Ekonesia – Kabar mengenai rencana impor kereta rel listrik KRL bekas dari Jepang kembali mencuat dan menjadi sorotan publik. PT KAI Commuter KCI kini tengah intens berkomunikasi dengan pihak operator kereta di Negeri Sakura untuk memastikan ketersediaan armada sebelum proses pengadaan dilanjutkan. Langkah ini diambil menyusul persetujuan awal untuk mendatangkan 23 rangkaian KRL guna mengatasi lonjakan penumpang yang signifikan.
Baca juga: Tanker Buatan Anak Bangsa, Bukti Asta Cita Prabowo?
Sebelumnya PT KAI telah mengantongi lampu hijau untuk mendatangkan puluhan trainset KRL bukan baru dari Jepang. Namun jenis rangkaian yang akan diboyong ke Tanah Air masih belum final. Isu yang beredar menyebutkan KRL seri JR 209 akan menjadi pilihan namun KCI menegaskan hal tersebut belum dapat dipastikan. "Saat ini kami masih melakukan koordinasi dan komunikasi dengan pihak operator di Jepang untuk memastikan ketersediaan dan kondisi KRL Bukan Baru" terang Karina Amanda VP Corporate Secretary KAI Commuter.

Kebutuhan akan armada tambahan memang semakin mendesak. Data menunjukkan jumlah pengguna KRL Jabodetabek terus merangkak naik secara signifikan. Pada paruh pertama tahun ini angka penumpang melonjak 113% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Rata-rata harian mencapai sekitar 11 juta penumpang bahkan bisa menembus 13 juta pada momen-momen tertentu. Kondisi ini menuntut solusi cepat untuk menjaga kenyamanan dan kelancaran mobilitas warga.
Baca juga: Libur Panjang Menanti Investor Siap-Siap!
Dari total 23 trainset yang diusulkan KAI direncanakan akan ada tujuh rangkaian dengan formasi 12 kereta atau SF12 dan 16 rangkaian dengan formasi delapan kereta atau SF8. Penyesuaian formasi ini penting mengingat tidak semua infrastruktur stasiun mampu menampung rangkaian KRL yang panjang. Selain itu KAI Commuter bersama PT KAI juga sedang dalam tahap audiensi dan koordinasi lanjutan dengan berbagai kementerian terkait untuk mengurus perizinan impor barang modal tidak baru BMTB.
Armada KRL bekas ini diproyeksikan sebagai jembatan kebutuhan sementara. Pasalnya waktu produksi kereta baru di dalam negeri membutuhkan durasi yang tidak sebentar. Di sisi lain sebagian besar KRL yang kini beroperasi telah berusia lebih dari empat dekade menjadikan peremajaan dan penambahan armada sebagai prioritas utama. Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat DPR RI melihat langkah impor ini sebagai fase transisi strategis.
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade menegaskan bahwa impor KRL bekas ini akan digunakan dalam jangka waktu terbatas sekitar 10 tahun. Tujuannya adalah untuk memenuhi kapasitas angkutan KRL Jabodetabek sembari terus mendorong peningkatan kemampuan industri perkeretaapian nasional. "Memenuhi kebutuhan kapasitas angkutan perkeretaapian khususnya KRL Jabodetabek dengan meningkatkan industri lokal dan melakukan impor rangkaian kereta trainset bukan baru yang terintegrasi dan berkelanjutan" ujarnya dalam sebuah rapat dengar pendapat.











Tinggalkan komentar