Ekonesia – Ketua Federal Reserve The Fed Kevin Warsh baru-baru ini mengguncang pasar finansial global dengan pernyataannya yang mengindikasikan bahwa bank sentral Amerika Serikat masih sangat serius menghadapi ancaman inflasi. Sinyal tak terduga ini sontak memicu lonjakan imbal hasil obligasi Treasury AS terutama tenor pendek sekaligus menekan performa pasar saham.
Baca juga: Mimpi Piala Dunia Kiper Jerman Terancam Pupus
Mengutip laporan The Wall Street Journal, Warsh menegaskan bahwa The Fed mungkin perlu upaya ekstra untuk mengendalikan inflasi. Pernyataan tersebut segera membuat pasar kembali memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed bulan September mendatang. Data dari CME Group menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga telah melonjak drastis menjadi sekitar 58% dari sebelumnya 35% pada Kamis 27 Agustus 2026.

Sinyal tegas dari Warsh ini sekaligus menepis kekhawatiran pasar bahwa ia akan enggan menaikkan suku bunga akibat tekanan dari Presiden Donald Trump. Kecemasan serupa sebelumnya turut mendorong kenaikan yield Treasury jangka panjang yang menjadi salah satu tolok ukur biaya pinjaman di perekonomian AS.
Namun beberapa investor justru melihat pernyataan Warsh menempatkan The Fed dalam dilema pelik. Pasar kini bisa memberikan tekanan agar bank sentral menaikkan suku bunga pada September meskipun kondisi ekonomi riil belum tentu membutuhkan kebijakan tersebut. George Catrambone Kepala Divisi Pendapatan Tetap Amerika di DWS mengungkapkan keraguannya. "Pada dasarnya Anda telah memberi sinyal kepada pasar bahwa The Fed kurang lebih akan menaikkan suku bunga. Saya hanya tidak yakin bahwa ketika data masuk hal itu akan terjadi," ujarnya seperti dikutip dari WSJ Sabtu 29 Agustus 2026.
Menurut Catrambone kenaikan suku bunga berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi ketika konsumen mulai menunjukkan pelemahan. Sebaliknya jika The Fed tidak menaikkan bunga pasar obligasi jangka panjang berisiko kembali mengalami aksi jual karena investor mempertanyakan reputasi Warsh dalam mengendalikan inflasi.
Pasar Saham Relatif Tenang
Meski mengejutkan respons pasar saham terhadap pernyataan Warsh terbilang moderat. Indeks Dow Jones Industrial Average turun kurang dari 01% S&P 500 melemah 02% sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 05%. Pergerakan ini jauh lebih tenang dibandingkan reaksi pasar setelah dua penampilan Warsh sebelumnya sebagai ketua The Fed yaitu dalam konferensi pers setelah rapat pada Juni dan Juli.
Pada Juni Warsh sempat mengejutkan investor dengan mengungkapkan kekhawatirannya terhadap inflasi. Sebulan kemudian pasar justru dibuat gelisah setelah sejumlah pernyataannya memunculkan pertanyaan mengenai kesediaannya menerjemahkan kekhawatiran tersebut ke dalam kebijakan moneter.
Di tengah pasar saham yang masih membukukan penguatan dalam beberapa bulan terakhir gejolak justru lebih kentara di pasar obligasi. Setelah rapat The Fed pada Juli yield Treasury 30 tahun sempat menembus 53% level tertinggi sejak 2007. Kondisi itu mendorong Departemen Keuangan AS pekan lalu mengumumkan rencana untuk setidaknya menggandakan pembelian obligasi pemerintah jangka panjang melalui program buyback.
Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan program tersebut ditujukan untuk meredam lonjakan yield obligasi jangka panjang yang dinilainya tidak sejalan dengan fundamental ekonomi AS. Langkah tersebut tampaknya mulai memberikan dampak. Yield Treasury 30 tahun ditutup di 5207% pada Jumat 28 Agustus 2026 turun dari 5266% pada Rabu sebelum pengumuman buyback. Namun yield Treasury 10 tahun justru naik menjadi 4721% dibandingkan 4671% pada Kamis dan 4682% sebelum pengumuman buyback. Yield obligasi bergerak berbanding terbalik dengan harga obligasi dan mencerminkan ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Fed.
Pasar Masih Menebak Arah The Fed
Tekanan juga terlihat pada saham-saham yang rentan terhadap dinamika ekonomi. Indeks Russell 2000 turun 14% sementara sektor industri S&P 500 melemah 1%. Kepala Investasi Alphastar Capital Management Tony Parish menilai Warsh masih menyisakan ketidakpastian arah kebijakan moneter. "Warsh meninggalkan banyak hal dalam ketidakpastian. Jika ada perubahan dalam kepastian itu mengarah pada kemungkinan kenaikan suku bunga yang tidak disukai pasar," kata Parish.
Sementara itu investor saham sejauh ini relatif mengabaikan turbulensi pasar obligasi dan lebih fokus pada kinerja laporan keuangan yang solid. Saham juga mendapat dorongan setelah kinerja Nvidia meredakan kekhawatiran terkait permintaan chip kecerdasan buatan AI. Adapun S&P 500 kini hanya sekitar 1% dari level tertinggi sepanjang masa.
Namun September secara historis menjadi salah satu bulan yang sarat gejolak bagi pasar saham. Dengan pertemuan The Fed berikutnya yang dijadwalkan pada 16 September 2026 investor masih menantikan rilis data ekonomi berikutnya untuk mengetahui arah kebijakan suku bunga. Kepala Strategi Makro LPL Financial Kristian Kerr mengatakan pernyataan Warsh belum memberikan kepastian mengenai keputusan The Fed. "Masih ada unsur mencoba memahami Warsh. Itu akan berlanjut untuk sementara waktu," kata Kerr.











Tinggalkan komentar