Ekonesia – Sebuah pergerakan saham yang mencuri perhatian terjadi pada PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), atau yang dikenal luas sebagai Moratel. Transaksi jumbo di pasar negosiasi ini melibatkan nilai fantastis mencapai Rp17,64 miliar. Sebanyak 4.150.000 lembar saham MORA berpindah tangan dengan harga Rp4.250 per saham, namun identitas broker yang memfasilitasi serta tujuan di balik transaksi masif ini masih menjadi misteri yang belum terpecahkan.
Baca juga: Menhub Minta Tambahan Dana! Ada Apa dengan Anggaran?
Kehebohan transaksi ini berlangsung di tengah fluktuasi harga saham MORA yang justru menunjukkan pelemahan. Pada pukul 09.26 WIB, saham MORA tercatat merosot 1,89% ke level Rp4.660. Meskipun demikian, kapitalisasi pasar perusahaan penyedia infrastruktur digital ini tetap kokoh di angka Rp222,63 triliun, menunjukkan skala bisnisnya yang besar.

Spekulasi mengenai transaksi misterius ini semakin menguat mengingat MORA sedang dalam proses strategis besar. Perusahaan ini dikabarkan akan segera melakukan merger dengan PT Eka Mas Republik atau MyRepublic, entitas yang bernaung di bawah grup Sinar Mas. Dalam skema penggabungan ini, MORA diproyeksikan menjadi perusahaan yang menerima merger, yang berarti akan ada penambahan modal signifikan. Konsekuensinya, kepemilikan para pemegang saham MORA saat ini berpotensi terdilusi hingga 50,5%.
Baca juga: Temasek Incar Investasi Baru di Indonesia?
Langkah strategis ini bukan tanpa alasan. MyRepublic, bersama dengan PT Telemadia Komunikasi Pratama yang merupakan anak usaha Surge, baru-baru ini berhasil memenangkan lelang frekuensi 1,4 Ghz. Khususnya MyRepublic, mereka mengamankan dua dari tiga regional yang diperebutkan, yakni Regional II dan Regional III. Kemenangan ini tentu menjadi aset berharga yang akan memperkuat posisi gabungan MORA dan MyRepublic di lanskap telekomunikasi Indonesia.


Tinggalkan komentar