Ekonesia – Ketua Umum Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial (KORIKA), Hammam Riza, menegaskan tahun 2026 akan menjadi titik krusial bagi Indonesia. Pada tahun tersebut, pengembangan dan adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) diproyeksikan menjadi fondasi utama yang akan menempatkan Republik Indonesia sebagai lokomotif ekonomi digital di kawasan. Visi ini bukan sekadar ambisi, melainkan sebuah peta jalan strategis untuk memperkuat daya saing bangsa di kancah global.
Baca juga: Misteri Air India: Boeing 787 Jatuh Usai Terbang!
Potensi Indonesia dalam ranah digital memang tak bisa dipandang sebelah mata. Dengan lebih dari 230 juta pengguna internet, nilai ekonomi digital nasional telah menembus angka 100 miliar dolar Amerika Serikat. Angka ini diprediksi akan melonjak signifikan, bahkan berpotensi mencapai 180 miliar dolar Amerika Serikat jika ekosistem AI nasional dapat dikembangkan secara optimal. Proyeksi fantastis ini menjadi pemicu utama bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk segera mengambil langkah konkret.

Untuk mewujudkan potensi tersebut, Indonesia dihadapkan pada tantangan besar yang menuntut solusi komprehensif. Penguatan infrastruktur digital menjadi prasyarat mutlak, diikuti dengan pengembangan talenta dan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni di bidang teknologi. Selain itu, inovasi di berbagai sektor juga harus terus digalakkan agar teknologi AI tidak hanya menjadi pelengkap, melainkan pendorong utama penciptaan nilai ekonomi baru yang berkelanjutan bagi bangsa. Masa depan ekonomi digital Indonesia sangat bergantung pada kesiapan kita menghadapi era kecerdasan buatan.
Baca juga: PEHA Bangkit Dividen Mengalir Investor Pesta











Tinggalkan komentar