Ekonesia – Pasar energi global bergejolak hebat menyusul serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran yang dibarengi dengan pemberlakuan kembali sanksi ketat atas ekspor minyak Teheran. Langkah provokatif ini sontak memicu kekhawatiran mendalam akan pasokan energi dunia, terutama di tengah memanasnya kembali situasi di sekitar Selat Hormuz yang vital.
Baca juga: Pensiun Aman? Ini Trik Kaya Robert Kiyosaki!
Data Refinitiv pada Rabu pagi menunjukkan harga minyak mentah Brent melonjak tajam, mencapai US$75,91 per barel, melesat 2,36% dari penutupan sebelumnya. Tak ketinggalan, minyak West Texas Intermediate (WTI) juga menguat signifikan, diperdagangkan di level US$72,18 per barel, naik 2,47%. Kenaikan ini memperpanjang tren pemulihan harga minyak dalam beberapa hari terakhir, dengan Brent dan WTI masing-masing telah melambung sekitar 5,5% dan 5,3% sejak awal pekan.

Menurut laporan sejumlah kantor berita internasional, Washington melancarkan serangan terarah ke beberapa fasilitas pertahanan udara, sistem pengawasan pantai, serta lokasi peluncuran rudal antikapal dan drone milik Iran. Bersamaan dengan itu, pemerintah AS mencabut kelonggaran yang sebelumnya memungkinkan Iran menjual minyaknya ke pasar internasional, memperketat cengkeraman sanksi ekonomi.
Baca juga: Borneo FC Mengamuk Puncak Klasemen Bergetar
Situasi genting ini sontak membangkitkan kembali kecemasan akan potensi gangguan distribusi minyak di kawasan Timur Tengah. Selat Hormuz, sebagai jalur pelayaran krusial bagi perdagangan energi global, kini kembali menjadi sorotan utama, menambah daftar panjang ketidakpastian geopolitik.
Meski demikian, para pelaku pasar belum sepenuhnya dilanda kepanikan. Jason Wong, Senior Strategist BNZ di Wellington, menyoroti bahwa pasar minyak dalam beberapa bulan terakhir telah menunjukkan ketahanan yang cukup baik dalam menghadapi berbagai guncangan pasokan. Namun, ia memperingatkan bahwa ruang penyangga kini semakin menipis lantaran cadangan minyak global berada pada level yang sangat rendah.
Kondisi ini diperparah dengan data terbaru yang mengungkapkan bahwa cadangan minyak di Strategic Petroleum Reserve (SPR) Amerika Serikat telah anjlok ke titik terendah sejak tahun 1983. Situasi ini secara signifikan mengurangi kapasitas AS untuk meredam gejolak apabila pasokan minyak global kembali terganggu oleh eskalasi konflik.
Di luar sektor energi, lonjakan harga minyak turut memicu aksi jual di pasar obligasi pemerintah AS. Investor mulai mengantisipasi potensi tekanan inflasi yang lebih tinggi jika harga energi terus merangkak naik. Sementara itu, pasar saham global bergerak lebih berhati-hati, mencerminkan meningkatnya ketidakpastian geopolitik yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi dunia.











Tinggalkan komentar