Ekonesia – Langkah penegakan hukum dalam pusaran kasus gagal bayar industri asuransi di tanah air terus bergulir tanpa henti. Di tengah proses yang penuh tantangan ini, dua figur sentral yang sempat menyita perhatian publik kini kembali menjadi buah bibir: Evelina F. Pietruschka, mantan petinggi Wanaartha Life yang kini jadi buronan Interpol, serta Michael Steven, tokoh kunci di balik Kresna Life yang baru-baru ini tersandung masalah hukum.
Baca juga: Daihatsu Siapkan Kejutan Hybrid di GIIAS 2025!
Sorotan tajam tertuju pada Evelina F. Pietruschka. Sejak kasus gagal bayar Wanaartha Life mencuat pada 2019, ia telah ditetapkan sebagai buronan. Ironisnya, di tengah penderitaan ribuan nasabah, Evelina disinyalir menikmati kehidupan serba mewah di Amerika Serikat. Sebelum terjerat jerat hukum, Evelina adalah sosok yang sangat disegani dalam kancah asuransi nasional. Jejak kariernya mencakup posisi Vice Chairman dan Chairman Dewan Asuransi Indonesia (DAI), Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) selama dua periode, hingga Sekretaris Jenderal ASEAN Insurance Council. Ia juga menyandang gelar master dari Pepperdine University, California.

Namun, semua prestise itu kini berganti status buronan. Pihak kepolisian Republik Indonesia, melalui National Central Bureau (NCB) Interpol, tak henti memburu Evelina beserta sanak keluarganya yang diduga bersembunyi di Negeri Paman Sam. Sekretaris NCB Interpol Indonesia, Untung Widyatmoko, mengungkapkan bahwa pengejaran terus dilakukan. Bahkan, salah satu anak Evelina, Rezanantha Pietruschka, sempat diamankan di California, meski kemudian dibebaskan setelah membayar uang jaminan.
Baca juga: Persib Menang Tipis Tapi Statistik Bikin Geleng
"Para pelaku kejahatan ekonomi ini, menurutnya, umumnya bergelimang harta dan mampu menyewa pengacara terbaik. Di situlah mereka kerap mengajukan jaminan dan menantang kami, dengan dalih ini perkara perdata, bukan pidana," ujar Untung usai konferensi pers di Tangerang, akhir September lalu. Ia menegaskan, koordinasi intensif dengan otoritas penegak hukum di Amerika Serikat, seperti U.S. Department of Homeland Security, U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE), hingga Federal Bureau of Investigation (FBI), terus diperkuat. "Jangan kira kami berdiam diri. Kami terus bekerja," tandasnya.
Upaya pencarian keluarga Pietruschka juga dilakukan oleh para korban Wanaartha Life. Pada Oktober 2023, seorang nasabah yang telah menunggu kepastian selama lebih dari empat tahun, nekat terbang langsung ke California. Dalam sebuah rekaman video, nasabah tersebut mendatangi kawasan permukiman elite di Beverly Hills. Namun, upayanya dihentikan petugas keamanan yang kemudian menghubungi penghuni rumah. "Yang bicara itu Evelina. Dia menolak saya dan tidak mengizinkan saya masuk," tutur nasabah tersebut dalam video. Data dari Clustrmaps, sebuah situs yang menyajikan informasi publik, mengindikasikan keluarga Pietruschka memiliki properti mewah di Beverly Hills, dengan nilai ditaksir mencapai jutaan dolar AS.
Di sisi lain, perkembangan signifikan juga terjadi pada kasus Kresna Life. Michael Steven, yang sebelumnya menduduki posisi komisaris di PT Quantum Clovera Investama Tbk (KREN), kini telah ditangkap terkait dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) dalam kasus Kresna Life. Meskipun demikian, manajemen KREN menegaskan bahwa operasional perusahaan tetap berjalan normal dan tidak terpengaruh secara material.
"Sampai dengan tanggal penyampaian penjelasan ini, kegiatan operasional dan pengelolaan Perseroan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Perseroan menganggap bahwa pemberitahuan tersebut tidak menimbulkan dampak material baru terhadap kelangsungan usaha Perseroan," demikian pernyataan KREN dalam keterbukaan informasi BEI, Kamis (25/6/2026). Manajemen KREN masih terus menelaah dan berkoordinasi internal untuk memastikan tidak ada keterkaitan antara perkara Michael Steven dengan perusahaan atau anak usahanya.
Michael Steven dikenal sebagai otak di balik Grup Kresna yang menaungi sejumlah entitas di pasar modal. Ia juga merupakan sosok sentral di balik PT Asuransi Jiwa Kresna, perusahaan yang sebelumnya mengalami gagal bayar sekitar Rp6,4 triliun, merugikan sekitar 8.900 pemegang polis.









Tinggalkan komentar