Kecurangan City Hancurkan Impian Transfer Liverpool

El-Shinta

11 Oktober 2026

4
Min Read

Ekonesia – Atmosfer di Anfield dipastikan memanas jelang laga krusial antara Liverpool dan Manchester City akhir pekan ini. Pertandingan penentu posisi puncak Liga Inggris ini bukan sekadar adu taktik, namun juga kembali menyoroti dugaan pelanggaran finansial yang membayangi The Citizens. Skandal 114 tuduhan dari Premier League tak pelak memunculkan pertanyaan: seberapa besar pengaruh kekuatan finansial City, yang kini dipertanyakan keabsahannya, dalam membentuk lanskap persaingan, terutama di bursa transfer pemain bintang?

Sejak diakuisisi Sheikh Mansour, Manchester City dituding memanipulasi laporan keuangan hingga 900 juta poundsterling selama periode 2009-2018. Masa tersebut bertepatan dengan lonjakan prestasi City yang berhasil mengoleksi delapan trofi bergengsi. Di tengah rivalitas sengit di lapangan, Liverpool sering kali harus gigit jari di bursa transfer, kehilangan sejumlah target vital yang justru memilih berlabuh ke Etihad Stadium dan menjadi pilar kesuksesan City.

Kecurangan City Hancurkan Impian Transfer Liverpool
Gambar Istimewa :

Berikut adalah empat kisah transfer yang menggambarkan bagaimana Liverpool harus menelan kekecewaan, sementara City membangun dominasi dengan kekuatan finansial yang kini dalam penyelidikan.

Gareth Barry 2009 Pengganti Alonso yang Lolos dari Genggaman
Pada musim panas 2008, Liverpool di bawah arahan Rafael Benitez berambisi kuat mendatangkan Gareth Barry dari Aston Villa. Gelandang tangguh ini diproyeksikan sebagai suksesor Xabi Alonso yang kala itu hubungannya dengan Benitez memburuk. Tawaran The Reds, yang bahkan mencapai 15 juta poundsterling, berulang kali ditolak Villa. Frustrasi melanda Barry, bahkan membuatnya kehilangan ban kapten setelah mengkritik pelatih Martin O’Neill. Namun, alih-alih ke Anfield, Barry justru bertahan semusim lagi di Villa Park. Setahun kemudian, di bursa transfer yang sama saat Alonso hengkang ke Real Madrid, Barry justru berlabuh ke Manchester City dengan mahar lebih murah, hanya 12 juta poundsterling. City, dengan ambisi dan tawaran gaji fantastis hingga 100.000 poundsterling per pekan, berhasil meyakinkan Barry. Liverpool pun terpaksa mencari alternatif yang sayangnya tak mampu memberikan dampak signifikan, seperti Alberto Aquilani dan Christian Poulsen. Barry kemudian menjadi bagian integral dari skuad City yang meraih gelar Liga Inggris perdana pada 2011-2012, bahkan mencatatkan diri sebagai pemegang rekor penampilan terbanyak di Premier League.

David Silva 2010 Maestro Spanyol yang Tergelincir dari Anfield
Rafael Benitez, dengan koneksi kuatnya di sepak bola Spanyol, sudah lama mengagumi David Silva. Gelandang kreatif Valencia ini menjadi salah satu target utama Liverpool pada 2009. Agensi Silva bahkan mengonfirmasi adanya pembicaraan intens dengan The Reds. Namun, lagi-lagi Manchester City bergerak lebih cepat dan lebih agresif. Meskipun belum berlaga di Liga Champions, City berhasil menyegel transfer Silva senilai 24 juta poundsterling plus bonus. Situasi internal Liverpool yang carut-marut di bawah kepemilikan Tom Hicks dan George Gillett kala itu menjadi kontras dengan proyek ambisius City. Keputusan ini terbukti jitu. Selama satu dekade di Etihad, Silva menjelma menjadi legenda, meraih 13 trofi dan menjadi otak serangan City. Sebuah patung didirikan untuk menghormatinya pada 2021, menjadi bukti kebesaran kontribusinya.

James Milner 2010 Pilihan Awal yang Berujung ke Anfield
Di musim panas 2010, Manchester City kembali memenangkan perburuan pemain, kali ini untuk James Milner. Gelandang serbabisa ini menjadi bagian dari gelombang rekrutan besar City bersama Yaya Toure dan Mario Balotelli. Liverpool, Manchester United, dan Chelsea juga meminati Milner. Namun, City kembali unggul dengan tawaran 26 juta poundsterling, ditambah Stephen Ireland sebagai bagian dari kesepakatan, serta kenaikan gaji dua kali lipat untuk Milner. Proyek ambisius City menjadi magnet tak tertahankan. Milner kemudian membantu City meraih dua gelar Liga Inggris. Namun, ironisnya, perjalanan Milner di City tak berlangsung selamanya. Pada 2015, ia justru bergabung dengan Liverpool secara gratis, menjadi salah satu pilar penting di bawah asuhan Jurgen Klopp dan meraih kesuksesan besar, termasuk gelar Liga Champions dan Liga Inggris. Kisah Milner menjadi pengingat bahwa terkadang, pilihan awal tak selalu menjadi akhir dari sebuah cerita.

Raheem Sterling 2015 Kontroversi Transfer Paling Panas
Transfer Raheem Sterling dari Liverpool ke Manchester City pada 2015 adalah salah satu saga paling kontroversial dalam sejarah Premier League. Berbeda dengan tiga nama sebelumnya, Sterling bukanlah incaran yang gagal didapatkan Liverpool, melainkan bintang yang justru meninggalkan Anfield untuk memperkuat rival langsung mereka. City memecahkan rekor transfer pemain Inggris saat itu dengan membayar 49 juta poundsterling. Sterling, yang tampil cemerlang saat Liverpool nyaris juara Liga Inggris 2013-2014, terlibat perselisihan kontrak yang panjang dan memanas. Ia dikritik keras karena wawancara tanpa izin dan pernyataan kontroversial agennya, Aidy Ward, yang secara terbuka menolak tawaran kontrak baru Liverpool, berapa pun nilainya. "Saya tidak peduli dengan citra publik klub dan situasi klub. Dia jelas tidak akan menandatangani kontrak," tegas Ward. Perselisihan ini berakhir dengan kepindahan Sterling ke City, di mana ia meraih 11 trofi sebelum akhirnya pindah ke Chelsea pada 2022.

Kisah-kisah transfer ini menggarisbawahi bahwa persaingan antara Liverpool dan Manchester City jauh melampaui lapangan hijau. Kekuatan finansial, daya tarik proyek olahraga, dan kemampuan meyakinkan pemain menjadi faktor penentu dalam perebutan dominasi di sepak bola Inggris, sebuah dominasi yang kini dipertanyakan keabsahannya.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post