Guncangan Pasar IHSG Terjun Bebas Rupiah Merana

Agus Riyadi

19 Mei 2026

3
Min Read

Ekonesia – Pasar keuangan Indonesia dilanda gejolak hebat pada Selasa 19 Mei 2026, saat Indeks Harga Saham Gabungan IHSG anjlok tajam dan nilai tukar rupiah terperosok ke level psikologis baru terhadap dolar Amerika Serikat. Sentimen negatif global, terutama dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah, menjadi pemicu utama koreksi mendalam ini.

Pada pukul 11.11 WIB, IHSG tercatat merosot 2% atau setara 136,33 poin, bertengger di posisi 6.462,91. Perdagangan hari itu diwarnai dominasi aksi jual, dengan 454 saham mengalami penurunan harga, berbanding 212 saham yang menguat dan 293 saham yang tidak bergerak. Total nilai transaksi mencapai angka fantastis Rp 10,61 triliun, melibatkan 17,34 miliar saham dalam 1,26 juta kali transaksi. Akibatnya, kapitalisasi pasar ikut tergerus, menyusut menjadi Rp 11.261 triliun. Sejak pembukaan, IHSG memang menunjukkan volatilitas tinggi, sempat dibuka melemah 0,5% sebelum sesaat mencicipi zona hijau, namun akhirnya kembali tertekan kuat.

Guncangan Pasar IHSG Terjun Bebas Rupiah Merana
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Bersamaan dengan anjloknya IHSG, nilai tukar rupiah juga menghadapi tekanan berat. Mata uang Garuda ini kembali menembus batas krusial baru terhadap dolar AS. Berdasarkan data Refinitiv pada pukul 09.13 WIB, rupiah tergelincir 0,34% ke posisi Rp17.700/US$. Pelemahan ini merupakan kelanjutan dari tren negatif yang sudah terlihat sejak pembukaan perdagangan pagi, di mana rupiah dibuka pada level Rp17.650/US$ atau melemah 0,06%. Fenomena ini cukup menarik, mengingat Indeks Dolar AS DXY justru terpantau melemah 0,11% ke 99,094, menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah lebih banyak berasal dari faktor domestik atau sentimen risiko global non-dolar.

Dinamika geopolitik global menjadi sorotan utama yang memicu kekhawatiran pasar. Melalui platform Truth Social, mantan Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa militer Amerika Serikat telah diminta untuk membatalkan serangan militer yang direncanakan terhadap Iran. Pembatalan ini disebut atas permintaan dari para pemimpin Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab yang berupaya meredakan ketegangan. Trump menyatakan bahwa peluang kesepakatan damai masih terbuka, yang diharapkan dapat diterima oleh AS dan negara-negara Timur Tengah, termasuk jaminan non-proliferasi nuklir Iran.

Namun, di sisi lain, Trump juga menegaskan bahwa militer AS tetap siaga penuh untuk melancarkan serangan skala besar kapan saja jika kesepakatan yang memadai dengan Iran tidak tercapai. Situasi yang penuh ketidakpastian ini membuat investor cenderung mengambil posisi hati-hati, khawatir akan potensi eskalasi konflik di kawasan tersebut. Selain itu, Selat Hormuz, yang merupakan urat nadi vital distribusi minyak global, dilaporkan masih ditutup oleh Teheran di tengah situasi gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran. Bersamaan dengan itu, Amerika Serikat juga disebut terus memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, menambah kompleksitas dan risiko terhadap pasokan energi global. Kondisi ini menciptakan awan gelap yang menyelimuti prospek pasar keuangan dan ekonomi dunia.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post