Ekonesia – Kisah inspiratif Nabi Nuh yang melegenda ternyata bukan hanya sekadar cerita masa lalu. Bagi David Steward, seorang pengusaha ulung asal Amerika Serikat, narasi tersebut justru menjadi pilar utama yang mengantarkannya meraih kekayaan hingga triliunan rupiah. Steward, yang kini menjadi salah satu figur kulit hitam paling makmur di jagat raya, berhasil membangun kerajaan bisnisnya dengan berpegang teguh pada keyakinan, meski harus menghadapi badai keraguan dan cemoohan.
Baca juga: Pupuk Kaltim Gaspol! Kejar Nol Emisi, Petani Makin Happy
Menurut data terkini dari Forbes, kekayaan bersih David Steward saat ini menyentuh angka US$12,4 miliar, setara dengan lebih dari Rp208 triliun. Pundi-pundi kekayaan fantastis ini bersumber dari World Wide Technology (WWT), perusahaan teknologi yang ia dirikan pada tahun 1990 dan kini ia pimpin sebagai chairman. Dari rintisan kecil, WWT telah bertransformasi menjadi raksasa penyedia solusi teknologi berskala global, mempekerjakan lebih dari 12.000 karyawan dan mencatat omzet tahunan yang fantastis, mencapai sekitar US$20 miliar.

Namun, perjalanan Steward menuju puncak kesuksesan tidaklah mulus. Ia tumbuh besar di tengah suasana diskriminasi rasial yang kental di Amerika Serikat. Keluarga besarnya yang terdiri dari tujuh bersaudara hidup sederhana, di mana sang ayah harus banting tulang melakoni berbagai pekerjaan, mulai dari mekanik hingga petugas kebersihan dan pengangkut sampah, demi menafkahi keluarga.
Baca juga: Spanyol vs Irak Pesta Gol La Roja Terjadi
Setelah menyelesaikan pendidikan di Central Missouri University, Steward sempat meniti karier di bidang penjualan untuk perusahaan-perusahaan besar seperti Missouri Pacific Railroad, Union Pacific, dan FedEx. Namun, ia kemudian mengambil keputusan berani untuk meninggalkan zona nyaman pekerjaan kantoran, memilih jalur wirausaha untuk membangun bisnisnya sendiri.
Pada tahun 1990, bersama Jim Kavanaugh, Steward mendirikan WWT. Kala itu, fokus perusahaan adalah distribusi perangkat keras, perangkat lunak, dan layanan teknologi, termasuk melayani kebutuhan pemerintah federal AS. Keputusan ini diambil di era di mana industri teknologi belum sepesat dan semasif saat ini. Steward memiliki keyakinan teguh bahwa teknologi komputer akan memegang peran krusial di masa depan, sebuah visi yang kala itu mungkin dianggap utopis oleh banyak orang.
Dalam menapaki jalur bisnisnya, Steward tak luput dihantam gelombang keraguan dan ejekan. Namun, justru dari sinilah ia menemukan pelajaran berharga dari kisah Nabi Nuh. Dalam riwayat tersebut, Nabi Nuh diperintahkan untuk membangun bahtera raksasa sebelum datangnya banjir besar, sebuah perintah yang ia kerjakan dengan gigih meski dicemooh masyarakat yang tak melihat tanda-tanda bencana.
Bagi Steward, kisah itu mengajarkan esensi untuk tetap teguh pada apa yang diyakini benar, meskipun orang lain tidak memahami atau bahkan menertawakannya. "Ketika kamu memendam ambisi besar, seringkali orang-orang akan mencibir. Mereka akan menjadi yang terdepan dalam menyuarakan penilaian dan keraguan, seolah-olah kamu tak pantas mengejar impian dan cita-citamu," ungkap Steward kepada Forbes pada tahun 2004. Prinsip inilah yang kemudian menjadi kompas utama Steward dalam mengembangkan WWT.
Seiring waktu, ketekunan dan keyakinan Steward mulai menunjukkan buahnya. WWT berkembang pesat, bertransformasi menjadi salah satu konglomerat teknologi terbesar di Amerika Serikat, bahkan menyandang predikat sebagai perusahaan milik warga kulit hitam terbesar di negeri Paman Sam. Kini, WWT dipercaya menangani berbagai solusi teknologi untuk korporasi raksasa seperti Citi dan Verizon.
Kisah David Steward adalah bukti nyata bagaimana sebuah keyakinan terhadap visi, dipadukan dengan ketekunan luar biasa, dapat menjadi modal paling berharga dalam membangun sebuah imperium bisnis. Dari latar belakang keluarga sederhana dan menghadapi diskriminasi sejak kecil, ia berhasil mendirikan perusahaan teknologi dengan pendapatan puluhan miliar dolar dan mengumpulkan kekayaan pribadi yang menakjubkan.











Tinggalkan komentar