Ekonesia – Gejolak di pasar keuangan kembali memanas seiring dengan terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi ini sontak memicu beragam spekulasi di kalangan ekonom mengenai kemungkinan Bank Indonesia (BI) akan kembali menaikkan suku bunga acuannya. Akankah BI mengambil langkah drastis ini demi menjaga stabilitas ekonomi nasional?
Baca juga: PGN Ulang Tahun, Siap Gas Bumi Indonesia Menuju Masa Depan!
Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, mengemukakan bahwa peluang BI untuk mengerek naik suku bunga acuannya pada sisa tahun 2026 semakin besar. Ia bahkan merevisi proyeksi BI Rate hingga mencapai level 6% pada akhir tahun tersebut. Peningkatan ini, menurut Josua, terutama dipicu oleh keputusan kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, The Fed, pada September lalu.

Josua menjelaskan, keputusan BI memang tidak harus selalu mengikuti langkah The Fed secara langsung. Namun, sejumlah faktor krusial harus menjadi pertimbangan utama. "Sikap pengetatan moneter The Fed sangat relevan bagi kebijakan BI. Bukan karena harus meniru, melainkan karena BI wajib memperhitungkan selisih suku bunga, aliran modal, stabilitas rupiah, dan potensi lonjakan harga barang impor," tegasnya.
Baca juga: Borneo FC Mengamuk Puncak Klasemen Bergetar
Meski demikian, Josua menambahkan, jika tekanan terhadap rupiah hanya bersifat sementara, inflasi tetap terkendali, dan intervensi valuta asing yang dilakukan BI terbukti efektif, maka bank sentral masih memiliki ruang untuk menahan diri. Namun, skenario akan berubah drastis. "Apabila rupiah terus tertekan, harga minyak dunia bertahan di level tinggi, arus modal keluar berlanjut, dan inflasi mulai menunjukkan tanda-tanda peningkatan, maka kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin akan menjadi langkah yang semakin tak terhindarkan untuk menjaga stabilitas," papar Josua.
Senada dengan pandangan tersebut, M. Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), juga melihat adanya peningkatan kemungkinan kenaikan BI Rate. Menurutnya, langkah ini bisa diambil jika depresiasi rupiah berlangsung dengan sangat cepat, diikuti oleh pembengkakan arus modal keluar, serta mulai terganggunya ekspektasi inflasi di masyarakat.
Rizal menyoroti dilema pelik yang dihadapi BI. Di satu sisi, kenaikan suku bunga berpotensi menekan pertumbuhan kredit dan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi. Namun, di sisi lain, pelemahan kurs yang berkepanjangan akan memicu kenaikan biaya produksi bagi industri dan menggerus daya beli masyarakat secara signifikan. Oleh karena itu, keputusan BI, apakah akan menahan atau menaikkan suku bunga, harus didasarkan pada kondisi domestik yang riil dan efektivitas dari upaya stabilisasi yang telah dilakukan.









Tinggalkan komentar