Ekonesia – Proyeksi suram mengenai nilai tukar rupiah yang berpotensi menyentuh level Rp19.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada penghujung tahun 2026 telah memicu kekhawatiran di kalangan pasar. Menanggapi prediksi ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah akan terus memantau perkembangan, namun tetap memancarkan keyakinan kuat terhadap kondisi makroekonomi Indonesia. Pernyataan ini disampaikan Airlangga di Jakarta, Rabu (28/10/2026), dalam sebuah acara bertema "Jakarta Towards 500: Shaping the Next Global City Together".
Baca juga: JDT Tahan Chelsea Drama Panas Lapangan Membara
"Kita lihat saja nanti, tapi kami lebih optimistis. Kami sangat yakin dengan fundamental makroekonomi kita," ujar Airlangga singkat kepada awak media, mengisyaratkan sikap waspada namun tetap positif di tengah gejolak pasar.

Sejumlah analis dan pengamat pasar memang gencar memperkirakan mata uang Garuda akan terus tertekan, bahkan menembus angka psikologis Rp19.000 per dolar AS pada November-Desember 2026. Data terbaru dari Refinitiv menunjukkan rupiah telah mencatat rekor penutupan terlemah sepanjang sejarah, yakni Rp18.175 per dolar AS, melampaui rekor sebelumnya di Rp18.170 per dolar AS pada 8 Juni 2026.
Baca juga: Jalan Sumatera Prioritas Utama Pulihkan Logistik
Revo Gilang Firdaus, seorang Equity Analyst dari Mega Capital Sekuritas, memprediksi pergerakan rupiah akan berada dalam rentang Rp17.889-Rp18.280 per dolar AS sepanjang pekan ini. Untuk proyeksi satu bulan ke depan, kisarannya diperkirakan lebih lebar, yakni Rp17.724-Rp18.499 per dolar AS. "Estimasi tersebut mengindikasikan bahwa volatilitas rupiah masih akan sangat tinggi," jelas Revo kepada ekonosia.com. Ia menambahkan, ketidakpastian seputar keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berkepanjangan berpotensi memicu arus modal keluar tambahan, mempertahankan tekanan pada rupiah di tengah dominasi dolar AS.
Bank Indonesia (BI) sebelumnya telah mengidentifikasi beberapa faktor utama yang menjadi pemicu pelemahan nilai tukar rupiah pada Rabu (28/10/2026). Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa tekanan ini tidak lepas dari memburuknya sentimen pasar keuangan global. Konflik di Timur Tengah yang belum mereda membuat harga minyak dunia bertahan di atas US$115 per barel, meningkatkan risiko fiskal dan mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga AS.
"Pergerakan Rupiah dan mata uang di kawasan hari ini masih sangat dipengaruhi oleh ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah," terang Erwin dalam keterangan tertulisnya. Ia juga menyoroti bagaimana sentimen risk-off yang menguat telah mendorong penguatan dolar AS dan memicu eksodus dana dari pasar negara berkembang. Dalam kondisi ini, investor cenderung beralih ke aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS, sehingga memberatkan mata uang seperti rupiah.
Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga datang dari dalam negeri. BI mencermati kekhawatiran pasar terhadap potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI, yang turut memengaruhi aliran dana investasi. Ditambah lagi, meningkatnya kebutuhan valuta asing domestik menjelang akhir bulan juga menjadi faktor tambahan yang memperberat posisi nilai tukar rupiah.











Tinggalkan komentar