Ekonesia – Harga minyak global tiba-tiba merosot tajam pada perdagangan hari ini, memutus tren kenaikan perkasa yang terjadi sepanjang pekan lalu. Penurunan ini mengejutkan banyak pihak, mengingat Selat Hormuz, jalur vital energi dunia, masih diselimuti ketegangan geopolitik yang jauh dari normal. Minyak Brent kontrak Juli kini diperdagangkan di kisaran US$110,86 per barel, sedikit turun dari penutupan sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) anjlok cukup dalam ke US$103,66 per barel.
Baca juga: Petani Kaltim Siap Go Global! Didukung Sertifikasi Sawit
Sebelumnya, pasar energi global sempat dilanda kekhawatiran ekstrem. Dalam dua pekan terakhir, harga Brent melonjak hampir 12%, dari US$100,06 per barel pada awal Mei menjadi puncak US$112,10 per barel. Pemicunya adalah eskalasi konflik antara Iran dan Israel yang memicu spekulasi terganggunya pasokan minyak dari Timur Tengah, membuat pasar global cemas.

Namun, kelegaan muncul setelah kabar mengejutkan terkuak. Dua kapal tanker raksasa asal Tiongkok, dengan total muatan 4 juta barel minyak mentah, berhasil keluar dari Selat Hormuz. Kapal-kapal ini sebelumnya tertahan selama lebih dari dua bulan di kawasan Teluk, memicu kecemasan pasar akan kelangkaan pasokan. Keberhasilan mereka melintas memberi sinyal bahwa pasokan fisik masih mengalir, meredakan sebagian tekanan risiko geopolitik.
Baca juga: PMK Mengancam! DPR Turun Tangan Selamatkan Ternak
Kapal-kapal super besar tersebut membawa minyak Basrah dari Irak dan al-Shaheen dari Qatar, menuju pelabuhan di Tiongkok. Salah satunya, Yuan Gui Yang, mengangkut 2 juta barel minyak Irak untuk Unipec, unit perdagangan Sinopec. Sementara Ocean Lily membawa kombinasi minyak Irak dan Qatar ke Fujian. Informasi ini memberi napas lega bagi pasar, yang sebelumnya sangat khawatir akan terganggunya arus tanker di Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi pintu keluar hampir seperlima perdagangan minyak dunia.
Meskipun demikian, situasi di Selat Hormuz tetaplah rentan dan jauh dari kata normal. Reuters melaporkan bahwa kapal-kapal tanker kini harus mengikuti rute transit khusus yang ditetapkan oleh Iran. Ini menunjukkan bahwa meskipun arus energi global belum lumpuh, pergerakannya berada di bawah tekanan politik dan militer yang signifikan.
Pergerakan harga minyak belakangan ini mencerminkan tarik-ulur antara realitas pasokan fisik yang masih berjalan dan risiko eskalasi geopolitik yang membayangi. Pasar terus menimbang potensi gangguan. Satu saja insiden, baik serangan terhadap fasilitas minyak, kapal tanker, atau penutupan jalur laut, bisa langsung memicu lonjakan harga kembali ke puncak tertinggi tahun ini. Volatilitas tinggi masih akan menjadi teman setia pasar energi global dalam waktu dekat.


Tinggalkan komentar