Mengapa Tuyul Tak Mampu Curi Uang di Bank Ternyata Ini

Agus Riyadi

17 Mei 2026

4
Min Read

Ekonesia – Kisah tentang tuyul, entitas gaib yang konon piawai menggasak harta, telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari folklor Nusantara. Makhluk bertubuh mungil ini dipercaya mampu mencuri uang demi tuannya. Namun, sebuah pertanyaan klasik kerap mengemuka di tengah masyarakat: benarkah tuyul tak berdaya di hadapan bank dan tak bisa mencuri uang di sana?

Dalam khazanah budaya Jawa, budayawan Suwardi Endraswara melalui karyanya "Dunia Hantu Orang Jawa" (2004) menguraikan aktivitas tuyul yang tak hanya terbatas pada uang, melainkan juga barang berharga dan surat-surat penting, berpindah dari satu rumah ke rumah lain. Konon, praktik ini dilakukan oleh individu yang terobsesi pada kekayaan instan. Namun, hingga detik ini, belum ada satu pun laporan resmi mengenai bank yang kehilangan dana akibat ulah makhluk halus bertubuh anak kecil tersebut.

Mengapa Tuyul Tak Mampu Curi Uang di Bank Ternyata Ini
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Berbagai spekulasi berseliweran di jagat maya. Ada yang menyebut tuyul gentar terhadap logam, mengingat uang di bank tersimpan rapat dalam brankas kokoh. Teori lain mengklaim adanya "penjaga" tak kasat mata di bank, entitas gaib lain yang ditakuti tuyul. Namun, semua dugaan ini hanyalah rekaan atas sesuatu yang secara fundamental tidak logis. Terlepas dari segala asumsi mistis, ada satu penjelasan historis dan sosiologis yang mampu menguak tabir di balik mitos tuyul, sekaligus menjawab mengapa ia tak pernah "mengunjungi" bank atau menguras saldo dompet digital.

Untuk memahami akar masalahnya, kita perlu menengok kembali ke tahun 1870. Saat itu, pemerintah kolonial Belanda memberlakukan kebijakan pintu terbuka atau liberalisasi ekonomi, menggantikan sistem tanam paksa yang kejam. Sekilas, perubahan ini tampak menjanjikan kesejahteraan. Namun, realitasnya jauh panggang dari api.

Seperti diungkap Jan Luiten van Zanden dan Daan Marks dalam "Ekonomi Indonesia 1800-2010" (2012), liberalisasi ekonomi justru melahirkan rezim kolonial baru. Kebijakan ini berujung pada pengambilalihan lahan perkebunan rakyat untuk diubah menjadi perkebunan besar dan pabrik gula. Akibatnya, kehidupan masyarakat, khususnya para petani kecil di Jawa, terjerembap dalam jurang kemiskinan yang kian dalam. Mereka kehilangan hak atas lahan yang selama ini menjadi sandaran hidup.

Di sisi lain, muncul golongan masyarakat yang justru meraup untung besar dari sistem ini. Para pedagang, baik pribumi maupun Tionghoa, mendadak menjadi orang kaya baru. Lonjakan kekayaan mereka yang begitu pesat menimbulkan keheranan dan kebingungan di kalangan petani yang semakin melarat. Dari mana gerangan asal-usul harta melimpah ini?

Perlu dipahami, pada masa itu, petani hidup dalam kesederhanaan. Menurut Ong Hok Ham dalam "Wahyu yang Hilang Negeri Yang Guncang" (2019), mereka menganut sistem subsisten, bertani sekadar cukup untuk konsumsi pribadi. Kelebihan hasil panen biasanya diberikan sebagai upeti atau dijual seadanya.

Oleh karena itu, mereka memiliki pandangan bahwa akumulasi kekayaan adalah proses yang transparan, memerlukan usaha nyata yang dapat disaksikan semua orang. Masalahnya, para petani tidak melihat kerja keras yang sepadan dari para orang kaya baru ini. Lebih jauh, mereka kesulitan membuktikan asal-usul kekayaannya jika ditanya. Kondisi ini memicu rasa iri dan kecemburuan mendalam dari petani terhadap pedagang yang tiba-tiba bergelimang harta.

Terlebih, George Quinn dalam "An Excursion to Java’s Get Rich Quick Tree" (2009) menyebutkan, para petani selalu beranggapan bahwa setiap kekayaan harus dapat dipertanggungjawabkan. Ketika orang kaya baru gagal menjelaskan sumber hartanya, tuduhan pencurian pun tak terhindarkan.

Mengingat kuatnya pandangan mistis dalam masyarakat saat itu, pencurian tersebut kemudian dikaitkan dengan kerja sama antara orang kaya dan entitas supranatural. Salah satunya adalah tuyul, sosok mitologi Jawa yang telah dikenal turun-temurun, digambarkan sebagai hantu kecil botak yang dapat dipelihara.

Jadi, para petani yang diliputi rasa iri kerap menuduh orang kaya baru menggunakan cara haram untuk memperoleh kekayaan. Tuduhan ini, sebagaimana ditulis Ong Hok Ham dalam "Dari Soal Priayi sampai Nyi Blorong" (2002), menyebabkan pedagang dan pengusaha sukses kehilangan status sosial mereka. Mereka dicap "hina" karena dianggap memupuk kekayaan melalui persekutuan dengan setan. Padahal, semua ini adalah dampak dari perubahan kebijakan kolonial Belanda yang secara tak langsung menguntungkan segelintir orang.

Ketidaksukaan petani terhadap orang kaya mendadak ini tidak hanya memengaruhi hubungan personal, tetapi juga mengubah pola transaksi barang. Orang kaya cenderung membeli aset yang tidak terlalu mencolok, seperti emas, alih-alih tanah atau rumah mewah, demi menghindari tuduhan memelihara tuyul atau setan.

Tuduhan tak berdasar ini secara ironis justru meningkatkan popularitas tuyul sebagai simbol mistis kekayaan, yang terus mengakar kuat hingga kini di Indonesia. Masyarakat agraris Indonesia, yang selama bertahun-tahun hidup dengan tradisi dan kepercayaan kuat, semakin melanggengkan imajinasi dan narasi tentang tuyul sebagai penjelasan atas kekayaan yang tak terduga.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post