Dana Asing Serbu Indonesia di Tengah Badai Asia

Agus Riyadi

18 Juli 2026

3
Min Read

Ekonesia – Di tengah gejolak pasar saham Asia yang memerah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru menunjukkan ketangguhan luar biasa. Saat bursa-bursa utama di kawasan seperti Jepang dan Korea Selatan terhuyung, pasar modal Indonesia justru melaju kencang, memicu pertanyaan besar: sentimen apa yang membuat investor asing berbondong-bondong mengalirkan dananya ke Tanah Air?

Pada penutupan perdagangan Jumat (17/7/2026), IHSG berhasil mengakhiri sesi dengan kenaikan signifikan 67,32 poin atau setara 1,1%, bertengger kokoh di level 6.173,53. Pergerakan ini ditopang oleh dominasi saham-saham yang menguat, mencapai 363 emiten, berbanding 274 yang melemah dan 328 yang stagnan. Aktivitas perdagangan terpantau sangat ramai, dengan total nilai transaksi menembus angka Rp16,32 triliun. Sebanyak 24,04 miliar saham berpindah tangan dalam 1,99 juta kali transaksi, mendorong kapitalisasi pasar melesat hingga Rp10.749 triliun. Sektor perbankan menjadi primadona, menarik perhatian besar dari para investor.

Dana Asing Serbu Indonesia di Tengah Badai Asia
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Arus modal asing menjadi motor penggerak utama di balik performa impresif IHSG. Investor mancanegara mencatatkan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp638,6 miliar di seluruh pasar, dengan saham-saham bank raksasa menjadi target utama.

Menanggapi fenomena ini, Analis Panin Sekuritas, Elandry Pratama, mengungkapkan bahwa masih terlalu dini untuk menyimpulkan adanya rotasi dana besar-besaran dari Jepang atau Korea Selatan ke Indonesia. Menurutnya, tekanan yang dialami pasar di kedua negara tersebut lebih banyak bersumber dari sentimen negatif yang menyelimuti sektor teknologi global. Namun, Elandry tidak menampik adanya potensi penyesuaian portofolio secara global menuju pasar-pasar dengan valuasi yang lebih menarik, dan Indonesia termasuk di antaranya. "Secara global memang ada potensi portfolio rebalancing ke pasar yang valuasinya lebih menarik," jelas Elandry.

Senada dengan pandangan tersebut, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, melihat peluang perpindahan dana ke Indonesia sangat terbuka. Liza menyoroti rencana kenaikan suku bunga di Korea Selatan sebagai potensi sentimen negatif bagi pasar saham negara tersebut, yang sepanjang tahun ini telah mencatatkan kinerja cemerlang. "Tentu saja bisa terjadi. Korea Selatan berencana menaikkan suku bunga, ini akan menjadi sentimen kurang baik bagi pasar saham mereka yang sebelumnya sangat perkasa tahun ini," kata Liza.

Sebagai gambaran kontras, bursa saham di kawasan Asia-Pasifik mengalami tekanan jual yang mendalam pada hari Jumat. Penurunan ini dipimpin oleh saham-saham semikonduktor dan teknologi. Indeks Nikkei 225 Jepang anjlok tajam 4%, S&P/ASX 200 Australia terkoreksi 0,5%, dan indeks CSI 300 China merosot 3,6%. Sementara itu, bursa Korea Selatan libur nasional.

Gelombang tekanan pada saham teknologi bahkan merembet hingga bursa Eropa. Saham-saham perusahaan semikonduktor terkemuka seperti ASML, ASMI, STMicroelectronics, Infineon, dan BE Semiconductor kompak menunjukkan koreksi tajam di awal perdagangan, mengindikasikan berlanjutnya sentimen negatif terhadap sektor kecerdasan buatan (AI) dan chip secara global.

Ikuti kami di Google News

Tinggalkan komentar

Related Post