Ekonesia – PT Hutama Karya (Persero) atau Hutama Karya berhasil mencatatkan kinerja keuangan yang impresif hingga triwulan III-2026. Perusahaan pelat merah ini membukukan kenaikan laba bersih sebesar 6,30% secara tahunan, diiringi pertumbuhan pendapatan usaha sebesar 2,70% pada periode yang sama.
Baca juga: Merger BUMN Asuransi: PertaLife Masih Tunggu Komando!
Pencapaian gemilang ini didorong oleh peningkatan signifikan pada pendapatan operasional jalan tol, diiringi dengan disiplin ketat dalam pengendalian beban usaha serta efisiensi biaya keuangan. Direktur Utama Hutama Karya, Koentjoro, menegaskan bahwa hasil ini adalah cerminan nyata dari kedisiplinan finansial perusahaan. "Pendapatan kami tumbuh moderat, namun kami berhasil menjaga beban usaha tetap terkendali dan beban bunga menjadi lebih efisien. Tren peningkatan laba bersih tahunan yang dimulai sejak 2023 hingga 2025 kini terus berlanjut," ungkap Koentjoro dalam keterangan resminya.

Kinerja positif Hutama Karya selaras dengan agenda "2 Tahun Gerak Nyata" pemerintah yang mendorong BUMN untuk tumbuh sehat dan menguntungkan, demi memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat. Ini juga mendukung misi Asta Cita, khususnya dalam melanjutkan pembangunan infrastruktur. Sebagai BUMN yang mengemban mandat strategis pembangunan infrastruktur, Hutama Karya dituntut untuk menuntaskan proyek sekaligus menjaga kondisi finansial perusahaan tetap prima.
Baca juga: Vinicius ke Arab? Flamengo Gigit Jari!
Pendapatan dari operasional jalan tol menjadi penopang utama pertumbuhan, dengan kenaikan mencapai 12,4% secara tahunan, melampaui pertumbuhan pendapatan perusahaan secara keseluruhan. "Kami membangun jalan tol, lalu mengoperasikannya. Bisnis jasa konstruksi tetap menjadi inti usaha kami," jelas Koentjoro. Kombinasi antara bisnis jasa konstruksi yang bergantung pada siklus proyek dan pendapatan rutin dari operasional jalan tol selama masa konsesi, menciptakan pondasi pendapatan yang lebih seimbang dan aliran kas yang terjamin.
Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) menjadi tulang punggung pendapatan operasional jalan tol Hutama Karya. Hingga kini, Hutama Karya dan anak usahanya mengelola 847 km ruas JTTS. Sepanjang Semester I-2026, volume lalu lintas di JTTS mencapai 17 juta kendaraan, dengan rata-rata harian yang melampaui target perusahaan. Kenaikan ini dipicu oleh bertambahnya ruas yang beroperasi, semakin terhubungnya kawasan industri dan pelabuhan, serta meningkatnya penggunaan jalan tol oleh masyarakat.
Di luar Sumatera, Hutama Karya juga mengoperasikan dua ruas tol vital di Jakarta: Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta Seksi S (JORR-S) sepanjang 14,3 km dan Jalan Tol Akses Tanjung Priok (ATP) sepanjang 11,4 km. JORR-S melayani arus kendaraan di selatan Jakarta, sementara ATP menjadi jalur logistik penting menuju Pelabuhan Tanjung Priok. Dengan kedua ruas ini, total panjang jalan tol yang dioperasikan Hutama Karya mencapai sekitar 872,5 km.
Demi kenyamanan pengguna, Hutama Karya menyiagakan armada layanan dan gardu transaksi di setiap ruas operasi. Perusahaan juga mengembangkan aplikasi MOZY yang menyediakan pantauan CCTV, informasi tarif, dan tombol darurat. Komitmen terhadap peningkatan kualitas layanan terus diwujudkan, mulai dari penanganan keluhan, kesigapan dan keramahan petugas, hingga pemeliharaan jalan dan fasilitas pendukung. Dedikasi ini mengantarkan Hutama Karya masuk jajaran 100 BUMN dengan pelayanan terbaik dalam Danantara Indonesia CX100, sebuah survei yang mengukur kualitas layanan BUMN.
Dalam setiap keputusan proyek, Hutama Karya mengedepankan manajemen risiko. Setiap peluang proyek dikaji mendalam dari sisi profil risiko, kelayakan, dan kemampuan bayar pemberi kerja, sebelum perusahaan memutuskan keterlibatan. Langkah ini krusial untuk menjaga kualitas piutang dan kelancaran arus kas perusahaan.
Hampir separuh kontrak baru perusahaan berasal dari segmen manufaktur serta pemeliharaan dan operasional jalan tol. Sisanya tersebar di proyek jalan dan jembatan, gedung, serta sumber daya air. Saat ini, Hutama Karya juga aktif sebagai kontraktor di 27 Proyek Strategis Nasional (PSN) di berbagai sektor.
Hingga September 2026, total aset dan ekuitas perusahaan kompak bertumbuh dibandingkan tahun sebelumnya, seiring dengan bertambahnya ruas JTTS yang telah terbangun. Rasio utang berbunga terhadap modal tetap terjaga di kisaran 0,25 kali, menunjukkan kesehatan finansial yang solid dan memberikan ruang bagi perusahaan untuk memenuhi kebutuhan pendanaan di masa depan. Pefindo, Fitch Ratings, dan Moody’s secara konsisten menempatkan Hutama Karya pada kategori layak investasi (investment grade).
Bagi BUMN yang mengemban penugasan negara, kondisi keuangan yang sehat memiliki dampak langsung dan positif bagi masyarakat. Pembayaran kepada mitra, subkontraktor, dan pemasok tetap lancar, sehingga menggerakkan roda rantai pasok konstruksi dan menciptakan lapangan kerja di daerah. Arus kas yang dihasilkan dari ruas tol yang sudah beroperasi juga dapat dialokasikan untuk membiayai pembangunan ruas berikutnya. Ini sejalan dengan penekanan agenda "2 Tahun Gerak Nyata" pada hasil yang dirasakan langsung oleh masyarakat, yang bagi Hutama Karya berupa jalan tol yang melayani jutaan perjalanan dan memutar roda ekonomi bagi mitra usaha di daerah.
Hingga akhir 2026, perusahaan memprioritaskan pengendalian beban usaha, menjaga kualitas aset, memastikan kelancaran arus kas, dan meningkatkan efisiensi energi di lapangan. Pembangunan tiga koridor JTTS juga terus digenjot, meliputi Palembang-Betung, Betung-Jambi, dan Rengat-Pekanbaru (Seksi Junction Pekanbaru-Bypass Pekanbaru). Secara internal, Hutama Karya fokus pada peningkatan kompetensi sumber daya manusia di bidang operasi dan pemeliharaan, pengembangan digitalisasi layanan jalan tol, serta penguatan pengendalian risiko di setiap tahap pelaksanaan proyek. Koentjoro menegaskan, seluruh langkah ini ditempuh agar perusahaan tetap tumbuh sambil menjalankan tugas negara. "Penugasan negara bisa dijalankan dengan tetap menjaga kesehatan keuangan perusahaan," pungkasnya.










Tinggalkan komentar