MU Berubah Drastis Ikuti Jejak Raksasa Eropa

El-Shinta

21 Agustus 2026

3
Min Read

Ekonesia – Manchester United, salah satu klub raksasa Liga Inggris, kini menunjukkan pergeseran signifikan dalam strategi belanja pemainnya. Era transfer yang identik dengan gelontoran dana fantastis dan perburuan nama besar seolah mulai ditinggalkan. Kini, Setan Merah memilih pendekatan yang lebih terukur, mencari talenta yang benar-benar sepadan dengan nilai yang dibayarkan, sebuah pola yang mengingatkan pada transformasi yang pernah dijalani klub adidaya Prancis.

Dulu, Paris Saint-Germain atau PSG dikenal sebagai tim yang tak segan mengucurkan dana jumbo untuk memboyong bintang-bintang top dunia. Transfer Neymar dan Kylian Mbappe ke Parc des Princes menjadi bukti nyata dominasi finansial mereka di pasar. Meskipun sukses merajai kompetisi domestik, ambisi utama mereka, yaitu Liga Champions, belum juga terwujud. Perlahan, PSG mulai mengubah haluan. Mereka meninggalkan gaya transfer yang glamor dan beralih ke strategi yang lebih pragmatis. Ketergantungan pada pembelian supermahal dikurangi, fokus beralih pada pemain dengan rentang harga 40 hingga 80 juta euro, atau sekitar Rp760 miliar sampai Rp1,52 triliun.

MU Berubah Drastis Ikuti Jejak Raksasa Eropa
Gambar Istimewa : gilabola.com

Hasil dari pendekatan baru ini cukup terlihat. Dalam skuad PSG yang berhasil menjuarai Liga Champions, Khvicha Kvaratskhelia menjadi rekrutan termahal dengan banderol 80 juta euro, setara Rp1,52 triliun. Angka tersebut bahkan masih di bawah ambang batas transfer yang telah dilampaui oleh lima dari enam klub tradisional Premier League dalam setahun terakhir. Manchester United, kini, menjadi pengecualian yang menarik perhatian.

Perubahan filosofi ini membuat pergerakan Manchester United di bursa transfer terasa lebih hati-hati. Klub kini tampak lebih selektif dalam menilai harga dan kualitas pemain yang akan direkrut. Strategi transfer Setan Merah berada di bawah arahan direktur sepak bola Jason Wilcox dan direktur rekrutmen Christopher Vivell. Mereka tidak lagi menjadikan popularitas nama sebagai patokan utama dalam setiap pembelian.

Contohnya, United membiarkan Elliot Anderson bergabung dengan Manchester City meski harganya mencapai 135 juta euro atau sekitar Rp2,57 triliun, karena dinilai terlalu tinggi untuk pasar musim panas ini. Daripada ikut dalam persaingan harga yang membabi buta, United memilih jalur berbeda. Meski demikian, mereka tetap bersedia menggelontorkan dana besar untuk pemain yang dianggap tepat, seperti Benjamin Sesko, Bryan Mbeumo, dan Matheus Cunha, yang masing-masing menelan biaya sekitar 75 juta euro atau Rp1,43 triliun. Ketiganya telah membuktikan mengapa investasi tersebut layak dikeluarkan. Bahkan, Senne Lammens disebut sebagai salah satu transfer paling jitu musim ini setelah didatangkan dengan harga 21 juta euro, sekitar Rp399 miliar. Ini adalah gambaran yang sangat berbeda dari Manchester United yang bertahun-tahun dikenal sebagai tim dengan kantong tebal.

Musim ini, United juga merealisasikan transfer Youri Tielemans dan Andrey Santos dari Aston Villa serta Chelsea. Total biaya untuk kedua pemain mencapai 97 juta euro atau sekitar Rp1,84 triliun. Secara teori, transaksi ini dinilai lebih cerdas dibandingkan beberapa aktivitas transfer Manchester City, Tottenham, bahkan Arsenal. Namun, tantangan tetap ada. Kekuatan finansial Premier League membuat mendapatkan pemain dengan harga miring bukan pekerjaan mudah. Status Manchester United sebagai klub yang secara historis gemar mengeluarkan uang juga seringkali menjadi alasan bagi klub penjual untuk meminta harga maksimal. Oleh karena itu, strategi baru United bukan berarti mereka tidak akan membayar mahal, melainkan dana tersebut harus dialokasikan kepada pemain yang memang dianggap paling sesuai.

Perubahan terpenting mungkin terletak pada tujuan akhirnya. Manchester United tidak lagi berambisi mendominasi pasar transfer dengan merekrut pemain paling terkenal atau menghabiskan uang terbanyak. Mereka ingin setiap pembelian memiliki justifikasi yang jelas dan memberikan nilai tambah bagi tim. Pendekatan ini memang bisa membuat proses transfer berjalan lebih lambat dan terkadang membuat United kehilangan target buruan. Namun, strategi inilah yang sebelumnya membantu PSG bertransformasi dari klub yang identik dengan pembelian mewah menjadi tim yang lebih cermat dalam membangun fondasi skuadnya.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post