Ekonesia – Pasar modal Indonesia dikejutkan dengan performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjun bebas pada perdagangan Selasa 26 Mei 2026. Tekanan jual masif ini terjadi di tengah antisipasi libur panjang Idul Adha, sekaligus kontras dengan beberapa bursa Asia yang justru mencetak rekor baru. Investor tampak menahan diri, menciptakan sentimen "wait and see" yang kuat menjelang penutupan pasar selama dua hari ke depan.
Baca juga: Volvo Lokal: Hindari Tarif, SUV XC60 Made in USA!
Sejak pembukaan, IHSG langsung menunjukkan sinyal pelemahan, gagal mempertahankan momentum penguatan dari hari sebelumnya. Menjelang akhir sesi pertama, indeks kebanggaan Tanah Air ini merosot tajam hingga 71,11 poin atau setara 1,15 persen, bertengger di posisi 6.135,24. Sepanjang sesi, pergerakan IHSG sempat berfluktuasi antara level terendah 6.132,57 hingga tertinggi 6.286,87.

Aktivitas perdagangan mencatat nilai transaksi fantastis mencapai Rp 8,31 triliun, melibatkan volume 14,01 miliar saham yang berpindah tangan dalam 1,09 juta kali transaksi. Namun, dominasi sentimen negatif tak terhindarkan. Sebanyak 419 saham harus rela terkoreksi, jauh melampaui 240 saham yang berhasil menguat, sementara 153 saham lainnya bergerak stagnan. Sektor-sektor utama seperti konsumer primer, energi, dan finansial menjadi penarik utama pelemahan indeks. Saham-saham berkapitalisasi pasar besar atau blue chip seperti Bank Central Asia BBCA, Bank Rakyat Indonesia BBRI, dan Astra International ASII menjadi beban terberat, dengan BBCA sendiri menyumbang pelemahan sebesar 11,72 poin.
Baca juga: Mahasiswa, Kunci Atasi Krisis Perumahan?
Kondisi pasar domestik yang lesu ini tak lepas dari bayang-bayang libur panjang Idul Adha. Pasar keuangan Indonesia akan ditutup pada Rabu dan Kamis, dan baru akan kembali beroperasi pada Jumat. Situasi ini mendorong investor untuk mengambil posisi hati-hati, menghindari risiko yang mungkin muncul selama pasar libur.
Sementara itu, dinamika global juga turut mewarnai pergerakan pasar. Negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran di Doha untuk meredakan ketegangan tiga bulan terakhir menunjukkan secercah harapan. Pembicaraan yang mencakup isu pembukaan kembali Selat Hormuz dan program nuklir Iran ini memicu optimisme, meskipun Washington dan Teheran masih belum yakin kesepakatan akan tercapai dalam waktu dekat. Respons pasar terhadap optimisme ini cukup mengejutkan, dengan harga minyak dunia anjlok signifikan. Minyak Brent turun 7 persen ke level 96,14 dolar AS per barel, dan West Texas Intermediate WTI melemah lebih dari 6 persen menjadi 90,30 dolar AS per barel. Presiden AS Donald Trump menyatakan pembicaraan berjalan baik, namun tak segan mengancam serangan jika negosiasi gagal, sementara Menlu AS Marco Rubio menegaskan diplomasi tetap prioritas.
Di sisi lain, ketegangan regional di Timur Tengah masih membara. Israel terus meningkatkan serangannya terhadap Hezbollah di Lebanon, sementara Iran mengklaim berhasil menembak jatuh drone siluman di kawasan Teluk Persia. Insiden-insiden ini sebelumnya sempat memicu lonjakan harga minyak dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz, menambah lapisan ketidakpastian global.
Berbeda dengan IHSG, bursa-bursa utama di Asia menunjukkan pergerakan yang variatif. Optimisme terhadap potensi kemajuan negosiasi AS-Iran menjadi pendorong utama. Indeks utama Korea Selatan, KOSPI, bahkan mencetak rekor baru dengan melesat ke level tertinggi sepanjang masa di 8.094,90. Indeks saham lapis kecil Kosdaq juga turut menguat 2,12 persen. Namun, di Jepang, indeks Nikkei 225 sedikit terkoreksi 0,18 persen setelah sehari sebelumnya menembus level psikologis 65.000 untuk pertama kalinya. Indeks Topix juga melemah 0,36 persen akibat aksi ambil untung investor, sementara indeks S&P/ASX 200 Australia terkoreksi 0,17 persen. Futures indeks Hang Seng Hong Kong juga bergerak lebih rendah, mencerminkan sentimen pasar yang beragam di kawasan Asia.


Tinggalkan komentar