Jokowi Ngaku Wiraswasta Terkuak Kisah Bisnisnya

Agus Riyadi

5 November 2026

4
Min Read

Ekonesia – Pernyataan Presiden Joko Widodo yang mengaku berprofesi sebagai wiraswasta di tengah persidangan baru-baru ini sontak menarik perhatian publik. Pengakuan ini seolah membuka kembali lembaran perjalanan panjangnya sebagai seorang pebisnis ulung, jauh sebelum ia menjabat sebagai orang nomor satu di Indonesia.

Sebelum menapaki jenjang politik dan menjadi Wali Kota Solo, Gubernur DKI Jakarta, hingga akhirnya Presiden Republik Indonesia, Jokowi dikenal sebagai pengusaha mebel yang gigih di Kota Solo Jawa Tengah. Perusahaan furniturnya, PT Rakabu Sejahtra, menjadi saksi bisu perjuangan dan sumber pundi-pundi kekayaannya. Melalui platform LinkedIn, perusahaan ini tercatat aktif dalam manufaktur dan ekspor furnitur serta perlengkapan rumah tangga, dengan visi menjadi entitas profesional dan terpercaya yang selalu mengedepankan kepuasan klien. Misi mereka adalah terus berinovasi dalam produk dan pasar demi kredibilitas dan kepuasan pelanggan. Tercatat, perusahaan ini mempekerjakan antara 201 hingga 500 karyawan. Sayangnya, situs resmi perusahaan kini tidak dapat diakses, menampilkan pesan "alamat tidak ditemukan".

Jokowi Ngaku Wiraswasta Terkuak Kisah Bisnisnya
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Lantas, bagaimana sebenarnya awal mula Jokowi merintis kerajaan bisnisnya? Jejak karier Jokowi dimulai pada tahun 1985 setelah lulus kuliah, di perusahaan kertas PT Kraft Aceh. Namun, pengalaman di sana tidak berlangsung lama, hanya dua tahun. Ia mengaku tak betah dengan budaya kerja yang terkesan otoriter. "Suruh menyuruh berlangsung sangat otoriter, padahal kinerja telah berjalan cukup baik. Itu membuat saya kerasan," ungkap Jokowi, seperti dikutip dari buku "Jokowi: Memimpin Kota, Menyentuh Jakarta" karya Alberthiene Endah (2012).

Keputusan untuk kembali ke kampung halaman, Solo, pada tahun 1987 menjadi titik balik penting. Dengan modal tabungan dari gajinya, ia mencoba peruntungan di sektor kayu dan mebel. Namun, keterbatasan modal membuatnya harus kembali bekerja sebagai karyawan. Ia bergabung dengan usaha saudaranya, Miyono, yang bergerak di bidang mebel, lantai kayu, dan berbagai kebutuhan rumah tangga. Di sana, Jokowi tak mendapat perlakuan istimewa. Ia terlibat langsung dalam proses produksi, mulai dari menggergaji, menyerut kayu, mengecat, hingga mengangkut barang ke kontainer.

Setelah setahun berkutat di lapangan, Jokowi beralih ke pekerjaan kantoran. Ia mengemban tugas di bidang desain, pemasaran, hingga pengelolaan sumber daya manusia. "Semua dinikmati. Saya belajar banyak," kenangnya. Pengalaman berharga ini menumbuhkan keberanian dalam dirinya untuk memulai usaha sendiri.

Dengan bekal pengalaman dan pinjaman bank sebesar Rp30 juta, pria kelahiran 21 Juni 1961 itu akhirnya mendirikan CV Rakabu pada 21 Februari 1988. Usahanya bermula dari sebuah kios kecil di kawasan Kadipiro, Solo, Jawa Tengah. Kala itu, Indonesia tengah dijuluki Macan Asia dengan pertumbuhan ekonomi yang pesat, memberikan keyakinan bagi Jokowi bahwa langkahnya berwirausaha adalah tepat.

Pada tahun-tahun awal, CV Rakabu hanya memiliki tiga karyawan yang bersama Jokowi berfokus pada produksi. Tak jarang, pekerjaan dibawa pulang ke rumah, hingga serbuk gergaji kayu memenuhi seisi rumah. Proses pemasaran pun tak mudah. Rakabu adalah pemain kecil yang belum dikenal, memaksa Jokowi untuk "jemput bola". Ia mendatangi setiap rumah yang sedang dibangun untuk menawarkan furnitur. Meski banyak kegagalan, upaya kerasnya perlahan membuahkan hasil, membuat bengkelnya tak pernah sepi dari suara bising gergaji.

Setelah mengumpulkan modal yang cukup, Jokowi memberanikan diri berekspansi ke Jakarta pada tahun 1990. Di ibu kota, ia mendapat pesanan terbesar sejak Rakabu berdiri, senilai Rp60 juta. Namun, nasib buruk menimpa. Ia tertipu dan kehilangan seluruh uang tersebut setelah pemesan kabur begitu barang jadi dan dikirim. Ibundanya, Sudjiatmi, mengenang bahwa kasus penipuan ini membuat Jokowi sangat terpuruk. Bisnis yang dirintis dari nol terpaksa bangkrut, dan ia bahkan menganggur serta bekerja serabutan selama berbulan-bulan. "Jokowi kerap datang ke rumah dengan wajah murung. Selalu klemprak-klemprak (tidak bersemangat)," tutur Sudjiatmi dalam buku "Saya Sujiatmi, Ibunda Jokowi" (2014).

Untuk membangkitkan semangat putranya, Sudjiatmi rela mengeluarkan seluruh tabungan dan meminjam modal usaha ke bank senilai Rp30 juta. Dari sinilah, usaha Rakabu kembali bangkit. Permintaan furnitur mulai berdatangan, namun kali ini Jokowi lebih berhati-hati, menagih uang muka terlebih dahulu sebelum memulai produksi. Di saat bersamaan, ia juga mendapat suntikan modal dari Perusahaan Gas Negara (PGN) sebesar Rp500 juta. Modal besar ini mendorong Jokowi untuk lebih giat berekspansi dan berani merambah pasar ekspor. Seiring waktu, pabrik dan jumlah karyawan Rakabu terus bertambah.

Sejak tahun 1991, Jokowi rutin bolak-balik Solo-Jakarta-Singapura untuk memasarkan furnitur Rakabu. Dari Singapura, ia kerap menerima pesanan belasan kontainer berisi produk kayu, menandai awal mula kesuksesan besar. Dalam kurun waktu 1994-1996, produksi mebel Jokowi melonjak tajam. Ia memiliki delapan pabrik dengan ratusan karyawan, yang secara signifikan meningkatkan kekayaannya. Bahkan, ia mampu membeli rumah sendiri di Solo setelah bertahun-tahun mengontrak.

Ketika krisis ekonomi melanda pada 1997-1998 dan banyak bisnis hancur, Rakabu justru semakin moncer. Perusahaan ini berhasil merambah pasar Australia, Amerika, Timur Tengah, dan Asia. Sejak saat itu, Jokowi mulai merasakan manisnya perjuangan berwirausaha. Tak heran jika kini, sebagai seorang presiden, Jokowi tercatat memiliki kekayaan yang signifikan. Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) 2023, total kekayaannya mencapai Rp82 miliar, meliputi tanah, kendaraan, dan berbagai aset lainnya, menjadi bukti nyata dari perjalanan panjang seorang wiraswasta yang kini memimpin negara.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post