Ekonesia – Pasar keuangan Tanah Air tengah dihebohkan oleh potensi penguatan signifikan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Sejumlah ekonom terkemuka memprediksi mata uang Garuda bisa melonjak tajam, bahkan berpotensi menyentuh level psikologis Rp17.500 per dolar AS. Angin segar ini berembus kencang seiring kabar rencana pencapaian kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang diperkirakan terwujud dalam waktu dekat.
Baca juga: Indonesia-Turki Bersatu! Satelit Canggih Siap Mengudara?
Myrdal Gunarto, Ekonom dari PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, mengungkapkan optimisme terhadap prospek rupiah. Menurutnya, meredanya ketegangan geopolitik akibat resolusi konflik AS-Iran akan menjadi sinyal positif yang kuat bagi pasar keuangan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. "Dengan adanya penurunan tensi geopolitik setelah kesepakatan damai terwujud, kami melihat ada sinyal positif bagi pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia, dan ini menjadi sinyal positif bagi rupiah," ujar Myrdal. Ia bahkan tidak menampik kemungkinan rupiah kembali ke kisaran Rp17.500 per dolar AS jika kesepakatan tersebut benar-benar terealisasi, dengan menetapkan level resistensi di Rp17.426 per dolar AS.

Namun, Myrdal menambahkan bahwa penguatan rupiah yang berkelanjutan memerlukan dukungan sentimen lain yang tak kalah penting. Penurunan harga minyak global hingga di bawah level US$80 per barel, daya tarik fundamental perusahaan domestik yang kuat, serta derasnya arus modal asing yang masuk ke pasar keuangan Indonesia akan menjadi katalisator tambahan yang krusial.
Baca juga: Juragan Rokok Terkaya Dulunya Bakul Petasan?
Senada dengan Myrdal, Ekonom Bank Permata Josua Pardede juga melihat rencana kesepakatan damai AS-Iran sebagai pendorong positif bagi rupiah. Ia mengakui potensi rupiah untuk menguat hingga Rp17.500 per dolar AS. "Rencana kesepakatan damai AS-Iran dapat menjadi sinyal positif bagi pasar keuangan Indonesia, termasuk rupiah, bisa saja menguat ke level Rp17.500/US$," kata Josua. Meski demikian, Josua mengingatkan bahwa untuk mempertahankan posisi di level tersebut, rupiah membutuhkan kombinasi faktor yang sangat kuat dan berkelanjutan.
Menurut Josua, peluang rupiah mencapai Rp17.500 per dolar AS mungkin bersifat sementara. Keberlanjutan penguatan ini sangat bergantung pada beberapa kondisi, seperti kelancaran penandatanganan kesepakatan, penurunan harga minyak yang lebih dalam, pelemahan dolar AS secara global, terus berlanjutnya aliran modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Surat Berharga Rupiah Indonesia (SRBI, serta ketiadaan kejutan negatif dari kebijakan domestik. Untuk pekan ini, Josua memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.550 hingga Rp17.850 per dolar AS.
Di sisi lain, Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual memiliki pandangan yang sedikit lebih konservatif untuk jangka pendek. Ia memprediksi rupiah memang akan menguat berkat kabar kesepakatan AS-Iran, namun belum akan menyentuh level Rp17.500 per dolar AS dalam waktu dekat. David menekankan bahwa kesepakatan ini adalah sinyal positif bagi pasar global secara keseluruhan, bukan hanya Indonesia.
"Terdapat potensi untuk rupiah melanjutkan penguatan dibandingkan level saat ini, dengan syarat tambahan katalis selain dari perjanjian damai AS-Iran tadi, seperti keputusan rapat The Fed yang less-hawkish, ketenangan geopolitik yang lebih meyakinkan pasar, serta aksi BI yang pro-stabilitas dapat berkontribusi pada penguatan kurs," jelas David. Ia memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.700 hingga Rp17.800 per dolar AS sepanjang pekan ini, mengingat masih banyak sentimen lain yang turut mempengaruhi pergerakannya.




Tinggalkan komentar