Ancaman Ganda Otomotif RI Siapkah Bertahan

Agus Riyadi

19 September 2026

2
Min Read

Ekonesia – Industri otomotif nasional tengah menghadapi dua badai besar yang berpotensi mengubah lanskap bisnis secara drastis pada tahun 2026. Komisaris Independen PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), Agus Tjahajana Wirakusumah, menyoroti merosotnya daya beli masyarakat serta laju transformasi teknologi kendaraan listrik sebagai ganjalan utama yang harus diatasi pelaku usaha.

Selama satu dekade terakhir, sektor otomotif Indonesia terus bergulat dengan realitas penjualan yang stagnan, bahkan cenderung di bawah satu juta unit per tahun. Angka ini menjadi indikator tekanan serius terhadap kemampuan konsumen untuk berinvestasi pada kendaraan baru. Di sisi lain, evolusi teknologi bergerak sangat cepat, dari mesin pembakaran internal (ICE) konvensional menuju era kendaraan listrik (EV) yang semakin masif. Transisi ini bukan sekadar tren, melainkan sebuah keharusan yang menuntut adaptasi fundamental.

Ancaman Ganda Otomotif RI Siapkah Bertahan
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Dampak dari pergeseran ini terasa hingga ke hulu, terutama pada industri komponen. Para produsen dituntut untuk segera menyelaraskan lini produksi dan inovasi mereka dengan kebutuhan pasar EV yang terus berkembang. Ini mencakup pengembangan komponen untuk berbagai jenis baterai kendaraan listrik, seperti Nickel Cobalt Manganese (NCM) dan Lithium Ferro-Phosphate (LFP). Kesiapan infrastruktur dan ekosistem pendukung juga menjadi krusial dalam menentukan arah masa depan industri ini.

Agus Tjahajana Wirakusumah dalam ulasan di Closing Bell CNBC Indonesia (Jumat 14/09/2026) menekankan bahwa pelaku usaha harus memiliki visi jangka panjang dan strategi adaptasi yang kuat untuk menghadapi prospek serta tantangan di tengah gelombang pengembangan kendaraan listrik. Tanpa langkah antisipatif, industri otomotif lokal berisiko tertinggal dalam persaingan global yang semakin ketat.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post