Ekonesia – Dunia investasi kembali diguncang kabar mengejutkan. Sebuah hedge fund yang digawangi oleh mantan peneliti OpenAI, Leopold Aschenbrenner, dikabarkan menelan kerugian fantastis. Dana kelolaan yang sempat mencapai US$45 miliar atau setara Rp810 triliun itu kini terpaksa melepas seluruh kepemilikan saham publiknya, menyusul strategi investasi di sektor kecerdasan buatan (AI) yang berbalik menjadi bumerang.
Baca juga: Buruan! Diskon Gila-Gilaan di Transmart!
Situational Awareness, nama hedge fund tersebut, kini menghadapi tekanan luar biasa. Kejatuhan nilai asetnya dipicu oleh anjloknya saham-saham infrastruktur AI yang menjadi tulang punggung investasinya. Di sisi lain, spekulasi bahwa saham perusahaan perangkat lunak akan merosot justru meleset, memperparah kondisi keuangan mereka.

Situasi semakin genting setelah Situational Awareness menerima panggilan margin (margin call) dari para kreditur. Sejumlah bank investasi papan atas kini sibuk membantu menjual aset perusahaan demi memenuhi kewajiban tersebut. Bahkan, raksasa hedge fund Citadel milik miliarder Ken Griffin disebut-sebut telah mencapai kesepakatan untuk mengakuisisi seluruh portofolio saham publik milik Situational Awareness.
Baca juga: Baterai EV RI Laris Manis! Siapa Pembelinya?
Menurut beberapa sumber terpercaya, nilai investasi Situational Awareness menyusut drastis dalam hitungan pekan di awal Juli. Bank-bank besar seperti Bank of America, Goldman Sachs, dan JPMorgan Chase kini berupaya keras membantu perusahaan mengurangi kepemilikan investasinya secara bertahap agar penjualan aset tidak semakin menekan harga pasar. Belum jelas apakah langkah ini cukup untuk menutupi seluruh tuntutan margin call yang dihadapi.
Salah satu pemicu utama kerugian adalah merosotnya harga saham sejumlah perusahaan yang menjadi andalan dana tersebut, termasuk produsen chip memori asal Korea Selatan, SK Hynix. Ironisnya, posisi investasi yang dipasang untuk meraup untung dari penurunan saham perusahaan perangkat lunak seperti Adobe justru berbalik merugi karena sahamnya malah menguat.
Sebelumnya, Aschenbrenner, yang meninggalkan OpenAI pada 2024, adalah salah satu figur yang paling disorot di kancah investasi AI. Ia meyakini bahwa perkembangan AI akan memicu ledakan permintaan terhadap chip, semikonduktor, pusat data, dan pasokan listrik, menjadikannya ladang emas investasi. Strategi ini sempat membuahkan profit luar biasa, mendorong pertumbuhan Situational Awareness secara pesat.
Berdasarkan dokumen regulator kuartal I, investasi terbesar hedge fund ini berada di Nebius Group, Sandisk, Micron, dan CoreWeave. Namun, sepanjang bulan ini, seluruh saham tersebut dilaporkan anjlok lebih dari 35%. Situational Awareness juga sempat dikabarkan mempertimbangkan pelepasan kepemilikannya di perusahaan AI Anthropic, meski juru bicara perusahaan membantah kabar tersebut.
Aschenbrenner, yang baru berusia 25 tahun dan merupakan lulusan terbaik Universitas Columbia, sebelumnya bergabung dengan tim Superalignment OpenAI. Ia diberhentikan dari OpenAI pada 2024 atas tuduhan membocorkan informasi internal, tuduhan yang ia bantah dengan menyatakan dokumen yang dibagikannya bukanlah rahasia melainkan bahan diskusi keamanan AI.
Hingga kini, besaran pasti kerugian dan dana yang dibutuhkan untuk menstabilkan keuangan Situational Awareness masih belum terungkap. Namun, gejolak ini menjadi cobaan terberat bagi strategi investasi AI yang sebelumnya dianggap sebagai salah satu kisah sukses paling spektakuler di Wall Street.









Tinggalkan komentar