan swasta untuk melakukan proyek pencarian dan penyelamatan. Dari eksplorasi lanjutan, terungkaplah bahwa di titik penemuan nelayan tersebut, tersembunyi bangkai kapal karam yang menyimpan kekayaan fantastis.

Peneliti dari Pusat Arkeologi Nasional, Eka Asih, dalam karyanya "Keramik Muatan Kapal Karam Cirebon" (2016), mencatat bahwa bangkai kapal di Cirebon itu menyimpan total 314.171 keramik, meliputi porselen, piring, mangkuk, dan berbagai jenis lainnya. Lebih lanjut, Michael S Krzemnick dkk, dalam risetnya "Radiocarbon Age Dating of 1,000-Year-Old Pearls from the Cirebon Shipwreck" (2017), mengungkapkan adanya 12.000 mutiara bernilai tinggi, ribuan permata, serta emas. Seluruh temuan ini, menurut laporan Detik.com pada April 2012, diperkirakan memiliki nilai mencapai Rp 720 Miliar.

Penemuan harta karun ini kelak tercatat sebagai salah satu penemuan arkeologi bawah laut terbesar di awal abad ke-21. Mayoritas keramik yang ditemukan berasal dari Dinasti Tang Tiongkok, sekitar abad ke-9 hingga ke-10 Masehi. Pada masa itu, keramik Tiongkok adalah komoditas mewah yang diperdagangkan secara luas, sering dikirim melalui jalur laut ke India, salah satu pusat perdagangan global.

Rute perdagangan umumnya melintasi Laut China Selatan, Selat Malaka, dan Samudra Hindia. Namun, kapal yang karam di perairan Cirebon ini diyakini bukan berasal dari Arab atau Tiongkok. Berdasarkan riset Eka Asih, kapal tersebut justru berasal dari wilayah Nusantara, atau Indonesia sendiri. Hal ini didukung oleh rekonstruksi arkeolog yang membandingkan temuan keramik di Cirebon dengan yang ada di Sumatera Selatan.

Hasil perbandingan menunjukkan kesamaan dengan temuan keramik di Kesultanan Palembang. Pada periode yang sama, saat Dinasti Tang aktif berdagang keramik, Kerajaan Sriwijaya tengah mencapai puncak kejayaan dengan aktivitas ekonomi yang sangat tinggi, bahkan menjangkau Tiongkok. Oleh karena itu, di sana juga ditemukan artefak serupa yang membantu mengungkap misteri harta karun Cirebon. Diduga, kapal tersebut mengangkut keramik Tiongkok yang telah diperdagangkan di Sumatera Selatan, menuju Pantai Utara Jawa bagian Timur. Sayangnya, di perairan Cirebon, kapal itu karam, membawa serta ribuan harta karunnya ke dasar laut, hingga akhirnya ditemukan oleh seorang nelayan pada tahun 2003. Peristiwa ini kini dikenal dalam sejarah sebagai Cirebon Wreck.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post