Minyak Dunia Terjun Bebas Misteri Terkuak

Agus Riyadi

29 Mei 2026

3
Min Read

Ekonesia – Pasar energi global dibuat terkejut. Harga minyak dunia kembali anjlok tajam pada perdagangan Jumat pagi, memperpanjang deretan tekanan yang terjadi sepanjang pekan ini. Penurunan drastis ini bukan tanpa sebab, melainkan imbas dari sebuah kabar yang mengubah peta ketegangan geopolitik.

Berdasarkan data Refinitiv hingga pukul 09.35 WIB, minyak Brent, patokan global, kini bertengger di level US$92,74 per barel, merosot signifikan dari posisi Kamis di US$93,71 per barel. Senada, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga tergelincir ke US$87,8 per barel, dari US$88,9 sehari sebelumnya.

Minyak Dunia Terjun Bebas Misteri Terkuak
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Kejatuhan ini mengkonfirmasi pembalikan arah yang mencolok di pasar energi global, yang dalam dua pekan terakhir bergejolak hebat. Bayangkan, pada 19 Mei 2026, Brent sempat menyentuh US$111,28 per barel dan WTI mencapai US$107,77 per barel. Kini, dalam kurun waktu kurang dari dua minggu, Brent telah terpangkas hampir 17%, sementara WTI kehilangan lebih dari 18% nilainya.

Aksi jual masif ini dipicu oleh semakin menguatnya keyakinan pasar bahwa risiko perang antara Amerika Serikat dan Iran, yang telah berlangsung hampir tiga bulan, mulai mereda. Reuters melaporkan bahwa Washington dan Teheran telah mencapai kesepakatan awal untuk memperpanjang gencatan senjata sekaligus membuka kembali jalur pelayaran vital di Selat Hormuz. Meski demikian, kesepakatan final masih menanti restu dari Presiden AS Donald Trump.

Sejak awal konflik, perhatian pasar memang terpusat pada Selat Hormuz. Jalur laut strategis ini merupakan arteri utama bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan seluruh pengiriman gas alam cair global. Selama ketegangan memuncak, lalu lintas kapal di kawasan itu sempat menyusut drastis, memicu lonjakan premi risiko geopolitik di pasar minyak.

Kini, seiring dengan terbukanya peluang kesepakatan damai, faktor ketegangan geopolitik perlahan menguap dari harga minyak. Wakil Presiden AS JD Vance bahkan menyatakan bahwa Washington dan Teheran "kian mendekati" kesepakatan, meskipun masih ada beberapa ganjalan seputar stok uranium yang diperkaya Iran dan isu pengayaan nuklir.

Harapan damai tersebut membuat pasar melepas sebagian besar kekhawatiran yang sebelumnya mendorong reli harga minyak. Pergerakan harga dalam beberapa sesi terakhir bahkan sangat ekstrem. Reuters mencatat, fluktuasi harga harian sempat mencapai US$6 per barel akibat tarik ulur informasi mengenai akhir konflik Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Data Refinitiv secara gamblang memperlihatkan betapa cepatnya pergeseran sentimen ini. Pada 18 Mei, Brent masih bertengger di US$112,1 per barel, lalu turun tipis ke US$111,28 pada 19 Mei. Harga sempat bergerak naik turun di area US$102-US$105 pada 20-21 Mei sebelum melonjak lagi ke US$103,54 pada 22 Mei. Namun, setelah itu, pasar berbalik arah secara drastis. Brent merosot ke US$96,14 pada 25 Mei, sempat memantul singkat ke US$99,58 sehari setelahnya, namun reli itu gagal bertahan. Dalam tiga hari terakhir, harga terus tergelincir dari US$94,29, kemudian US$93,71, dan kini tersisa US$92,74 per barel.

Pola serupa juga dialami WTI. Harga minyak AS sempat berada di atas US$108 per barel pada 18 Mei, lalu turun bertahap menuju area US$96 pada 21-25 Mei. Pada 26 Mei, WTI sempat melonjak ke US$93,89, namun sesudah itu kembali melemah hingga tersisa US$87,8 per barel pagi ini.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post