Pejabat Tinggi Bongkar Kekuatan Pasar Modal RI

Agus Riyadi

17 Juli 2026

2
Min Read

Ekonesia – Suasana semarak menyelimuti Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta pada Rabu 15 Juli 2026. Para pemangku kepentingan utama sektor keuangan, mulai dari perwakilan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Bank Indonesia (BI), hingga Otoritas Jasa Keuangan (OJK), berkumpul dalam sebuah forum investasi yang krusial. Pertemuan tingkat tinggi ini berlangsung di tengah gairah pasar saham yang terus bergerak di zona hijau, didorong oleh performa cemerlang saham-saham perbankan.

Friderica Widyasari Dewi, Ketua Dewan Komisioner OJK, menegaskan bahwa kancah pasar modal domestik kini berdiri kokoh. Kekuatan utamanya bersumber dari porsi investor lokal yang kian membesar. Dengan jumlah investor yang menembus angka 30 juta jiwa, pasar modal Indonesia tidak lagi terlalu bergantung pada gejolak sentimen investor asing. Ini menjadi fondasi kuat yang menjamin stabilitas dan pertumbuhan berkelanjutan.

Pejabat Tinggi Bongkar Kekuatan Pasar Modal RI
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Dari ranah legislatif, Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati menyoroti peran strategis Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK). Regulasi ini, hasil kolaborasi eksekutif dan legislatif, merupakan instrumen vital untuk mewujudkan hilirisasi di sektor finansial Tanah Air. Sari menjelaskan, UU P2SK membuka jalan bagi integrasi kekuatan sumber daya alam Indonesia dengan kecanggihan sektor keuangan, menciptakan nilai tambah yang signifikan.

Senada, Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun memberikan pandangannya terkait fluktuasi di bursa saham nasional. Menurutnya, pelemahan pasar saham lebih didominasi oleh sentimen serta persepsi para pelaku pasar, bukan karena memburuknya fundamental emiten atau kondisi ekonomi domestik secara keseluruhan. Misbakhun mencontohkan, persepsi terhadap suku bunga dolar Amerika Serikat seringkali memicu reaksi berlebihan di pasar domestik.

Bank Sentral, melalui Deputi Senior Bank Indonesia Destry Damayanti, menyambut baik inisiatif pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII). Destry meyakini, keberadaan PFII akan menjadi platform strategis untuk menarik arus investasi global masuk ke Indonesia. Lebih jauh, PFII dipandang mampu memperkokoh daya tahan eksternal negara, khususnya melalui penguatan neraca pembayaran.

Menanggapi potensi penyesuaian jumlah saham Indonesia dalam indeks MSCI, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik memberikan pandangannya yang optimis. Ia menilai hal tersebut sebagai konsekuensi rasional dalam jangka pendek. Namun, Jeffrey tetap yakin bahwa dalam jangka panjang, prospek pasar modal Indonesia akan jauh lebih cerah dan menjanjikan.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post