Ekonesia – Gelombang tekanan jual menerjang pasar saham Asia pada Selasa 28 Juli 2026 menciptakan kepanikan di kalangan investor. Indeks Kospi Korea Selatan menjadi sorotan utama setelah anjlok lebih dari 10 persen, memicu penghentian sementara perdagangan. Peristiwa dramatis ini dipicu oleh aksi jual masif di sektor semikonduktor yang kini menjadi episentrum kekhawatiran global.
Baca juga: Harta Karun Emas 30 Ribu Ton Banten Terkuak
Drama di bursa Korea Selatan dimulai saat Korea Exchange (KRX) memberlakukan suspensi perdagangan pada pukul 10.13 waktu setempat. Ini terjadi setelah Kospi terjun bebas 8,02 persen, mencapai level 6.213,51 dari penutupan sebelumnya 6.755,75. Aturan jeda transaksi otomatis aktif jika indeks acuan anjlok minimal 8 persen dan bertahan selama satu menit. Selama 20 menit berikutnya, seluruh aktivitas perdagangan saham dihentikan, kecuali pembatalan order. Setelah jeda, perdagangan dibuka kembali melalui mekanisme lelang harga tunggal selama 10 menit, namun tekanan tak terbendung, menyeret Kospi ke koreksi lebih dari 10 persen.

Penurunan tajam ini tak lepas dari sentimen negatif yang menyelimuti saham-saham teknologi global, terutama di tengah meningkatnya keraguan terhadap prospek investasi di industri kecerdasan buatan (AI). Setelah dua tahun mengalami reli fantastis, para investor mulai mempertanyakan apakah gelontoran dana raksasa ke sektor AI akan mampu menghasilkan keuntungan yang sepadan.
Baca juga: Drama Brawijaya Persita Tumpul Persik Pesta
Kecemasan ini kian memuncak menyusul laporan Wall Street Journal yang menyebut Nvidia sedang bernegosiasi untuk memberikan jaminan pendanaan sekitar US$250 miliar kepada OpenAI. Dana tersebut rencananya akan digunakan untuk proyek pembangunan pusat data berskala besar. Kabar ini sontak membuat saham Nvidia terpangkas sekitar 5 persen pada perdagangan sebelumnya, diikuti oleh koreksi 2,2 persen pada Philadelphia Semiconductor Index (SOX) di Wall Street.
Di sisi lain, laporan dari The Information menambah daftar kekhawatiran. Perusahaan Tiongkok, Shanghai Yuliangsheng, dikabarkan telah memulai produksi massal mesin litografi immersion deep ultraviolet (DUV). Teknologi vital dalam pembuatan chip ini selama ini didominasi oleh perusahaan Belanda, ASML. Berita ini memicu spekulasi bahwa Tiongkok semakin cepat memangkas kesenjangan dalam industri semikonduktor, yang kemudian menyeret saham ASML anjlok lebih dari 8 persen di Amsterdam dan memicu aksi jual di seluruh saham chip Asia.
Dampak langsung terasa di Korea Selatan, dua raksasa semikonduktor, SK Hynix dan Samsung Electronics, masing-masing merosot sekitar 13 persen, menjadi kontributor utama anjloknya Kospi. Kedua saham tersebut kini telah kehilangan hampir 50 persen dari rekor tertingginya yang dicapai bulan lalu, sementara Kospi sendiri telah terkoreksi lebih dari 30 persen dari level puncaknya.
Gelombang merah juga menyapu pasar Asia lainnya. Di Jepang, saham produsen memori Kioxia anjlok 18 persen, sementara Advantest dan Tokyo Electron masing-masing merosot sekitar 11 persen. Di Taiwan, saham TSMC juga tertekan, menyeret indeks Taiex turun lebih dari 4 persen. Indeks Nikkei 225 Jepang terpangkas 4,24 persen ke 62.177,31, dan Taiex Taiwan melemah 4,21 persen ke 41.798,23.
Di daratan Tiongkok, indeks Shenzhen Component turun 3,42 persen ke 13.664,80, sedangkan Shanghai Composite melemah 0,98 persen ke 3.820,52. Saham CXMT Corp, yang sehari sebelumnya melonjak 466 persen saat debut di Bursa Shanghai, juga terkoreksi sekitar 7 persen pada perdagangan pagi. Tekanan serupa terasa di Asia Tenggara, dengan PSEi Filipina melemah 1,21 persen, FTSE Bursa Malaysia KLCI turun 0,29 persen, dan Straits Times Index (STI) Singapura turun 0,20 persen. Hanya Hang Seng Hong Kong yang menguat tipis 0,06 persen dan NZX 50 Selandia Baru naik 0,26 persen.
Di luar sektor teknologi, pasar juga mencermati dinamika geopolitik dan kebijakan moneter Amerika Serikat. Harga minyak Brent melanjutkan penurunannya setelah sehari sebelumnya anjlok hampir 9 persen, seiring meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden Donald Trump menyatakan pembicaraan dengan Iran berjalan positif dan terdapat "peluang besar" tercapainya kesepakatan. Meskipun harga minyak turun dan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun melemah ke sekitar 4,64 persen, pasar masih memperkirakan sekitar 38 persen peluang Federal Reserve menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan pekan ini.









Tinggalkan komentar