Eks Menkeu Lengser Istri Jualan Nasi Harga Murah

Agus Riyadi

27 September 2026

2
Min Read

Ekonesia – Kisah hidup para pejabat setelah melepaskan jabatan seringkali menyita perhatian publik. Namun, cerita yang menginspirasi datang dari almarhum Mar’ie Muhammad, Menteri Keuangan ke-18 Republik Indonesia, yang akrab disapa Mr. Clean. Alih-alih menikmati masa purnabakti dengan kemewahan, ia dan keluarganya justru memilih jalan pengabdian kemanusiaan yang sangat membumi, terutama di tengah pusaran krisis ekonomi 1998.

Mar’ie Muhammad menuntaskan tugasnya sebagai bendahara negara pada 16 Maret 1998. Pergantian kabinet oleh Presiden Soeharto menunjuk Fuad Bawazier sebagai penerusnya, sekaligus menutup babak panjang pengabdian Mar’ie di Kementerian Keuangan sejak tahun 1993, setelah puluhan tahun meniti karier sebagai abdi negara. "Kami juga mohon maaf jika dalam menjalankan tugas ini ada hal-hal yang tidak mengenakkan saudara-saudara," ujarnya kala itu, mencerminkan kerendahan hati seorang pemimpin.

Eks Menkeu Lengser Istri Jualan Nasi Harga Murah
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Pasca-lengser dari kursi menteri, hari-hari Mar’ie tak lantas sepi. Ia segera bergabung dengan Komite Kemanusiaan Indonesia (KKI), sebuah wadah yang bergerak aktif mendistribusikan bantuan. Bersama KKI, ia bersinergi menyalurkan makanan bagi para mahasiswa yang menggelar demonstrasi besar-besaran di Senayan, serta masyarakat lapisan bawah yang terdampak parah oleh gejolak moneter. Asisten pribadinya mengenang, "Setiap hari, kami menyiapkan seratus nasi bungkus, bahkan pernah mendekati seribu bungkus. Bapak tak pernah melupakan orang-orang di sekitar kami, termasuk tukang bajaj di belakang kantor. Waktu itu, semua orang memang sedang kesulitan."

Semangat kepedulian ini juga merasuk ke dalam keluarga. Sang istri, Ayu Resmiyati atau Etty Mar’ie Muhammad, tak tinggal diam. Melalui Yayasan Permata Sari yang dipimpinnya, Etty menginisiasi pendirian warung nasi dengan harga sangat terjangkau di lingkungan Kampus Universitas Indonesia (UI) Depok dan IKIP (kini Universitas Negeri Jakarta) pada akhir 1998. Di tengah melambungnya harga kebutuhan pokok akibat krisis, warung tersebut menawarkan nasi bungkus lengkap berisi ayam goreng, sayur, dan air mineral hanya seharga Rp1.000 per porsi. Harga ini jauh di bawah pasaran normal yang kala itu bisa mencapai Rp5.000. Setiap hari, sekitar 150 bungkus nasi disiapkan khusus untuk meringankan beban finansial para mahasiswa.

Dedikasi Mar’ie terhadap persoalan sosial dan integritas tidak berhenti sampai di situ. Sosok yang dikenal bersih ini terus aktif berkontribusi melalui berbagai gerakan kemanusiaan, mulai dari Palang Merah Indonesia (PMI), kegiatan dakwah, hingga turut menginisiasi pembentukan lembaga antikorupsi di Indonesia.

Kiprah panjang sang teladan bangsa ini berakhir pada 11 Desember 2016, saat Mar’ie Muhammad berpulang. Ia meninggalkan warisan kepemimpinan yang bersih, jujur, dan senantiasa berpihak pada rakyat kecil, sebuah legacy yang patut dikenang dan diteladani.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post