Kekayaan Haji Isam Melejit Akuisisi BYAN

Agus Riyadi

18 September 2026

4
Min Read

Ekonesia – Sosok konglomerat Samsudin Andi Arsyad yang akrab disapa Haji Isam kembali menjadi sorotan publik. Pengusaha superkaya ini dikabarkan sedang dalam proses mengakuisisi porsi signifikan saham PT Bayan Resources Tbk BYAN sebuah emiten tambang batu bara raksasa. Langkah strategis ini berpotensi semakin melambungkan kekayaan Haji Isam yang ditaksir sudah mencapai ratusan triliun rupiah.

Melalui bendera perusahaannya PT Jhonlin Baratama Haji Isam disebut-sebut akan mengambil alih sekitar 30 persen saham batu bara yang sebelumnya dimiliki oleh investor legendaris Lo Kheng Hong. Berdasarkan informasi keterbukaan perjanjian jual beli saham bersyarat telah ditandatangani antara Low Tuck Kwong dan Elaine Low dengan PT Jhonlin Baratama pada 16 September 2026. Transaksi ini melibatkan pengalihan 10.000.000.500 lembar saham biasa BYAN namun penyelesaiannya masih menunggu pemenuhan beberapa persyaratan yang disepakati.

Kekayaan Haji Isam Melejit Akuisisi BYAN
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Kekayaan Haji Isam memang telah mengalami lonjakan drastis beberapa tahun terakhir terutama setelah sejumlah perusahaannya melantai di Bursa Efek Indonesia. Meskipun demikian banyak asetnya juga tersebar di entitas non-publik. Perhitungan Ekonesia menunjukkan harta Haji Isam yang terkoneksi langsung maupun tidak langsung melalui PT Jhonlin Agro Raya Tbk JARR mencapai Rp 3097 triliun. Ditambah lagi kepemilikan tidak langsung di PT Pradiksi Gunatama Tbk PGUN senilai Rp 6754 triliun dan PT Dana Brata Luhur Tbk TEBE sebesar Rp 279 triliun. Secara total asetnya di perusahaan publik saja sudah menembus angka fantastis Rp 1013 triliun atau lebih dari 61 miliar dolar AS. Tak heran jika ia dijuluki Crazy Rich Batulicin.

Pengusaha yang dikenal sebagai Haji Isam ini adalah figur sentral di Kalimantan khususnya bagian selatan. Kisah suksesnya bermula dari nol. Berasal dari desa di Bone Sulawesi Selatan sebuah daerah yang kental dengan etnis Bugis Haji Isam muda merantau ke Kalimantan Selatan. Ia memulai karirnya sebagai pedagang tembakau kemudian menjadi sopir pengangkut kayu. Titik balik terjadi pada tahun 2001 ketika ia bertemu penambang lokal Johan Maulana dan mulai mendalami seluk-beluk pengelolaan pertambangan.

Berbekal pengalaman tersebut Haji Isam berhasil melebarkan sayapnya. Ia menjadi kontraktor pelaksana untuk PT Arutmin Indonesia anak usaha Bumi Resources BUMI milik keluarga Bakrie melalui bendera CV Jhonlin Baratama. Sejak itu gurita bisnisnya terus berkembang di bawah Jhonlin Group.

Jhonlin Group kini menaungi berbagai sektor mulai dari penerbangan dengan Jhonlin Air Transport yang memiliki dua Fokker dan dua helikopter hingga perkapalan lewat Jhonlin Marine dengan armada 16 kapal tongkang pengangkut batu bara. Di bidang agrobisnis ada Jhonlin Agromandiri yang mengelola perkebunan kelapa sawit serta pabrik biodisel senilai Rp 2 triliun di bawah Jhonlin Agro Raya. Situs Jhonlin Agromandiri menyebutkan bahwa Jhonlin Group juga mencakup jasa pelabuhan transportasi udara bongkar-muat di laut lepas jasa keamanan infrastruktur dan manufaktur.

Khusus di sektor agrobisnis Jhonlin Agromandiri JA mengelola pabrik pengolahan karet remah pabrik CPO minyak sawit mentah dan pabrik pengolahan wood pellet. Semua didukung oleh perkebunan dan pembibitan milik sendiri untuk karet sawit dan kayu energi. Perusahaan ini mengantongi izin Hak Guna Usaha HGU Perkebunan Sawit seluas 30.000 hektar serta izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman IUPHHK-HT seluas 17.730 hektar. Selain itu JA juga menjalin kerja sama konsesi lahan seluas total 140.995 hektar di Kalimantan Selatan yang ditanami karet serta kayu pertukangan dan energi.

Jejak Haji Isam di pasar modal juga sudah terlihat jelas meskipun secara tidak langsung. Pada tahun 2020 PT Pradiksi Gunatama PGUN yang bergerak di perkebunan kelapa sawit berhasil mengumpulkan dana publik Rp 10350 miliar melalui penawaran perdana. Kini kapitalisasi pasar perusahaan tersebut mencapai Rp 595 triliun. Menariknya nama Haji Isam tidak muncul langsung sebagai pengendali melainkan kedua anaknya Liana Saputri dan Jhony Saputra yang sebelum IPO masing-masing menguasai 50 persen saham PGUN secara tidak langsung.

Ekspansi bisnis Haji Isam tak berhenti di situ. Pada tahun 2024 Jhonlin Group membuat gebrakan dengan memesan 2.000 unit ekskavator dari SANY Group China pesanan internasional terbesar di dunia untuk alat berat yang akan digunakan dalam proyek-proyek pertanian di Indonesia. Terakhir nama Haji Isam juga tercatat dalam bisnis kripto baru PT Fortuna Integritas Mandiri dengan merek International Crypto Exchange ICEX bersama Pang Xue Kai dan Happy Hapsoro suami Ketua DPR RI Puan Maharani.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post