Saham JELI BACH Anjlok RANS Meroket Konglomerat Serbu

Agus Riyadi

12 Juli 2026

4
Min Read

Ekonesia – Bursa saham Jakarta pada Jumat 10 Juli 2026 menyajikan pemandangan kontras bagi emiten pendatang baru. Dua perusahaan yang baru melantai di awal Juli, PT Niramas Utama Tbk JELI dan PT Bach Multi Global Tbk BACH, kompak tertekan aksi jual masif. Di sisi lain, PT Rans Entertainment Indonesia Tbk RANS milik Raffi Ahmad justru melesat tinggi memimpin daftar saham paling diincar.

Saham JELI produsen makanan ringan merek INACO menjadi yang paling terpukul. Emiten ini anjlok tajam 1481 persen hingga menyentuh batas Auto Rejection Bawah ARB di level Rp1495 per saham. Sementara itu saham BACH perusahaan penyedia genset dan infrastruktur telekomunikasi yang terafiliasi dengan Grup Djarum juga rontok nyaris 10 persen ke posisi Rp500 per saham.

Saham JELI BACH Anjlok RANS Meroket Konglomerat Serbu
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Penurunan JELI bukan tanpa sebab. Valuasi perusahaan dinilai sudah terlalu tinggi jauh meninggalkan kinerja labanya. Sepanjang tahun 2025 JELI hanya membukukan laba bersih Rp39 miliar. Angka ini memang melonjak drastis 2355 persen dibanding tahun sebelumnya namun persentase fantastis itu berasal dari basis yang sangat kecil. Dengan laba sekecil itu harga IPO JELI sudah mencerminkan rasio harga terhadap laba PER di kisaran 31-39 kali. Angka ini jauh di atas rata-rata emiten sejenis di sektor makanan dan minuman yang berkisar 12-18 kali. Valuasi ini semakin sulit dipertanggungjawabkan dengan kinerja riil perusahaan.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah arah bisnis inti JELI. Pendapatan perusahaan justru menyusut selama tiga tahun berturut-turut dari Rp83894 miliar pada 2023 menjadi Rp75305 miliar pada 2025. Ini mengindikasikan lonjakan laba bukan karena peningkatan volume penjualan melainkan dari efisiensi dan perbaikan margin. Sumber pertumbuhan semacam ini memiliki batas dan tidak bisa diulang tanpa henti setiap tahun. Ketika ruang efisiensi menipis pertanyaan besar muncul apakah penjualan benar-benar bisa tumbuh berkelanjutan.

Sinyal merah lainnya datang dari arus kas operasional JELI yang ambruk sekitar 83 persen pada 2025. Hal ini disebabkan lonjakan piutang usaha dari Rp10421 miliar menjadi Rp17413 miliar akibat penjualan kredit menjelang akhir tahun. Kondisi ini menjadi peringatan klasik tentang kualitas laba keuntungan yang tercatat di atas kertas belum tentu berubah menjadi kas riil di tangan perusahaan sekaligus memunculkan risiko gagal bayar dari distributor.

Pelemahan saham BACH juga didahului oleh sinyal yang patut diwaspadai. Data ringkasan broker sejak pencatatan menunjukkan satu broker tercatat sebagai penjual bersih terbesar senilai sekitar Rp1174 miliar dengan indikasi fase Big Distribution. Jejak seperti ini seringkali mendahului tekanan harga pada saham yang baru melantai.

Dari sisi fundamental likuiditas BACH menjadi sorotan utama. Rasio kas cash ratio pada 2025 hanya 002 kali atau sekitar 2 persen anjlok dari 009 kali tahun sebelumnya. Angka setipis itu menunjukkan ruang gerak yang sangat sempit bagi perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Kondisi ini perlu terus dipantau terutama karena sebagian dana IPO dialokasikan untuk modal kerja pembelian genset.

Persoalan lain adalah ketergantungan BACH pada pihak terafiliasi. Sebagian besar klien di lini telekomunikasi merupakan entitas dalam ekosistem Grup Djarum seperti TOWR Protelindo dan SUPR. Struktur ini memang memberikan stabilitas pendapatan jangka pendek namun membuat kinerja perusahaan sangat bergantung pada keputusan bisnis internal grup bukan murni dinamika pasar.

Secara operasional BACH menghadapi risiko rantai pasok. Ketergantungan pada prinsipal genset luar negeri seperti Himoinsa dan Guangdong Westinpower membuat perusahaan rentan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan gangguan pasokan global. Selain itu peningkatan rasio utang mengikat perusahaan pada perjanjian ketat dari perbankan yang dapat membatasi ruang gerak aksi korporasi tanpa persetujuan kreditur.

Tak kalah penting adalah potensi overhang pada struktur kepemilikan. Prospektus mengungkap adanya perjanjian opsi antara pemegang saham di mana PT Global Telekomunikasi Prima GTP entitas Djarum akan mengeksekusi hak opsi pembelian saham sehingga kepemilikannya di BACH naik menjadi 51 persen. Perubahan struktur pengendalian secepat itu dijadwalkan terjadi tak lebih dari lima hari kerja setelah pencatatan saham di bursa menjadi variabel yang perlu dicermati investor jangka menengah. Dengan porsi saham publik atau free float hanya 1506 persen jumlah saham yang beredar di pasar relatif terbatas. Kondisi ini membuat harga BACH lebih mudah bergerak liar oleh volume perdagangan yang tidak terlalu besar memperbesar volatilitas di pasar.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan kinerja PT RANS Entertainment Indonesia Tbk RANS. Perusahaan milik selebriti Raffi Ahmad ini melesat ke Auto Rejection Atas ARA pada hari perdananya memimpin daftar saham paling untung. Saat pembukaan RANS mencatatkan harga Rp228 per lembar saham dan langsung melonjak 3412 persen mencapai ARA.

Momen IPO RANS bahkan dihadiri langsung oleh sejumlah konglomerat ternama. Salah satunya adalah Andi Syamsuddin Arsad atau Haji Isam yang ikut memencet bel pembukaan bersama Raffi Ahmad Nagita Slavina dan jajaran direksi RANS. Selain Haji Isam beberapa tokoh penting lain turut hadir seperti generasi ketiga pemilik Salim Group Axton Salim pemilik Adaro Garibaldi Boy Thohir Ketua Kadin Anindya Bakrie dan CEO SCTV Sutanto Hartono.

Raffi Ahmad pendiri RANS mengungkapkan Haji Isam memiliki 1 persen saham RANS. Beliau juga menjadi salah satu mentor saya katanya dalam seremoni pencatatan saham di Gedung BEI Jakarta.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post