Ekonesia – Sinyal bahaya kian terang di sektor perbankan Tanah Air. Para pakar ekonomi memperingatkan potensi "perang bunga" yang semakin memanas, dipicu oleh kondisi likuiditas yang menipis di tengah tren kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate). Situasi genting ini tidak hanya mengancam stabilitas keuangan bank, tetapi juga berpotensi mencekik masyarakat dengan beban bunga kredit yang lebih tinggi.
Baca juga: IHSG Terbang Tinggi! Akhir Pekan Penuh Cuan?
M. Rizal Taufikurahman, Kepala Center of Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), menyoroti bahwa bank-bank kategori menengah, khususnya Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) II dan III, merasakan dampak paling parah dari pengetatan likuiditas ini. Kondisi tersebut memicu persaingan sengit dalam memperebutkan dana masyarakat, yang pada akhirnya bisa berujung pada adu penawaran suku bunga deposito. Bank-bank yang memiliki ketergantungan besar pada dana murah (Current Account, Saving Account/CASA) akan sangat dirugikan, membuat beban biaya dana mereka melambung tinggi. Akibatnya, ruang gerak untuk menurunkan suku bunga kredit bagi nasabah menjadi sangat terbatas, bahkan cenderung menaik.

"Jika kompetisi bunga ini benar-benar pecah, biaya dana bank akan melonjak, menekan margin bunga bersih (NIM), dan mempersempit peluang penurunan bunga kredit," jelas Rizal. Ia menekankan pentingnya peran pemerintah dan otoritas moneter untuk tidak hanya menjaga stabilitas moneter, tetapi juga memastikan ketersediaan likuiditas yang memadai agar fungsi intermediasi perbankan tidak terganggu.
Baca juga: Terungkap Strategi Bank Raya Kuasai Pasar Digital
Di sisi lain, Josua Pardede, Chief Economist Bank Permata, memberikan pandangan yang sedikit berbeda. Menurutnya, persoalan utama bukanlah kekurangan likuiditas secara keseluruhan, melainkan distribusi dana yang belum merata di antara bank-bank. Bank-bank besar (KBMI IV) cenderung memiliki posisi yang lebih kuat berkat basis dana murah yang luas dan ekosistem transaksi yang mapan. Sementara itu, bank-bank menengah (KBMI II-III) lebih rentan terhadap pergeseran dana dari para deposan besar.
Josua menambahkan, sinyal-sinyal perang bunga memang sudah mulai terdeteksi, namun masih bersifat selektif dan belum meluas ke seluruh industri perbankan. Data menunjukkan bahwa struktur simpanan perbankan sangat terkonsentrasi pada bank-bank besar. Hingga Mei 2026, total simpanan di KBMI IV mencapai angka fantastis Rp5.550,8 triliun, jauh melampaui KBMI I, KBMI II, dan KBMI III. Dalam iklim suku bunga acuan yang terus meningkat, ditambah daya tarik instrumen seperti SRBI dan SBN ritel dengan kupon tinggi, bank-bank menengah terpaksa harus menawarkan bunga yang lebih kompetitif demi mempertahankan dan menarik dana dari nasabah. Ini menjadi tantangan besar yang harus dihadapi perbankan Indonesia di masa mendatang.










Tinggalkan komentar